Editor
KOMPAS.com - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi epicentrum baru peradaban Islam modern di masa depan.
Optimisme tersebut didasarkan pada sejumlah keunggulan yang dimiliki Indonesia, mulai dari stabilitas ekonomi, politik, hingga karakter masyarakat Muslim yang moderat.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi modal penting di tengah dinamika geopolitik yang terjadi di berbagai kawasan dunia.
Baca juga: Sekjen Kemenag: Poros Intim IV Jadi Upaya PTKIN Perkuat Literasi Kesehatan Mahasiswa
Karena itu, Indonesia perlu mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu mengintegrasikan keilmuan Islam dengan sains modern.
Pernyataan tersebut disampaikan Nasaruddin Umar saat membuka Seminar Nasional Ikatan Alumni Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (IKA PTKIN) di Jakarta, Selasa (14/7/2026).
Baca juga: Link Pengumuman Hasil UM-PTKIN 2026 Dibuka 30 Juni, Peserta Finalisasi Tembus 111.353 Orang
Menag mengatakan banyak pihak menaruh harapan agar Indonesia menjadi pusat lahirnya peradaban Islam modern di masa mendatang.
Menurutnya, pusat perkembangan peradaban Islam tidak lagi harus berada di kawasan Timur Tengah, melainkan dapat berkembang di Indonesia.
“Maka itu banyak sekali ekspektasi ke depan ini membayangkan Indonesia itu akan menjadi kekuatan baru munculnya peradaban baru, bukan lagi di Timur Tengah tetapi ini tuh akan pindah ke Indonesia yang akan datang," ujar Menag.
Menurutnya, salah satu faktor utama yang mendukung optimisme tersebut adalah ketahanan makroekonomi Indonesia yang dinilai tetap kuat.
Di tengah ketidakpastian yang masih terjadi di kawasan Timur Tengah akibat konflik berkepanjangan, Indonesia mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen dengan tingkat inflasi yang relatif rendah dan terkendali.
"Pemikiran yang tenang itu hanya akan bisa lahir di dalam negara yang tenang, yang stabilitas ekonominya kuat,” kata Menag.
Selain ekonomi, ia menyebut karakter umat Islam Indonesia yang moderat, jaminan hak asasi manusia, stabilitas politik nasional, serta bonus demografi menjadi faktor penting yang mendukung lahirnya peradaban baru.
Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, Nasaruddin menilai alumni Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) harus meningkatkan kualitas dan kapasitas keilmuan.
Ia mendorong adanya reorientasi kompetensi agar lulusan PTKIN tidak hanya menguasai ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga memahami perkembangan sains, teknologi, dan dinamika geopolitik.
"Kita sebagai alumni UIN harus punya kesadaran geopolitik yang tinggi juga. Kita jangan hanya mahir membaca kitab kuning, tetapi kitab putih juga. Tidak kompatibel sebagai alumni UIN kalau kita tidak perlu menguasai situasi regional dan nasional kita," kata Menag.
Menag juga mengarahkan lembaga pendidikan keagamaan di bawah Kementerian Agama untuk melahirkan lebih banyak inovator, ilmuwan, dan peneliti.
Menurutnya, kedaulatan ilmu pengetahuan dapat dibangun melalui perpaduan antara semangat menuntut ilmu sebagaimana terkandung dalam perintah iqra' dengan nilai-nilai ketuhanan yang terkandung dalam bismi rabbik, sebagaimana dicontohkan pada masa kejayaan Islam (The Golden Age of Islam).
"Kalau Indonesia ingin menjadi epicentrum peradaban dunia modern, maka tidak ada cara lain kita harus melahirkan seribu BJ Habibie di Indonesia," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang