Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Nabi Hud AS: Azab Orang Sombong dan Awal Kehancuran Kaum ‘Ad

Kompas.com, 19 Desember 2025, 15:04 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Dalam sejarah para nabi, kisah Nabi Hud AS hadir sebagai pengingat tentang sebuah peradaban besar yang runtuh bukan karena kekurangan, melainkan karena kesombongan.

Nabi Hud diutus kepada kaum ‘Ad, sebuah bangsa Arab purba yang dikenal memiliki tubuh kuat, bangunan tinggi, dan wilayah kekuasaan luas.

Mereka tinggal di kawasan antara Yaman, Oman, dan Hadramaut, hidup di daerah berbukit dengan kemah-kemah bertiang besar.

Al-Qur’an menyebut mereka sebagai kaum Iram, pemilik bangunan-bangunan menjulang yang belum pernah ditandingi pada masanya.

Namun, di balik kekuatan fisik dan kejayaan itu, kaum ‘Ad terjerumus dalam penyembahan berhala. Mereka menyembah berhala-berhala seperti Shuda, Shamuda, dan Al-Haba.

Di tengah kondisi itulah Allah mengutus Nabi Hud AS seorang dari kalangan mereka sendiri untuk mengajak kembali kepada tauhid untuk menyembah Allah semata dan meninggalkan kemusyrikan.

Baca juga: Kisah Nabi Musa AS Menurut Al Quran yang Penuh Hikmah

Dakwah Tauhid yang Ditertawakan

Seruan Nabi Hud AS sebenarnya sangat sederhana. “Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagimu selain Dia,” demikian pesan utama yang berulang kali disampaikannya.

Namun ajakan ini justru disambut dengan ejekan. Para pemuka kaum ‘Ad menilai Nabi Hud sebagai manusia biasa yang tidak pantas membawa risalah langit. Bahkan mereka menuduh Nabi Hud kurang akal dan pendusta.

Penolakan itu tidak berhenti pada penyangkalan. Kaum ‘Ad menuntut bukti fisik dan mengancam akan tetap setia pada ajaran nenek moyang mereka.

Nabi Hud AS menjawab dengan tegas namun tenang. Ia menyatakan untuk berlepas diri dari berhala-berhala yang mereka sembah dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah.

Sebuah sikap yang menunjukkan bahwa kebenaran tidak membutuhkan kekerasan, tetapi keyakinan.

Kekuatan Bangsa ‘Ad dan Penentangan terhadap Nabinya

Dikutip dari buku Kisah Para Nabi karya Ibnu Katsir (2014), kaum ‘Ad dikenal sangat membanggakan kekuatan mereka. Tubuh yang tinggi, fisik yang kokoh, serta kemampuan membangun menjadi sumber kesombongan.

Mereka berkata, “Siapakah yang lebih besar kekuatannya daripada kami?”.

فَأَمَّا عَادٌ فَٱسْتَكْبَرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ وَقَالُوا۟ مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً ۖ أَوَلَمْ يَرَوْا۟ أَنَّ ٱللَّهَ ٱلَّذِى خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً ۖ وَكَانُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا يَجْحَدُونَ

Fa ammā 'ādun fastakbarụ fil-arḍi bigairil-ḥaqqi wa qālụ man asyaddu minnā quwwah, a wa lam yarau annallāhallażī khalaqahum huwa asyaddu min-hum quwwah, wa kānụ bi'āyātinā yaj-ḥadụn

Artinya: Adapun kaum 'Aad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: "Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?" Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah Yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka? Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami.

Mereka lupa bahwa kekuatan itu adalah pemberian Allah, bukan hasil kehebatan mereka sendiri.

Kesombongan inilah yang membuat nasihat Nabi Hud AS tak lagi didengar. Berbagai peringatan dianggap angin lalu.

Bahkan ketika Nabi Hud mengingatkan akan azab Allah jika mereka terus membangkang, kaum ‘Ad justru menantangnya untuk segera mendatangkan azab itu.

Baca juga: Kisah Unik Nabi Idris AS: Nabi Pertama yang Mengajarkan Tulisan dan Peradaban

Awan yang Disangka Rahmat

Ketika kekeringan panjang melanda negeri mereka selama tiga tahun dan hujan tak kunjung turun, kaum ‘Ad akhirnya memohon pertolongan.

Sekelompok utusan dikirim ke Baitullah untuk meminta hujan. Allah kemudian memperlihatkan tiga macam awan, putih, merah, dan hitam. Kaum ‘Ad memilih awan hitam, mengira di sanalah terkandung air paling banyak.

Ketika awan hitam itu bergerak menuju lembah-lembah mereka, kaum ‘Ad bergembira. “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami,” kata mereka. Namun Al-Qur’an menegaskan, itulah azab yang mereka minta disegerakan: angin yang mengandung siksaan pedih.

فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُّسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا۟ هَٰذَا عَارِضٌ مُّمْطِرُنَا ۚ بَلْ هُوَ مَا ٱسْتَعْجَلْتُم بِهِۦ ۖ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ

Fa lammā ra'auhu 'āriḍam mustaqbila audiyatihim qālụ hāżā 'āriḍum mumṭirunā, bal huwa masta'jaltum bih, rīḥun fīhā 'ażābun alīm

Artinya: Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: "Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami". (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih.

Baca juga: Kisah Uwais Al Qarni: Memperoleh Derajat Tinggi karena Berbakti pada Ibu

Azab Angin yang Membinasakan

Alih-alih hujan yang datang, melainkan angin sangat kencang dan sangat dingin. Angin itu bertiup selama tujuh malam dan delapan hari berturut-turut, menghancurkan apa pun yang dilewatinya.

Kaum ‘Ad dikejar angin ke mana pun mereka berlindung, ke rumah, istana, bahkan gua di pegunungan. Semuanya sia-sia.

Al-Qur’an menggambarkan tubuh mereka bergelimpangan seperti batang kurma yang lapuk. Tidak tersisa satu pun dari mereka, kecuali Nabi Hud AS dan orang-orang yang beriman bersamanya. Kekuatan yang dulu dibanggakan runtuh dalam sekejap di hadapan kekuasaan Allah.

Pelajaran yang Tak Pernah Usang

Kisah Nabi Hud AS adalah pelajaran tentang batas kekuatan manusia. Bahwa kejayaan tanpa iman hanya akan melahirkan kesombongan.

Bahwa kebenaran sering kali datang dari suara yang sederhana dan ditertawakan. Dan bahwa azab Allah bisa datang melalui sesuatu yang tampak biasa, seperti awan dan angin.

Di zaman sekarang, ketika manusia kembali membanggakan teknologi, kekuasaan, dan pencapaian, kisah ini terasa relevan. Ia mengingatkan bahwa kekuatan sejati bukan pada apa yang dibangun manusia, melainkan pada kerendahan hati di hadapan Sang Pencipta.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang


Terkini Lainnya
Tahajud, PBB, hingga Api Unggun: Cara MAN 2 Bandung Bentuk Karakter Murid Baru
Tahajud, PBB, hingga Api Unggun: Cara MAN 2 Bandung Bentuk Karakter Murid Baru
Aktual
Astaghfirullah Artinya Apa? Ketahui Makna, Keutamaan, dan Tulisan Arabnya
Astaghfirullah Artinya Apa? Ketahui Makna, Keutamaan, dan Tulisan Arabnya
Doa dan Niat
Vegetarian Makin Populer di Arab Saudi, Pola Makan Warga Mulai Bergeser
Vegetarian Makin Populer di Arab Saudi, Pola Makan Warga Mulai Bergeser
Aktual
Jadwal Pengajuan BOS Madrasah dan BOP RA Tahap II 2026, Total Rp 4,1 Triliun
Jadwal Pengajuan BOS Madrasah dan BOP RA Tahap II 2026, Total Rp 4,1 Triliun
Aktual
Al-Qanun Al-Asasi Kembali Disosialisasikan, Gus Kikin: Ini Ruh NU
Al-Qanun Al-Asasi Kembali Disosialisasikan, Gus Kikin: Ini Ruh NU
Aktual
Lulusan Fakultas Syariah dan Hukum 111 PTKI Disiapkan Jadi Advokat
Lulusan Fakultas Syariah dan Hukum 111 PTKI Disiapkan Jadi Advokat
Aktual
Madrasah Bisa Ajukan BOS via Digital, Kemenag Siapkan Rp 4,1 Triliun
Madrasah Bisa Ajukan BOS via Digital, Kemenag Siapkan Rp 4,1 Triliun
Aktual
Muhaimin Iskandar: Kawasan Ekonomi Pesantren Bisa Jadi Motor Pengentasan Kemiskinan
Muhaimin Iskandar: Kawasan Ekonomi Pesantren Bisa Jadi Motor Pengentasan Kemiskinan
Aktual
Anies Kenang Habib Saggaf Aljufri: Ilmu Tinggi, Hati Rendah, Permata Umat
Anies Kenang Habib Saggaf Aljufri: Ilmu Tinggi, Hati Rendah, Permata Umat
Aktual
Gotong Royong Warga dan Rumah Amal Salman, Air Bersih Kini Mengalir di Desa Jamat
Gotong Royong Warga dan Rumah Amal Salman, Air Bersih Kini Mengalir di Desa Jamat
Aktual
Kemenag Siapkan BOS Madrasah dan BOP RA Tahap II Rp4,1 Triliun, Ini Jadwal Pengajuannya
Kemenag Siapkan BOS Madrasah dan BOP RA Tahap II Rp4,1 Triliun, Ini Jadwal Pengajuannya
Aktual
Wamenag Minta Perketat Perlindungan Anak di Madrasah, bangun Budaya Berani Melapor
Wamenag Minta Perketat Perlindungan Anak di Madrasah, bangun Budaya Berani Melapor
Aktual
Muhammadiyah Maknai Jihad Masa Kini dengan Membangun Bangsa, Bukan Kekerasan
Muhammadiyah Maknai Jihad Masa Kini dengan Membangun Bangsa, Bukan Kekerasan
Aktual
Ma'ruf Amin Dorong NU Perkuat Umat dan Kemandirian Ekonomi
Ma'ruf Amin Dorong NU Perkuat Umat dan Kemandirian Ekonomi
Aktual
Buka Muktamar Tapak Suci XIV, Ahmad Luthfi Soroti Peran Pencak Silat dalam Membangun Karakter dan Persatuan
Buka Muktamar Tapak Suci XIV, Ahmad Luthfi Soroti Peran Pencak Silat dalam Membangun Karakter dan Persatuan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar