Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

250 Santri Masuk Istana Presiden, Kemenag Tanamkan Mimpi Jadi Pemimpin Bangsa

Kompas.com, 15 Juli 2026, 09:14 WIB
Farid Assifa

Editor

Sumber Kemenag

KOMPAS.com – Sebanyak 250 santri dan santriwati dari dua pondok pesantren merasakan pengalaman yang tak biasa dengan mengunjungi lingkungan Istana Kepresidenan Jakarta. Melalui program "Istana untuk Anak Sekolah", Kementerian Agama (Kemenag) bersama Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) membuka akses bagi para santri untuk mengenal lebih dekat pusat pemerintahan Indonesia.

Para santri yang berasal dari Pondok Pesantren Al-Wathoniah dan Pondok Pesantren Asshiddiqiyah itu mengikuti kegiatan di Aula Hoegeng, Gedung Sekretariat Kabinet, Selasa (14/7/2026).

Mereka diajak melihat secara langsung bagaimana proses pemerintahan dijalankan serta mengenal tugas berbagai lembaga negara.

Baca juga: Kemenag Ungkap Potensi 10 Juta Santri sebagai Kekuatan SDM Indonesia

Direktur Pondok Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said, mengatakan program tersebut menjadi bentuk nyata perhatian negara kepada kalangan pesantren sekaligus upaya menghilangkan kesan bahwa Istana Kepresidenan merupakan ruang yang jauh dari kehidupan santri.

"Selama ini, lingkungan Istana Kepresidenan mungkin terkesan jauh bagi anak-anak di pondok pesantren. Melalui program spesifik 'Istana untuk Anak Sekolah' ini, Kemenag dan Mensesneg ingin mendobrak sekat tersebut. Kita tunjukkan bahwa negara memberikan ruang dan perhatian yang sama besar bagi santri," ujar Basnang.

Menurutnya, kunjungan ini tidak hanya menjadi wisata edukasi, tetapi juga sarana membangun cita-cita besar para santri untuk mengambil peran strategis dalam kehidupan berbangsa.

Basnang mengingatkan bahwa pesantren memiliki sejarah panjang dalam perjuangan mendirikan dan mempertahankan Republik Indonesia. Karena itu, generasi santri masa kini diharapkan tidak hanya memahami sejarah, tetapi juga menjadi bagian dari masa depan kepemimpinan nasional.

"Pesantren punya sejarah panjang dalam mendirikan dan mempertahankan republik ini. Hari ini kita ingin menanamkan rasa memiliki yang kuat. Kita ingin menumbuhkan motivasi mereka, agar di masa depan tidak hanya menjadi saksi sejarah atau berkunjung ke sini saja, tetapi ada santri-santri yang duduk di Istana ini sebagai pemimpin, menteri, atau pembuat kebijakan bangsa," tegasnya.

Selama berada di kompleks Istana, para santri mengikuti paparan interaktif mengenai mekanisme kerja kabinet, fungsi kelembagaan negara, hingga nilai-nilai kepemimpinan nasional.

Materi disampaikan oleh Kepala Biro Humas Kemensetneg, Faisal Fahmi, bersama Pranata Humas Ahli Madya Kemensetneg, Efa Febryana.

Faisal berharap kehadiran para santri membawa semangat baru bagi lahirnya pemimpin-pemimpin bangsa dari lingkungan pesantren.

Baca juga: Ribuan Santri Rasakan Manfaat Beasiswa Kemenag-LPDP, Beberapa Sudah Lulus Kuliah

"Kami menyambut baik kedatangan santri pondok pesantren. Semoga kedatangan para santri membawa keberkahan dan menjadi inspirasi serta semangat baru kepemimpinan bagi para santri," ujarnya.

Melalui program "Istana untuk Anak Sekolah", pemerintah berharap semakin banyak santri yang memiliki wawasan kebangsaan, memahami tata kelola pemerintahan, serta tumbuh menjadi generasi yang unggul dalam ilmu agama sekaligus siap berkontribusi bagi Indonesia di tingkat nasional maupun global.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Arab Saudi Dilanda Suhu 50 Derajat Celsius, Warga Pilih Bertahan di Ruangan
Arab Saudi Dilanda Suhu 50 Derajat Celsius, Warga Pilih Bertahan di Ruangan
Aktual
Mengenal Huruf Hijaiyah: Pengertian, 29 Huruf, Harakat, dan Cara Mudah Belajar Membaca Al-Qur'an
Mengenal Huruf Hijaiyah: Pengertian, 29 Huruf, Harakat, dan Cara Mudah Belajar Membaca Al-Qur'an
Doa Harian
Sifat Wajib Allah: Pengertian, 20 Sifat Wajib Arti dan Maknanya
Sifat Wajib Allah: Pengertian, 20 Sifat Wajib Arti dan Maknanya
Doa Harian
250 Santri Masuk Istana Presiden, Kemenag Tanamkan Mimpi Jadi Pemimpin Bangsa
250 Santri Masuk Istana Presiden, Kemenag Tanamkan Mimpi Jadi Pemimpin Bangsa
Aktual
Cara Memastikan Daging Giling Halal, 5 Hal Ini Sering Terlewat
Cara Memastikan Daging Giling Halal, 5 Hal Ini Sering Terlewat
Aktual
BUMN Wajib Salurkan Zakat Karyawan ke Baznas, Potensi Rp 3 Triliun
BUMN Wajib Salurkan Zakat Karyawan ke Baznas, Potensi Rp 3 Triliun
Aktual
Menhaj Tegaskan Telah Proaktif Bernegosiasi dengan Arab Saudi Terkait Operasional Haji 2027
Menhaj Tegaskan Telah Proaktif Bernegosiasi dengan Arab Saudi Terkait Operasional Haji 2027
Aktual
Komisi VIII DPR  Minta Kemenhaj Lengkapi Dokumen Pencairan Uang Muka Haji 2027
Komisi VIII DPR Minta Kemenhaj Lengkapi Dokumen Pencairan Uang Muka Haji 2027
Aktual
Kemenhaj Usulkan Uang Muka Rp 4 Triliun untuk Persiapan Operasional Haji 2027
Kemenhaj Usulkan Uang Muka Rp 4 Triliun untuk Persiapan Operasional Haji 2027
Aktual
250 Jemaah Gelombang Pertama Program Tamu Raja Salman Mulai Jalani Umrah, Ada dari Indonesia
250 Jemaah Gelombang Pertama Program Tamu Raja Salman Mulai Jalani Umrah, Ada dari Indonesia
Aktual
Alasan PFI Dukung Zakat Jadi Pengurang Pajak, Dinilai Tidak Kurangi Penerimaan Negara
Alasan PFI Dukung Zakat Jadi Pengurang Pajak, Dinilai Tidak Kurangi Penerimaan Negara
Aktual
Al-Kanud: Mengapa Manusia Sering Ingkari Nikmat Tuhan?
Al-Kanud: Mengapa Manusia Sering Ingkari Nikmat Tuhan?
Aktual
PBNU Desak Masyarakat Internasional Bersatu Hentikan Konflik AS-Iran, Serukan Perdamaian bagi Dunia
PBNU Desak Masyarakat Internasional Bersatu Hentikan Konflik AS-Iran, Serukan Perdamaian bagi Dunia
Aktual
Satu Abad Selesai: Saatnya NU Menatap ke Depan dengan Kepala 'Tegak'
Satu Abad Selesai: Saatnya NU Menatap ke Depan dengan Kepala "Tegak"
Aktual
Menag Nasaruddin Umar: Indonesia Berpeluang Jadi Epicentrum Peradaban Islam Modern
Menag Nasaruddin Umar: Indonesia Berpeluang Jadi Epicentrum Peradaban Islam Modern
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar