Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Arab Saudi Dilanda Suhu 50 Derajat Celsius, Warga Pilih Bertahan di Ruangan

Kompas.com, 15 Juli 2026, 10:54 WIB
Farid Assifa

Editor

Sumber Arab News

KOMPAS.com - Gelombang panas ekstrem melanda Provinsi Timur Arab Saudi dengan suhu udara mencapai 50 derajat Celsius, tertinggi sepanjang tahun ini. Kondisi tersebut memaksa warga mengubah pola aktivitas sehari-hari demi menghindari risiko kesehatan akibat cuaca yang sangat panas.

Pusat Meteorologi Nasional Arab Saudi (National Center for Meteorology/NCM) mencatat suhu tertinggi terjadi di Al-Ahsa pada Selasa (14/7/2026). Sebelumnya, rekor suhu tertinggi tahun ini tercatat pada 29 Mei dengan 49,3 derajat Celsius.

NCM memperingatkan bahwa suhu antara 49 hingga 50 derajat Celsius juga berpotensi melanda sejumlah wilayah lain di Provinsi Timur, termasuk Dammam, Dhahran, Al Khobar, Jubail, Qatif, Ras Tanura, Hafr Al-Batin, Al-Khafji, Al-Nairyah, Qaryat Al-Ulya, Buqayq, dan sekitarnya.

Baca juga: Gelombang Panas Landa Arab Saudi, Suhu di Makkah Diprediksi 48 Derajat

Selain panas ekstrem, cuaca juga diperkirakan disertai angin yang membawa debu sehingga mengurangi jarak pandang di jalan raya maupun kawasan terbuka.

Warga Hindari Aktivitas Saat Siang Hari

Cuaca ekstrem membuat banyak warga menyesuaikan jadwal aktivitas agar tidak terlalu lama berada di luar ruangan.

Seorang warga Provinsi Timur, Rahaf Al-Madani, mengaku selalu merencanakan kegiatannya sejak awal agar tidak harus berjalan jauh di bawah terik matahari.

"Saya berusaha tetap berada di tempat teduh ketika berada di luar. Saya juga mengatur aktivitas agar bisa memarkir kendaraan sedekat mungkin dengan tujuan sehingga waktu berjalan kaki bisa diminimalkan," ujarnya.

Rahaf juga menghindari membuat janji atau menghadiri pertemuan pada waktu suhu sedang mencapai puncaknya.

Menurutnya, penggunaan tabir surya, topi, payung pelindung sinar ultraviolet (UV), kacamata hitam, serta memperbanyak minum air menjadi langkah sederhana namun penting untuk mengurangi dampak panas ekstrem.

Hal senada disampaikan warga lainnya, Raghad Gasem, yang memilih lebih banyak beraktivitas di dalam ruangan.

"Saya sebisa mungkin tetap berada di dalam rumah dan menghindari keluar saat suhu sedang paling tinggi. Saya juga memastikan tubuh tetap terhidrasi dan cukup makan," katanya.

Aktivitas Beralih ke Dalam Ruangan

Meski aktivitas luar ruangan menjadi terbatas, kehidupan sosial masyarakat tetap berlangsung dengan memanfaatkan berbagai fasilitas berpendingin udara.

Rahaf mengatakan pusat perbelanjaan, kafe, bioskop, hingga arena olahraga dalam ruangan seperti padel menjadi pilihan masyarakat untuk menghabiskan waktu selama musim panas.

Menurutnya, berjalan santai di luar ruangan baru terasa nyaman ketika matahari mulai terbenam dan suhu udara menurun pada malam hari.

Raghad menambahkan, banyaknya fasilitas rekreasi dalam ruangan di Arab Saudi membantu masyarakat tetap produktif sekaligus mengurangi paparan cuaca panas.

Baca juga: Gelombang Panas Melanda UEA, Suhu Diprediksi Tembus 46 Derajat Celsius

Suhu Tinggi Diperkirakan Berlanjut

Sebelumnya, National Center for Meteorology telah memprediksi suhu udara di Arab Saudi selama Juli hingga Agustus akan berada di atas rata-rata normal.

Selain itu, curah hujan di Provinsi Timur diperkirakan berada di bawah rata-rata sehingga potensi cuaca panas dan kering diperkirakan masih akan mendominasi dalam beberapa pekan ke depan.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar