Editor
ACEH TENGAH, KOMPAS.com - Setahun setelah banjir besar melanda Desa Jamat, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, persoalan air bersih masih membayangi kehidupan warga.
Air yang tersedia kerap keruh dan tidak layak dikonsumsi. Warga pun harus menghadapi keterbatasan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kini, kondisi tersebut mulai berubah. Sistem penyediaan air bersih hasil kolaborasi Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Rumah Amal Salman mulai dapat dimanfaatkan masyarakat.
Wakil Bupati Aceh Tengah Muchsin Hasan mengatakan, fasilitas tersebut mampu mengolah air yang sebelumnya keruh menjadi lebih jernih dan dapat digunakan masyarakat.
"Sebelumnya masyarakat memang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Kami menyaksikan sendiri bagaimana air yang semula keruh kini dapat diolah menjadi jernih dan layak digunakan untuk kebutuhan memasak maupun konsumsi," kata Muchsin dalam rilisnya, Minggu (9/8/2026).
Baca juga: Masjid Yokohama Jepang Resmi Berdiri, Jusuf Kalla: Simbol Persatuan dan Gotong Royong Umat Dunia
Fasilitas air bersih tersebut diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah pada Selasa (4/8/2026).
Penyerahan turut dihadiri pemerintah kecamatan, pemerintah desa, dan sejumlah perangkat daerah.
Perwakilan Pengurus IIDI mengatakan, pemenuhan kebutuhan air bersih menjadi salah satu bagian penting dalam pemulihan kehidupan masyarakat setelah bencana.
"Air adalah kebutuhan yang sangat vital. Kami berharap fasilitas yang hari ini diserahkan benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat dan dapat digunakan dalam jangka panjang," ujarnya.
Fasilitas tersebut dibangun secara bertahap sejak Februari 2026.
Tim relawan kebencanaan Rumah Amal Salman bersama warga Desa Jamat mengerjakan sejumlah infrastruktur dengan pola gotong royong.
Mewakili ITB, Ketua Pengurus Rumah Amal Salman Mipi Ananta Kusuma mengatakan, tahap pertama dilakukan dengan membangun kolam pengendapan berdiameter sekitar empat meter dengan kapasitas 12.500 liter.
Kolam berfungsi menampung air sungai sekaligus mengendapkan lumpur dan material sebelum air memasuki proses pengolahan.
“Kebutuhan warga akan air cukup besar, sehingga sejak Februari secara bergotong royong kita tarik dari puncak gunung dengan pipa 2 inci. Begitu saja berprogres agar kebutuhan air bisa terpenuhi. Meski air yang disalurkan kepada warga kurang jernih namun setidaknya masih layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi dan mencuci baju,” tutur Mipi.
Baca juga: Muhammadiyah Maknai Jihad Masa Kini dengan Membangun Bangsa, Bukan Kekerasan
Pembangunan kemudian dilanjutkan dengan penguatan fondasi, pembuatan kolam pengendapan kedua, penataan jalur perpipaan, hingga pemasangan Instalasi Pengolahan Air (IPA).
Sekitar 10 warga setiap hari ikut terlibat dalam pengerjaan fasilitas tersebut. Keterlibatan warga diperlukan agar fasilitas tidak berhenti berfungsi setelah program selesai.
“Program peningkatan akses air bersih harapannya bisa dimanfaatkan dan berkelanjutan, sehingga ketika ITB menyerahkan kepada masyarakat, mohon ini bisa dirawat bersama,” kata Mipi.
Bagi warga Desa Jamat, tersedianya fasilitas tersebut menjadi harapan baru setelah akses air bersih terganggu akibat banjir.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada IIDI, ITB, Rumah Amal Salman, dan pemerintah atas bantuan yang telah diberikan. Saat ini, kami masyarakat dapat menikmati air bersih yang selama ini sangat dibutuhkan," kata perwakilan warga.
Selain penyediaan air bersih, relawan dan warga juga membangun kembali jaringan irigasi untuk mengairi lahan pertanian yang terdampak banjir.
Infrastruktur irigasi sebelumnya rusak dan hanyut diterjang banjir sehingga mengganggu pasokan air menuju persawahan.
Untuk memulihkan jaringan tersebut, dibangun jembatan pipa sepanjang sekitar 100 meter menggunakan dua pipa berdiameter empat inci. Pipa disangga dengan sistem sling menyerupai jembatan gantung.
Sebanyak 16 batang pipa dipasang untuk membentuk jaringan distribusi menuju kawasan persawahan. Pengerjaan tersebut diselesaikan dalam waktu dua hari.
“Pasca bencana warga memang kehilangan lahan infrastuktur untuk mengalirkan air ke sawah, karena pipa irigasi sebelumnya sudah hanyut terbawa banjir. Meski memang masih ada satu tahapan lagi agar air bisa masuk ke sawah secara optimal, yakni dengan membuka saluran irigasi di darat agar bisa dekat dengan sumber air,” katanya.
Program pemulihan Desa Jamat juga direncanakan berlanjut pada penataan kawasan pertanian dan permukiman melalui konsolidasi tanah pascabencana.
“Program usulan ini mungkin baru bisa akan dilaksanakan 1-2 tahun ke depan di Desa Jamat, karena melalui konsolidasi tanah ini kita bisa mensinergikan antara stakeholder agar lokasi bencana bisa segera pulih,” katanya.
Manager Program Rumah Amal Salman Abdul Azis mengatakan, pembangunan fasilitas di Desa Jamat merupakan bagian dari program ITB Peduli Sumatera.
Program tersebut menyasar wilayah yang masih mengalami persoalan infrastruktur setelah bencana, khususnya terkait akses air bersih.
Selain membangun fasilitas, tim melakukan pemantauan, evaluasi, penguatan sistem, serta pembangunan infrastruktur tambahan jika dibutuhkan.
Program melibatkan ITB, Ikatan Alumni ITB, pemerintah daerah, mitra lokal, Rumah Amal Salman, dan YPM Salman.
Pada 2026, program tersebut menargetkan lima lokasi pascabencana di Sumatera, yakni Tukka, Babo, Pengidam, Air Tenang, dan Jamat.
Selain penyediaan air bersih, program diarahkan untuk membantu pemulihan infrastruktur yang mendukung kehidupan masyarakat setelah bencana.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang