Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Siapa Firaun Pengejar Nabi Musa yang Ditelan Laut Merah? Ramses II vs Merneptah

Kompas.com, 7 April 2026, 16:00 WIB
Add on Google
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Kisah penyeberangan laut oleh Nabi Musa AS dan tenggelamnya Fir’aun merupakan salah satu narasi paling dramatis dalam tradisi Islam.

Peristiwa ini tidak hanya tercatat dalam Al-Qur’an, tetapi juga menjadi bahan kajian panjang dalam sejarah, arkeologi, dan ilmu pengetahuan modern.

Pertanyaan yang terus mengemuka hingga kini adalah siapa sebenarnya Fir’aun yang mengejar Nabi Musa AS hingga akhirnya ditelan laut? Apakah ia Ramses II atau justru putranya, Merneptah?

Di antara teks suci, temuan ilmiah, dan interpretasi sejarah, jawaban atas pertanyaan ini tidaklah sederhana. Namun justru di situlah letak daya tariknya.

Jejak Al-Qur’an: Fir’aun dalam Surat Al-Baqarah Ayat 50

Peristiwa penyeberangan laut dijelaskan secara tegas dalam Al-Qur’an, salah satunya pada Surat Al-Baqarah ayat 50:

“Dan (ingatlah) ketika Kami membelah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir’aun dan pengikutnya), sedang kamu menyaksikan.”

Dalam tafsir klasik seperti karya Wahbah az-Zuhayli dalam Tafsir Al-Munir, dijelaskan bahwa pembelahan laut merupakan mukjizat besar Nabi Musa AS, sekaligus bentuk pertolongan Allah kepada Bani Israil. Sementara Fir’aun dan pasukannya ditenggelamkan ketika berada di tengah laut.

Senada dengan itu, tafsir Ibnu Katsir menyebut bahwa peristiwa ini menjadi bukti nyata kekuasaan Allah, di mana laut terbelah menjadi jalan kering yang bisa dilalui manusia.

Namun Al-Qur’an tidak menyebutkan nama Fir’aun tersebut secara spesifik. Di sinilah ruang interpretasi sejarah mulai terbuka.

Baca juga: Kisah Musa dan Harun, Dakwah Lembut di Hadapan Penguasa Zalim

Dua Teori Besar: Ramses II atau Merneptah?

Dalam kajian sejarah Mesir Kuno, para peneliti umumnya mengerucut pada dua tokoh utama:

1. Teori Ramses II

Ramses II adalah salah satu firaun paling terkenal dalam sejarah Mesir. Ia memerintah sekitar 1279–1213 SM dan dikenal sebagai pemimpin besar yang membawa Mesir pada puncak kejayaannya.

Banyak sejarawan mengaitkan Ramses II dengan kisah Nabi Musa karena:

  • Masa pemerintahannya sesuai dengan periode yang sering dikaitkan dengan kisah Exodus (keluarnya Bani Israil).
  • Ia dikenal sebagai penguasa kuat yang membangun banyak proyek besar, termasuk kota-kota yang disebut dalam kitab suci.

Dalam buku Biblical History and Israel’s Past karya Megan Bishop Moore dan Brad Kelle, Ramses II sering dikaitkan dengan kisah penindasan terhadap Bani Israil.

Namun ada satu masalah besar, secara ilmiah, Ramses II diketahui wafat pada usia lanjut (sekitar 90 tahun) akibat penyakit degeneratif, bukan karena tenggelam.

2. Teori Merneptah

Teori kedua menyebut Merneptah sebagai Fir’aun yang tenggelam.

Merneptah adalah putra Ramses II yang naik takhta setelah ayahnya wafat, sekitar 1213–1203 SM. Ia dianggap sebagai kandidat kuat karena:

  • Ia adalah penerus langsung Ramses II.
  • Secara kronologis, ia bisa menjadi penguasa saat peristiwa penyeberangan laut terjadi.

Dalam buku Arkeologi Al-Qur’an karya Ali Akbar, disebutkan bahwa sangat mungkin Nabi Musa AS hidup pada masa transisi antara Ramses II dan Merneptah.

Ramses II diduga sebagai penguasa yang membesarkan Musa di istana, sementara Merneptah adalah Fir’aun yang mengejarnya.

Baca juga: 9 Mukjizat Nabi Musa Lengkap: Dari Tongkat Hingga Laut Terbelah

Penelitian Modern: Temuan Maurice Bucaille

Nama Maurice Bucaille menjadi sangat penting dalam diskusi ini.

Dalam bukunya Mummies of the Pharaohs: Modern Medical Investigations, Bucaille melakukan penelitian radiologi terhadap mumi Merneptah. Ia menemukan:

  • Jejak garam laut pada jaringan tubuh
  • Kerusakan tulang yang mengindikasikan trauma sebelum kematian

Temuan ini memunculkan hipotesis bahwa Merneptah mungkin meninggal akibat tenggelam atau peristiwa air besar.

Bucaille kemudian mengaitkan temuannya dengan ayat Al-Qur’an (QS Yunus: 92) yang menyebut bahwa jasad Fir’aun akan diselamatkan sebagai pelajaran bagi generasi setelahnya.

Namun, kesimpulan ini tidak sepenuhnya diterima oleh semua ilmuwan.

Kritik dan Perdebatan Ilmiah

Sejumlah ahli modern, termasuk Zahi Hawass dan Sahar Saleem, menyatakan bahwa:

  • Tidak ada bukti arkeologis langsung tentang tenggelamnya Fir’aun
  • Garam pada mumi bisa berasal dari proses mumifikasi (natron), bukan air laut
  • Penyebab kematian tidak bisa dipastikan hanya dari CT scan

Dalam buku Scanning the Pharaohs, Sahar Saleem menegaskan bahwa interpretasi ilmiah harus berhati-hati dan tidak langsung disimpulkan sebagai bukti peristiwa religius.

Dengan kata lain, sains belum mampu memastikan secara pasti siapa Fir’aun dalam kisah Nabi Musa.

Baca juga: Kisah Nabi Musa AS Menurut Al Quran yang Penuh Hikmah

Perspektif Tafsir: Makna Lebih dari Sekadar Nama

Dalam tradisi Islam, fokus utama bukanlah identitas Fir’aun, melainkan pelajaran dari peristiwa tersebut.

Dalam Ihya Ulumuddin, Al-Ghazali menjelaskan bahwa kisah-kisah dalam Al-Qur’an mengandung hikmah moral dan spiritual, bukan sekadar detail historis.

Fir’aun menjadi simbol:

  • Kesombongan kekuasaan
  • Penindasan terhadap kebenaran
  • Penolakan terhadap risalah tauhid

Sementara Nabi Musa AS melambangkan:

  • Keimanan
  • Keberanian melawan tirani
  • Ketergantungan penuh kepada Allah
  • Rekonstruksi Wajah dan Daya Tarik Modern

Menariknya, perkembangan teknologi juga membawa kisah ini ke ranah visual. Wajah Ramses II berhasil direkonstruksi melalui teknik CT scan dan CGI oleh tim ilmuwan internasional.

Penelitian ini dipimpin oleh ahli seperti Caroline Wilkinson dan Sahar Saleem, yang mencoba menggambarkan wajah Ramses II di masa jayanya.

Hasilnya menunjukkan sosok pemimpin yang karismatik, sesuatu yang memperkuat citranya sebagai tokoh besar dalam sejarah.

Namun sekali lagi, apakah ia Fir’aun dalam kisah Nabi Musa? Jawabannya tetap terbuka.

Kesimpulan: Antara Sejarah, Sains, dan Iman

Dari berbagai sumber, dapat ditarik satu kesimpulan penting:

  • Secara historis, kandidat terkuat adalah Ramses II dan Merneptah
  • Secara ilmiah, belum ada bukti pasti siapa yang tenggelam
  • Secara teologis, identitas bukanlah inti utama dari kisah

Yang paling penting adalah pesan yang dibawa, bahwa kekuasaan sebesar apa pun tidak akan mampu melawan kebenaran jika ia dibangun di atas kesombongan.

Dan mungkin, seperti yang tercermin dalam ayat-ayat Al-Qur’an, kisah Fir’aun bukan untuk menjawab “siapa”, melainkan untuk menjawab “mengapa”, mengapa kesombongan selalu berujung pada kehancuran.

Di situlah kisah ini tetap hidup, melampaui zaman, menjadi pelajaran bagi siapa saja yang mau merenungkan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Jadwal Lengkap Keberangkatan dan Pemulangan Jemaah Haji Indonesia 2026
Jadwal Lengkap Keberangkatan dan Pemulangan Jemaah Haji Indonesia 2026
Aktual
Biaya Haji Lokal Sulut Naik Jadi Rp 5 Juta Per Jemaah, Dibiayai APBD
Biaya Haji Lokal Sulut Naik Jadi Rp 5 Juta Per Jemaah, Dibiayai APBD
Aktual
Kisah Harsono, Jemaah Haji Tertua Karanganyar yang Berangkat dari Menabung Hasil Tani dan Ternak
Kisah Harsono, Jemaah Haji Tertua Karanganyar yang Berangkat dari Menabung Hasil Tani dan Ternak
Aktual
 Petugas Haji Indonesia Mulai Berangkat ke Arab Saudi untuk Siapkan Layanan Jamaah Haji 2026
Petugas Haji Indonesia Mulai Berangkat ke Arab Saudi untuk Siapkan Layanan Jamaah Haji 2026
Aktual
460 Petugas Haji RI Lebih Dulu Terbang ke Madinah, Siap Layani Jemaah Selama 77 Hari
460 Petugas Haji RI Lebih Dulu Terbang ke Madinah, Siap Layani Jemaah Selama 77 Hari
Aktual
Haji 2026 Dimulai 18 April, Jemaah Indonesia Masuk Gelombang Awal
Haji 2026 Dimulai 18 April, Jemaah Indonesia Masuk Gelombang Awal
Aktual
Polisi di Banyuwangi Diminta Jaga Wudhu dan Shalat: Integritas Dimulai dari Kesucian Diri
Polisi di Banyuwangi Diminta Jaga Wudhu dan Shalat: Integritas Dimulai dari Kesucian Diri
Aktual
Batal ke Makkah, Tapi Justru Dapat Predikat Haji Mabrur dari Allah
Batal ke Makkah, Tapi Justru Dapat Predikat Haji Mabrur dari Allah
Aktual
Badai Petir Landa Saudi, NCM Peringatkan Cuaca Ekstrem Hingga Akhir Pekan
Badai Petir Landa Saudi, NCM Peringatkan Cuaca Ekstrem Hingga Akhir Pekan
Aktual
Kisah Jemaah Haji Termuda RI Asal Pontianak, Berangkat di Usia 13 tahun untuk Doakan Mendiang Ibu
Kisah Jemaah Haji Termuda RI Asal Pontianak, Berangkat di Usia 13 tahun untuk Doakan Mendiang Ibu
Aktual
Kisah Jemaah Haji Termuda Banjarmasin, Bisa Berangkat 20 Lebih Cepat dan Menjemput Panggilan di Usia 17 Tahun
Kisah Jemaah Haji Termuda Banjarmasin, Bisa Berangkat 20 Lebih Cepat dan Menjemput Panggilan di Usia 17 Tahun
Aktual
Ini Jadwal Asrama Haji 2026: Kegiatan hingga Larangan Jemaah
Ini Jadwal Asrama Haji 2026: Kegiatan hingga Larangan Jemaah
Aktual
Kisah Kakek Usia 103 Tahun yang Jadi Jemaah Haji Tertua DIY, Berangkat untuk Tunaikan Wasiat Istri
Kisah Kakek Usia 103 Tahun yang Jadi Jemaah Haji Tertua DIY, Berangkat untuk Tunaikan Wasiat Istri
Aktual
Belum Aqiqah Tapi Mau Kurban, Apakah Sah? Ini Penjelasan Ulama
Belum Aqiqah Tapi Mau Kurban, Apakah Sah? Ini Penjelasan Ulama
Aktual
Apakah Boleh Kurban Atas Nama Satu Keluarga? Ini Penjelasan Ulama
Apakah Boleh Kurban Atas Nama Satu Keluarga? Ini Penjelasan Ulama
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com