Editor
KOMPAS.com - Meskipun Berdoa sangat dianjurkan dalam Islam, namun ada juga doa-doa yang dilarang, salah satunya mendoakan keburukan.
Rasulullah SAW menegaskan larangan bagi umat Muslim untuk mendoakan keburukan, baik kepada diri sendiri, orang lain, maupun harta benda.
Larangan ini disampaikan dalam sejumlah hadits shahih yang diriwayatkan para sahabat.
Baca juga: Doa Bersin dan Jawabannya Lengkap Sesuai Sunnah, Ini Adabnya
Salah satunya dari Jabir bin Abdullah RA yang menjelaskan risiko doa buruk bisa dikabulkan Allah SWT pada waktu tertentu.
Pesan ini menjadi pengingat penting agar umat Islam menjaga lisan dan hati dalam berdoa.
Baca juga: Doa Nabi Musa Hadapi Firaun, Amalan Agar Urusan Dipermudah
Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
لاتدعوا على انفسكم ولا تدعوا على اولادكم ولا تدعوا على اموالكم لا توافقوا من الله ساعة يساءل فيها عطاء فيستجيب لكم
Artinya: “Janganlah kalian berdoa buruk terhadap dirimu sendiri, janganlah kalian berdoa buruk terhadap anak-anakmu, dan janganlah kalian berdoa buruk terhadap harta bendamu. Janganlah (berdoa buruk karena bisa saja) kalian menepati suatu saat di mana Allah diminta memberikan sesuatu pada saat tersebut lalu Allah mengabulkan permintaan kalian itu.”
Hadits ini menegaskan bahwa doa buruk berpotensi menjadi kenyataan apabila bertepatan dengan waktu dikabulkannya doa. Karena itu, umat Islam diminta berhati-hati dalam setiap ucapan doa.
Rasulullah SAW juga melarang doa yang berisi permintaan untuk melakukan dosa atau memutus silaturahim. Dalam hadits lain riwayat Muslim dari Abu Hurairah RA disebutkan:
لا يزال يستجاب العبد ما لم يدع باءثم او قطيعة رحم ما لم يستعجل …. الحديث رواه مسلم عن ابى هريرة رضى الله عنه
Artinya: “Doa seorang hamba itu akan selalu dikabulkan selama ia tidak berdoa untuk berbuat dosa atau memutus tali kasih sayang (persaudaraan/persahabatan), selama ia tidak terburu-buru (mau segera terkabul)…”
Penegasan ini menunjukkan bahwa adab dalam berdoa menjadi syarat penting agar doa diterima oleh Allah SWT.
Rasulullah SAW memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari dengan selalu mendoakan kebaikan, bahkan kepada orang yang menyakiti dan menghinanya.
Ketika mendapat perlakuan buruk dari penduduk Thaif, malaikat sempat menawarkan untuk membinasakan mereka.
Namun, Rasulullah SAW justru memilih mendoakan kebaikan bagi mereka.
“Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kaumku. Sesungguhnya mereka kaum yang tidak mengerti,” pinta Rasulullah.
Sikap ini mencerminkan akhlak mulia dan keteladanan yang seharusnya diikuti oleh umat Islam.
Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa doa kebaikan yang dipanjatkan untuk orang lain akan kembali kepada orang yang mendoakan.
Dalam hadits riwayat Muslim dari Abu Darda’ RA disebutkan:
ما من عبد مسلم يدعو لاخيه بظهر الغيب الا قال الملك : ولك بمثل. رواه مسلم عن ابى الدرداء رضي الله عنه
Artinya: “Tidaklah seorang hamba muslim yang mendoakan saudaranya di belakangnya (tanpa sepengetahuannya) kecuali malaikat berkata,” Dan doa yang sama untukmu.” (HR Muslim dari Abu Darda’ RA).
Sebaliknya, doa buruk juga berpotensi kembali kepada pengucapnya. Karena itu, menjaga doa tetap dalam kebaikan menjadi bagian dari akhlak seorang Muslim.
Melantunkan doa-doa kebaikan merupakan cerminan hati yang bersih dan akhlak yang mulia.
Sementara itu, doa buruk sering kali muncul akibat luapan emosi seperti amarah, keserakahan, atau keinginan untuk berkuasa.
Doa yang dilandasi hawa nafsu dan kemarahan tidak layak dipanjatkan kepada Allah SWT.
Sebagai umat Nabi Muhammad SAW, setiap Muslim dituntut meneladani akhlak beliau dengan memperbanyak doa kebaikan dan menjauhi doa keburukan dalam kondisi apa pun.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang