Editor
KOMPAS.com – Istiqlal Global Fund (IGF) bersama Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI) DKI Jakarta menggagas model baru pengembangan ekonomi umat dengan menjadikan masjid sebagai pusat kolaborasi bisnis, filantropi, teknologi, dan pemberdayaan masyarakat.
Kolaborasi tersebut bertujuan membangun ekosistem ekonomi yang tidak hanya berorientasi pada kegiatan sosial, tetapi juga mampu menghubungkan pelaku usaha, investor, komunitas, dan lembaga filantropi secara berkelanjutan.
Direktur Utama Istiqlal Global Fund, Ahsanul Haq, mengatakan kesamaan visi antara IGF dan ISMI menjadi modal penting untuk menghadirkan berbagai program pemberdayaan ekonomi umat.
"Kesamaan visi antara Istiqlal Global Fund dan ISMI dalam mengembangkan bisnis yang berdampak sosial menjadi dasar kuat untuk menghadirkan berbagai program bersama," ujar Ahsanul dalam keterangan tertulis, Rabu (15/7/2026).
Menurutnya, penguatan ekonomi umat ke depan membutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif dibanding sekadar aktivitas bisnis.
"Yang ingin kita bangun bukan sekadar program, tetapi sebuah ekosistem. Ada hubungan antara bisnis dan filantropi, antara dunia usaha dan masyarakat, sehingga ekonomi umat dapat tumbuh secara bersama-sama," katanya.
Baca juga: Kunjungi Istiqlal, Australia Belajar Dialog Lintas Agama di Indonesia
Ahsanul menjelaskan, IGF memandang masjid memiliki peran strategis sebagai pusat peradaban yang mampu menghubungkan berbagai elemen masyarakat.
Selain sebagai tempat ibadah, masjid dinilai dapat menjadi ruang bertemunya pelaku usaha, komunitas, lembaga filantropi, investor, hingga masyarakat dalam membangun ekonomi yang memberikan dampak sosial.
"Masjid memiliki potensi besar sebagai pusat peradaban. Tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang hubungan dan kolaborasi antara pelaku usaha, komunitas, lembaga filantropi, investor, serta masyarakat dalam membangun ekonomi yang memberikan dampak sosial," ujar Ahsanul.
Konsep tersebut diharapkan melahirkan wajah baru pengelolaan potensi umat dengan menjadikan masjid sebagai pusat inovasi, pemberdayaan, dan solusi sosial.
Untuk memperkuat ekosistem tersebut, Istiqlal Global Fund juga telah menjalin nota kesepahaman (MoU) dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Kerja sama itu menjadi langkah strategis dalam mengembangkan Masjid Istiqlal sebagai pusat peradaban yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi ekonomi, lingkungan, teknologi, dan pemberdayaan masyarakat.
Salah satu program yang tengah dikembangkan adalah Istiqlal EV Community, komunitas pengguna kendaraan listrik yang diharapkan menjadi wadah kolaborasi masyarakat dalam mendukung transisi menuju energi bersih.
Sebagai bagian dari program tersebut, IGF juga mendorong pembangunan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di kawasan Masjid Istiqlal.
Selain itu, kolaborasi dengan Pemprov DKI juga mencakup upaya revitalisasi kawasan Sungai Ciliwung yang melintasi kompleks Masjid Istiqlal agar menjadi ruang publik sekaligus destinasi wisata edukasi lingkungan.
Tidak hanya fokus pada sektor ekonomi, Istiqlal Global Fund juga memperkenalkan konsep wakaf energi sebagai inovasi filantropi Islam.
Melalui program ini, dana wakaf diarahkan untuk mendukung pembangunan panel surya yang dapat memasok kebutuhan listrik Masjid Istiqlal dan musala di sekitarnya.
Menurut Ahsanul, konsep wakaf perlu terus dikembangkan agar tidak hanya terbatas pada tanah atau bangunan, tetapi juga menjadi aset produktif yang memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
"Wakaf memiliki potensi besar untuk menjawab berbagai kebutuhan masyarakat. Dengan inovasi dan tata kelola yang profesional, wakaf dapat menjadi sumber kebermanfaatan jangka panjang," ujarnya.
IGF meyakini masjid sejak masa awal Islam tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pendidikan, aktivitas sosial, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Baca juga: Masjid Istiqlal Resmikan NL Corner, Jadi Ruang Literasi Hubungan Indonesia dan Belanda
Melalui kolaborasi dengan ISMI DKI Jakarta, model tersebut ingin dihidupkan kembali dalam konteks modern dengan memadukan bisnis, filantropi, teknologi, serta kepedulian terhadap lingkungan.
Dengan demikian, masjid diharapkan tidak hanya menjadi pusat aktivitas keagamaan, tetapi juga motor penggerak lahirnya ekosistem ekonomi umat yang inklusif, profesional, dan berkelanjutan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang