Editor
KOMPAS.com - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengajak masyarakat internasional bersatu mendorong penghentian konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas.
Menurut PBNU, eskalasi perang tidak hanya berdampak pada negara yang terlibat, tetapi juga mengancam stabilitas kawasan dan dunia.
Organisasi tersebut menilai penyelesaian melalui dialog dan perundingan menjadi langkah terbaik untuk mengakhiri kekerasan.
Baca juga: Ketua Umum PBNU: Muktamar Ke-35 NU Siap Digelar, Bahas Kepentingan dan Kemaslahatan Bangsa
Seruan ini juga sejalan dengan sikap Pemerintah Indonesia yang terus mendorong penyelesaian damai.
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya mengajak masyarakat internasional untuk berkonsolidasi mendesak seluruh pihak menghentikan aksi kekerasan.
Baca juga: Jelang Muktamar NU ke-35, Syuriyah PCNU Lampung Desak Calon Ketua Umum PBNU Bebas Jabatan Politik
“Saya sejak awal menyerukan masyarakat internasional seluruhnya untuk berkonsolidasi mendesak semua pihak menghentikan kekerasan," ujar Gus Yahya dalam konferensi pers di Gedung PBNU, Jakarta, Selasa (14/7/2026).
Gus Yahya secara khusus meminta Amerika Serikat dan Israel menghentikan tindakan kekerasan yang dinilai berdampak luas terhadap masyarakat internasional.
Ia juga mengajak dunia Islam, negara-negara Arab, dan kawasan Timur Tengah untuk mengedepankan perdamaian demi keselamatan dan kemaslahatan bersama.
“Marilah kita bicara tentang perdamaian, keselamatan, dan kesejahteraan bersama. Hentikan kekerasan sekarang juga. Semuanya harus berhenti dari kekerasan yang selama ini diperbuat,” kata dia.
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat meski sebelumnya kedua negara telah menyepakati perdamaian melalui Memorandum Islamabad yang ditandatangani pada 17 Juni 2026.
Ketegangan kembali terjadi sejak 7 Juli 2026 setelah muncul perselisihan terkait lalu lintas kapal niaga di Selat Hormuz.
Amerika Serikat kemudian melancarkan serangkaian serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran. Sebagai balasan, Teheran menyerang sejumlah aset milik Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Serangan terbaru dilakukan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) pada Senin (13/7/2026) dengan alasan melemahkan kemampuan Iran dalam melakukan serangan terhadap pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Seruan PBNU sejalan dengan sikap Pemerintah Indonesia yang meminta Amerika Serikat dan Iran tetap berpegang pada nota kesepahaman (MoU) perdamaian yang ditandatangani di Islamabad.
Menteri Luar Negeri RI Sugiono berharap kedua negara menghormati kesepakatan tersebut sebagai dasar untuk mengakhiri permusuhan.
“Sudah ada MoU kemarin, kita berharap agar dokumen tersebut sama-sama bisa terus dihormati,” kata Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono.
Pemerintah Indonesia menilai penghentian perang dan pemulihan perdamaian di kawasan Teluk sangat penting karena dinamika di wilayah tersebut akan berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat Indonesia.
Sugiono juga menegaskan posisi Indonesia tetap konsisten memperjuangkan perdamaian dan stabilitas kawasan dalam menyikapi konflik Amerika Serikat dan Iran.
Dalam kesempatan yang sama, Gus Yahya mengungkapkan dirinya sempat bertemu Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf saat menjadi salah satu delegasi Indonesia yang menghadiri prosesi penghormatan pemakaman Ayatollah Ali Khamenei.
Pada pertemuan tersebut, sesuai pesan Presiden Prabowo Subianto, Gus Yahya menyampaikan harapan agar persoalan yang memicu konflik dapat diselesaikan melalui jalur diplomasi dan perundingan damai.
Namun, menurut Gus Yahya, Ketua Parlemen Iran belum dapat langsung menyatakan persetujuan atas harapan tersebut, meski menyambut baik usulan yang disampaikan Indonesia.
“Tetapi jelas ini perlu iktikad dan inisiatif dari kedua belah pihak, perlu inisiatif dua arah,” kata dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang