Editor
KOMPAS.com - Kata "astaghfirullah" begitu akrab di telinga umat Islam. Kalimat ini kerap diucapkan spontan, baik saat mendengar kabar buruk, melihat sesuatu yang tidak pantas, maupun sebagai bagian dari dzikir sehari-hari.
Namun, tidak semua orang memahami arti sebenarnya dan makna mendalam dari kalimat istigfar ini.Lalu apa makna kalimat istighfar ini? Simak penjelasannya.
Secara bahasa, astaghfirullah (أَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ) berasal dari kata dasar ghafara yang berarti menutupi atau mengampuni.
Kalimat ini terbentuk dari kata astaghfiru (aku memohon ampun) dan Allah (kepada Allah), sehingga secara keseluruhan astaghfirullah artinya "aku memohon ampun kepada Allah".
Ucapan ini termasuk dalam kategori istigfar, yaitu permohonan ampunan seorang hamba kepada Allah SWT atas dosa dan kesalahan yang telah diperbuat, baik disengaja maupun tidak disengaja.
Istigfar bukan sekadar ucapan lisan, melainkan juga mengandung unsur penyesalan dan kesadaran diri sebagai makhluk yang tidak luput dari kekhilafan.
Baca juga: Dzikir Hari Jumat yang Dianjurkan: Bacaan Shalawat, Yasin, Al-Kahfi hingga Istighfar
Berikut tulisan Arab, latin, dan artinya untuk memudahkan pelafalan yang benar:
Tulisan Arab: أَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ
Latin: Astaghfirullah
Artinya: "Aku memohon ampun kepada Allah."
Bentuk yang lebih lengkap juga sering digunakan, yaitu:
Tulisan Arab: أَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ
Latin: Astaghfirullahal 'adzim
Artinya: "Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung."
Baca juga: Ini Dzikir dan Doa Setelah Shalat Fardhu, Lengkap dari Istighfar hingga Tahlil
Meski sering dianggap sama, kedua kalimat ini memiliki sedikit perbedaan dari segi susunan lafaz.
Astaghfirullah adalah bentuk ringkas yang hanya terdiri dari kata "aku memohon ampun" dan "Allah".
Sementara itu, astaghfirullahal 'adzim menambahkan sifat Allah, yaitu al-'Adzim (Yang Maha Agung), sehingga maknanya menjadi lebih lengkap dan menegaskan kebesaran Allah yang dimintai ampunan.
Dari segi keabsahan penggunaan, keduanya sama-sama boleh diucapkan sebagai bentuk istigfar.
Tidak ada dalil yang mewajibkan penggunaan salah satu bentuk secara khusus dalam kondisi tertentu.
Perbedaannya lebih pada nilai penekanan makna, bukan pada hukum atau keutamaan yang berbeda secara signifikan.
Istigfar memiliki kedudukan penting dalam ajaran Islam. Istigfar berarti memohon perlindungan dari akibat buruk dosa yang telah dilakukan, sekaligus permintaan agar Allah menutupi kesalahan tersebut.
Manusia sebagai makhluk yang tidak sempurna pasti pernah melakukan kekhilafan, sehingga istigfar menjadi sarana untuk kembali membersihkan diri secara spiritual.
Istigfar juga berbeda dengan taubat, meskipun keduanya saling berkaitan erat. Istigfar adalah permohonan ampun, sedangkan taubat mencakup penyesalan atas dosa yang telah diperbuat disertai tekad untuk tidak mengulanginya.
Kajian dalam jurnal Konsep Doa dalam Perspektif Islam karya Zhila Jannati dan Muhammad Randicha Hamandia yang dimuat di JKPI menjelaskan bahwa permohonan kepada Allah, termasuk istigfar, merupakan bentuk pengakuan seorang hamba atas keterbatasan dirinya dan kebergantungannya kepada Allah SWT.
Istigfar dapat diucapkan kapan saja, namun terdapat beberapa waktu yang secara khusus dianjurkan dalam ajaran Islam, di antaranya:
• Setelah melaksanakan shalat fardu, sebagai penutup ibadah.
• Pada waktu sahur atau menjelang subuh, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an surah Ali Imran ayat 17 tentang orang-orang yang memohon ampun pada waktu sahur.
• Ketika menyadari telah melakukan kesalahan atau dosa, baik kecil maupun besar.
• Dalam dzikir pagi dan petang sebagai amalan rutin harian.
• Saat berada dalam majelis atau pertemuan, sebagai penutup sebelum berpisah.
• Ketika mendengar atau melihat sesuatu yang mengingatkan pada kelalaian diri.
Selain astaghfirullah, terdapat beberapa bacaan istigfar lain yang diajarkan dalam hadis-hadis shahih.
Salah satunya adalah Sayyidul Istighfar atau induk dari segala istigfar, yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari.
Rasulullah SAW juga mengajarkan bacaan istigfar yang biasa beliau ucapkan menjelang wafat, yaitu "Subhanallahi wa bihamdih, astaghfirullaha wa atuubu ilaih" yang artinya "Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya, aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya."
Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda bahwa beliau beristigfar lebih dari 70 kali dalam sehari sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari nomor 6307, dan dalam riwayat Shahih Muslim disebutkan Rasulullah SAW beristigfar hingga 100 kali dalam sehari.
Riwayat-riwayat ini menjadi dasar mengapa umat Islam dianjurkan memperbanyak istigfar meski Rasulullah SAW sendiri telah dijamin ampunannya oleh Allah SWT.
Istigfar memiliki banyak keutamaan yang disebutkan baik dalam Al-Qur'an maupun hadis. Beberapa di antaranya adalah:
• Membuka pintu rezeki. Dalam Al-Qur'an surah Nuh ayat 10-12, Allah SWT menjanjikan turunnya hujan yang lebat, bertambahnya harta dan anak-anak, serta hadirnya kebun dan sungai bagi orang yang memperbanyak istigfar.
• Menjadi penutup dan penyempurna amal. Istigfar sering diucapkan sebagai penutup ibadah, seperti setelah shalat, karena kesadaran bahwa ibadah manusia tidak pernah sempurna.
• Sarana pengampunan dosa. Kajian dalam jurnal al Adabiya berjudul "Keutamaan Istigfar: Kandungan Makna Istigfar terhadap Hadis Riwayat Ibnu Majah" menjelaskan bahwa istigfar merupakan wujud dari sifat Allah sebagai Al-Ghafur (Maha Pengampun) yang senantiasa membuka pintu ampunan bagi hamba-Nya yang mau kembali kepada-Nya.
• Menenangkan hati. Sejumlah penelitian, termasuk yang dipublikasikan dalam jurnal CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, menunjukkan bahwa amalan istigfar dapat membantu menurunkan tingkat kecemasan dan pikiran berlebih (overthinking) pada mahasiswa yang menjadi partisipan penelitian.
Sebagai kalimat yang sangat sering diucapkan, astaghfirullah kerap mengalami kesalahan penulisan maupun pelafalan di masyarakat. Berikut beberapa kesalahan yang umum ditemukan:
• Penulisan "astagfirullah" tanpa huruf "h" setelah "astag" sering digunakan, padahal transliterasi yang lebih tepat mengikuti bunyi Arabnya adalah "astaghfirullah" dengan huruf "gh" yang melambangkan huruf ghain.
• Pelafalan yang terburu-buru sehingga huruf-huruf seperti ghain dan qaf tidak diucapkan dengan jelas, padahal ketepatan makhraj penting dalam pengucapan lafaz zikir.
• Penggunaan sebagai ungkapan seruan semata tanpa memahami maknanya, sehingga istigfar hanya menjadi kebiasaan lisan tanpa penghayatan hati.
• Penulisan yang dipisah menjadi "astaghfiru allah" dalam konteks informal, meskipun secara gramatikal Arab kalimat ini memang tersusun dari dua kata yang digabung dalam pengucapan.
Memahami arti dan makna di balik ucapan astaghfirullah diharapkan dapat membuat umat Islam lebih menghayati setiap kali mengucapkannya, bukan sekadar menjadikannya ucapan spontan tanpa kesadaran akan makna permohonan ampun kepada Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang