KOMPAS.com – Dalam perjalanan dakwah para nabi, ada satu momen yang kerap menggugah kesadaran manusia tentang pentingnya doa, ketika seorang utusan Allah harus menghadapi kekuasaan yang zalim.
Dalam konteks ini, kisah Nabi Musa AS saat berhadapan dengan Firaun menjadi salah satu pelajaran spiritual paling mendalam.
Bukan hanya tentang keberanian melawan tirani, tetapi juga tentang bagaimana seorang nabi memohon pertolongan kepada Allah SWT agar dimudahkan dalam menyampaikan kebenaran.
Doa yang dipanjatkan Nabi Musa AS tersebut hingga kini terus diamalkan oleh umat Islam sebagai ikhtiar memohon kelapangan hati dan kemudahan dalam menghadapi berbagai urusan hidup.
Baca juga: Kisah Nabi Musa AS Menurut Al Quran yang Penuh Hikmah
Dalam berbagai literatur tafsir, termasuk karya Ibnu Katsir dalam Kisah Para Nabi, diceritakan bahwa Nabi Musa AS diutus untuk menghadapi Firaun, penguasa Mesir yang dikenal zalim dan sombong. Ia tidak hanya menindas rakyatnya, tetapi juga mengaku sebagai tuhan.
Situasi ini jelas bukan perkara ringan. Nabi Musa AS tidak hanya berhadapan dengan kekuasaan politik, tetapi juga dengan sistem sosial yang telah lama menindas Bani Israil. Dalam kondisi tersebut, beban dakwah terasa sangat besar.
Lebih jauh lagi, Nabi Musa AS menyadari adanya keterbatasan dalam dirinya, terutama dalam hal kefasihan berbicara.
Hal ini bahkan diabadikan dalam Al-Qur’an, ketika ia memohon agar saudaranya, Nabi Harun AS, turut membantunya dalam menyampaikan risalah.
Baca juga: Kisah Nabi Musa Menampar Malaikat Maut, Ini Penjelasan Ulama
Di tengah tekanan besar itulah, Nabi Musa AS memanjatkan doa yang sangat terkenal dan diabadikan dalam Surah Taha ayat 25-28:
رَبِّ ٱشْرَحْ لِى صَدْرِى وَيَسِّرْ لِىٓ أَمْرِى وَٱحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِى يَفْقَهُوا۟ قَوْلِى
Rabbisyrah li shadri, wa yassir li amri, wahlul ‘uqdatan min lisani, yafqahu qauli.
Artinya: “Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku agar mereka memahami perkataanku.”
Doa ini bukan sekadar permohonan biasa. Ia mencerminkan kesadaran mendalam seorang hamba akan keterbatasan dirinya, sekaligus keyakinan penuh bahwa pertolongan Allah adalah kunci utama dalam setiap urusan.
Dalam tafsir modern, seperti yang dijelaskan oleh Sayyid Qutb dalam Fi Zhilalil Qur’an, doa ini menggambarkan dimensi psikologis seorang nabi.
Ketakutan yang dirasakan bukanlah kelemahan, melainkan bentuk kesiapan mental untuk menghadapi tantangan besar dengan pertolongan Ilahi.
Menariknya, doa Nabi Musa AS tidak berhenti pada permohonan semata. Allah SWT secara langsung memberikan jawaban atas doa tersebut dalam Surah Taha ayat 36:
“Sungguh, telah diperkenankan permintaanmu, wahai Musa.”
Ayat ini menjadi penegasan bahwa doa yang dipanjatkan dengan keikhlasan dan kesungguhan tidak akan sia-sia.
Dalam konteks dakwah, hal ini juga menunjukkan bahwa keberhasilan bukan hanya ditentukan oleh kemampuan manusia, tetapi juga oleh pertolongan Allah SWT.
Baca juga: Siapa Firaun Pengejar Nabi Musa yang Ditelan Laut Merah? Ramses II vs Merneptah
Doa Nabi Musa AS tidak hanya relevan dalam konteks dakwah, tetapi juga sangat kontekstual dalam kehidupan modern.
Dalam buku Doa Harian yang Dianjurkan Para Nabi dan Orang Saleh yang disusun oleh Tim Lentera Hati, disebutkan bahwa doa ini termasuk doa agung yang dapat diamalkan untuk berbagai kebutuhan.
Secara makna, doa ini mencakup tiga aspek penting:
Pertama, permohonan kelapangan hati. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak persoalan yang terasa berat bukan karena kompleksitasnya, tetapi karena sempitnya hati dalam menerima dan menghadapinya.
Kedua, kemudahan dalam urusan. Setiap manusia tentu menginginkan kelancaran dalam pekerjaan, pendidikan, maupun kehidupan sosial.
Ketiga, kemampuan berkomunikasi. Dalam dunia yang serba cepat dan kompetitif, kemampuan menyampaikan gagasan dengan jelas menjadi kebutuhan penting.
Dalam perspektif ilmu komunikasi modern, sebagaimana dijelaskan dalam buku Communication Skills karya Owen Hargie, kemampuan berbicara yang efektif sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam berbagai aspek kehidupan. Hal ini sejalan dengan doa Nabi Musa yang memohon kefasihan dalam berbicara.
Di tengah tekanan hidup modern, mulai dari tuntutan pekerjaan hingga persoalan sosial, banyak orang merasakan “beban” yang serupa dengan apa yang dialami Nabi Musa AS, meski dalam konteks berbeda.
Doa ini menjadi semacam “formula spiritual” yang sederhana namun mendalam. Ia tidak hanya meminta solusi, tetapi juga memperbaiki kondisi internal diri, mulai dari hati, pikiran, hingga cara berkomunikasi.
Dalam karya monumentalnya Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa inti dari doa adalah menghadirkan ketergantungan total kepada Allah SWT. Ketika seorang hamba menyadari keterbatasannya, di situlah pintu pertolongan Ilahi terbuka.
Baca juga: Teguran Allah SWT kepada Nabi Musa AS Berujung Dipermalukan Nabi Khidir
Tidak ada batasan khusus terkait waktu membaca doa Nabi Musa AS. Doa ini bisa diamalkan kapan saja, terutama saat:
Banyak ulama menganjurkan membaca doa ini sebelum memulai aktivitas penting sebagai bentuk tawakal kepada Allah SWT.
Kisah Nabi Musa AS menghadapi Firaun bukan hanya bagian dari sejarah kenabian, tetapi juga sumber inspirasi spiritual yang tak lekang oleh waktu.
Doa yang beliau panjatkan menjadi warisan berharga bagi umat Islam dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Dari istana kekuasaan Firaun hingga kehidupan modern hari ini, pesan yang disampaikan tetap sama, manusia memiliki keterbatasan, tetapi dengan doa dan pertolongan Allah, setiap urusan dapat dimudahkan.
Dan mungkin, di tengah kesibukan serta tekanan hidup saat ini, doa sederhana itu kembali relevan untuk dihadirkan:
“Rabbi syrah li shadri, wa yassir li amri…”
Sebuah pengingat bahwa setiap kesulitan selalu memiliki jalan keluar, selama hati tetap terhubung kepada-Nya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang