Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Nabi Musa Menampar Malaikat Maut, Ini Penjelasan Ulama

Kompas.com, 7 April 2026, 18:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Di antara kisah-kisah Nabi dalam tradisi Islam, terdapat satu riwayat yang kerap mengundang rasa penasaran sekaligus perdebatan, peristiwa ketika Nabi Musa menampar Malaikat Maut hingga matanya rusak.

Sekilas, kisah ini terdengar tidak biasa. Namun dalam khazanah Islam, riwayat tersebut tercatat dalam hadis sahih dan telah dijelaskan oleh banyak ulama dengan pendekatan teologis yang mendalam.

Di balik narasi yang tampak “dramatis”, tersimpan pelajaran penting tentang kemanusiaan para nabi, hakikat kematian, serta hubungan antara kehendak manusia dan ketetapan Ilahi.

Riwayat Hadis: Kisah yang Tercatat dalam Sumber Sahih

Peristiwa ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan tercantum dalam dua kitab hadis paling otoritatif dalam Islam, yaitu Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Dalam riwayat tersebut disebutkan bahwa Allah mengutus malaikat maut kepada Nabi Musa AS untuk mencabut nyawanya.

Namun ketika malaikat itu datang dalam wujud manusia, Nabi Musa menamparnya hingga matanya rusak.

Malaikat itu kemudian kembali kepada Allah dan Allah memulihkan matanya serta memerintahkannya kembali dengan membawa pilihan bagi Musa, memperpanjang usia atau segera wafat.

Riwayat ini bukan hanya diakui kesahihannya, tetapi juga menjadi bahan kajian panjang dalam ilmu hadis dan teologi Islam.

Baca juga: Siapa Firaun Pengejar Nabi Musa yang Ditelan Laut Merah? Ramses II vs Merneptah

Mengapa Nabi Musa Menampar Malaikat?

Pertanyaan paling mendasar dari kisah ini adalah: mengapa seorang nabi bisa bereaksi demikian terhadap malaikat?

Dalam buku Kisah-Kisah dalam Hadits Nabi karya Muhammad Nasrullah dijelaskan bahwa peristiwa tersebut terjadi karena Nabi Musa tidak mengetahui bahwa sosok yang datang adalah utusan Allah.

Malaikat maut datang dalam rupa manusia tanpa pemberitahuan, sehingga secara refleks Nabi Musa merespons sebagai bentuk pertahanan diri.

Penjelasan ini diperkuat oleh ulama klasik seperti Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari. Ia menegaskan bahwa para nabi tetap memiliki sifat manusiawi, termasuk reaksi spontan ketika menghadapi situasi yang dianggap mengancam.

Dengan demikian, tindakan Nabi Musa tidak dimaknai sebagai penolakan terhadap takdir, melainkan respons alami sebelum mengetahui hakikat sebenarnya dari kejadian tersebut.

Perspektif Teologis: Malaikat dalam Wujud Manusia

Dalam tradisi Islam, malaikat memiliki kemampuan untuk menjelma dalam bentuk manusia. Hal ini juga terjadi pada peristiwa lain, seperti kedatangan Malaikat Jibril kepada Maryam atau kepada Nabi Muhammad SAW dalam rupa manusia.

Dalam konteks ini, ulama menjelaskan bahwa Nabi Musa tidak mengetahui identitas malaikat tersebut pada awalnya. Oleh karena itu, reaksinya tidak bertentangan dengan prinsip kenabian.

Dalam kitab Syarah Shahih Muslim, Imam An-Nawawi menegaskan bahwa kejadian ini menunjukkan kebolehan malaikat diuji dalam bentuk manusia, serta menunjukkan bahwa para nabi tetap berinteraksi dengan realitas fisik sebagaimana manusia lainnya.

Baca juga: Makna Dialog Nabi Muhammad dan Nabi Musa dalam Isra Miraj

Pilihan Hidup dan Kematian

Setelah kejadian tersebut, Allah memberikan pilihan kepada Nabi Musa, memperpanjang usia atau segera menghadap-Nya.

Dalam riwayat hadis disebutkan bahwa Nabi Musa sempat diberi kesempatan untuk hidup lebih lama, bahkan dihitung berdasarkan jumlah bulu yang tertutup oleh tangannya di punggung seekor sapi.

Namun jawaban Nabi Musa justru mencerminkan kesadaran spiritual yang tinggi. Ia bertanya, “Apa setelah itu?” dan ketika dijawab bahwa setelah itu tetap kematian, ia memilih untuk segera wafat.

Dalam buku Qashash Al-Anbiya karya Ibnu Katsir dijelaskan bahwa pilihan ini menunjukkan puncak kepasrahan seorang nabi.

Ia tidak lagi terikat pada kehidupan dunia, melainkan memilih kembali kepada Allah dengan penuh kesadaran.

Lokasi Wafat dan Makna Tanah Suci

Dalam riwayat lanjutan, Nabi Musa memohon agar didekatkan ke Tanah Suci, wilayah yang diyakini berada di sekitar Palestina.

Rasulullah SAW bahkan pernah bersabda bahwa seandainya beliau berada di sana, ia akan menunjukkan lokasi kubur Nabi Musa di dekat jalan, di bawah bukit pasir merah.

Permintaan ini memiliki makna simbolik yang dalam. Dalam buku The Lives of the Prophets karya Ibn Kathir (terjemahan Inggris dari Qashash Al-Anbiya), disebutkan bahwa kedekatan dengan Tanah Suci mencerminkan harapan spiritual untuk berada di wilayah yang diberkahi.

Baca juga: Kisah Musa dan Harun, Dakwah Lembut di Hadapan Penguasa Zalim

Dimensi Kemanusiaan Nabi Musa

Kisah ini juga memperlihatkan sisi lain dari Nabi Musa yang sering digambarkan sebagai sosok kuat dan tegas.

Dalam banyak riwayat, Musa dikenal memiliki karakter yang tegas, bahkan emosional dalam membela kebenaran.

Hal ini terlihat dalam berbagai peristiwa, termasuk saat menghadapi Fir’aun maupun ketika membela kaumnya.

Dalam perspektif ini, peristiwa menampar malaikat maut justru memperlihatkan bahwa para nabi bukan makhluk yang “tanpa emosi”, melainkan manusia pilihan yang tetap memiliki reaksi alami, namun selalu kembali kepada kebenaran ketika mendapat petunjuk.

Hikmah di Balik Kisah

Di balik kisah yang unik ini, terdapat sejumlah pelajaran penting:

Pertama, kematian adalah kepastian yang tidak bisa dihindari. Bahkan seorang nabi pun tidak dapat menolaknya ketika waktunya telah tiba.

Kedua, manusia sering kali bereaksi berdasarkan apa yang ia lihat, bukan pada hakikat sebenarnya. Dalam hal ini, Nabi Musa bereaksi terhadap sosok manusia, bukan malaikat.

Ketiga, kepasrahan kepada Allah adalah puncak dari keimanan. Ketika diberi pilihan, Nabi Musa justru memilih untuk kembali kepada Tuhannya.

Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa kematian bagi orang beriman bukanlah akhir, melainkan awal dari perjumpaan dengan Allah. Perspektif inilah yang tampak dalam sikap Nabi Musa.

Refleksi untuk Kehidupan Modern

Kisah ini mungkin terasa jauh dari realitas sehari-hari. Namun jika ditarik ke masa kini, ia menyimpan refleksi yang sangat relevan.

Di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh ambisi, manusia sering kali lupa bahwa kematian adalah kepastian. Kita merencanakan banyak hal, tetapi jarang mempersiapkan diri untuk akhir kehidupan.

Nabi Musa mengajarkan bahwa kesadaran akan kematian justru membawa ketenangan. Ia tidak memilih hidup lebih lama, tetapi memilih waktu yang tepat untuk kembali kepada Allah.

Dan mungkin, di situlah letak pelajaran terbesarnya bahwa hidup bukan soal berapa lama kita bertahan, tetapi bagaimana kita mempersiapkan diri ketika waktu itu benar-benar datang.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Hukum Makmum Masbuk Menjadi Imam untuk Jamaah Baru, Apakah Boleh? Ini Penjelasannya
Hukum Makmum Masbuk Menjadi Imam untuk Jamaah Baru, Apakah Boleh? Ini Penjelasannya
Aktual
BPKH Investasikan 70 Persen Dana Haji ke Sukuk Negara
BPKH Investasikan 70 Persen Dana Haji ke Sukuk Negara
Aktual
Kisah Abdurrahman bin Auf, Saudagar Kaya yang Tak Silau oleh Harta
Kisah Abdurrahman bin Auf, Saudagar Kaya yang Tak Silau oleh Harta
Aktual
Jadwal Libur Lebaran 2027: Potensi Libur Panjang 10 Hari, Ini Rangkaian Tanggal Merah dan Cuti Bersama
Jadwal Libur Lebaran 2027: Potensi Libur Panjang 10 Hari, Ini Rangkaian Tanggal Merah dan Cuti Bersama
Aktual
H20 2026 Diikuti 48 Negara, BPJPH Dorong Indonesia Jadi Pusat Halal Dunia
H20 2026 Diikuti 48 Negara, BPJPH Dorong Indonesia Jadi Pusat Halal Dunia
Aktual
Bukan Bersamaan, Ini Cara Mengikuti Gerakan Imam dalam Shalat Berjamaah yang Makmum Harus Tahu
Bukan Bersamaan, Ini Cara Mengikuti Gerakan Imam dalam Shalat Berjamaah yang Makmum Harus Tahu
Aktual
Muazin Masjidil Haram Sheikh Ibrahim Al Madani Wafat, Rekaman Adzannya Beredar di Media Sosial
Muazin Masjidil Haram Sheikh Ibrahim Al Madani Wafat, Rekaman Adzannya Beredar di Media Sosial
Aktual
Sheikh Ibrahim Al Madani, Muazin Masjidil Haram, Wafat Setelah Kumandangkan Adzan Subuh
Sheikh Ibrahim Al Madani, Muazin Masjidil Haram, Wafat Setelah Kumandangkan Adzan Subuh
Aktual
Mengapa Rasulullah Bersiwak Sebelum Shalat? Ini Hikmahnya
Mengapa Rasulullah Bersiwak Sebelum Shalat? Ini Hikmahnya
Aktual
BPKH Kelola Dana Haji Rp 184 Triliun, 70 Persen Ditempatkan di Sukuk Negara
BPKH Kelola Dana Haji Rp 184 Triliun, 70 Persen Ditempatkan di Sukuk Negara
Aktual
Mengapa Rasulullah Menganjurkan Tidur Miring ke Kanan? Ini Hikmahnya
Mengapa Rasulullah Menganjurkan Tidur Miring ke Kanan? Ini Hikmahnya
Aktual
Apa Bedanya Sabar, Ridha, dan Tawakal? Jangan Sampai Tertukar
Apa Bedanya Sabar, Ridha, dan Tawakal? Jangan Sampai Tertukar
Aktual
Jelang Wajib Halal Produk Sandang, Begini Tips Memilih Baju Anak
Jelang Wajib Halal Produk Sandang, Begini Tips Memilih Baju Anak
Aktual
Ketegasan Kiai Miftah dan Masa Depan NU di Abad Kedua
Ketegasan Kiai Miftah dan Masa Depan NU di Abad Kedua
Aktual
Bolehkah Minum Sambil Berdiri? Ini Dalil dan Penjelasan Ulama
Bolehkah Minum Sambil Berdiri? Ini Dalil dan Penjelasan Ulama
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar