Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bukan Sekadar Pilihan, Menjauhi Orang Toxic Ternyata Perintah Allah

Kompas.com, 11 April 2026, 14:11 WIB
Add on Google
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Di tengah maraknya istilah toxic relationship dalam percakapan modern, banyak orang mulai sadar bahwa tidak semua hubungan layak dipertahankan.

Namun dalam perspektif Islam, menjaga jarak dari lingkungan yang merusak ternyata bukan sekadar pilihan pribadi, melainkan bagian dari tuntunan agama.

Islam sejak awal telah mengajarkan pentingnya menjaga diri dari pengaruh buruk, baik secara sosial maupun spiritual.

Bahkan, Al-Qur’an memberikan panduan jelas tentang bagaimana menyikapi orang-orang yang membawa dampak negatif dalam kehidupan.

Lantas, benarkah menjauhi orang “toxic” bukan hanya boleh, tetapi juga dianjurkan dalam Islam?

Baca juga: Hati-hati, Ini Penyebab Doa Sulit Diijabah Menurut Islam

Toxic dalam Kacamata Islam: Bukan Istilah Baru

Secara bahasa, toxic berarti racun. Dalam konteks sosial, istilah ini merujuk pada perilaku yang merusak mental, emosi, dan bahkan keimanan seseorang.

Meski istilahnya modern, konsepnya sudah lama dikenal dalam ajaran Islam. Sifat-sifat seperti:

  • Hasad (iri dengki)
  • Takabbur (sombong)
  • Ghibah (menggunjing)
  • Namimah (adu domba)

merupakan bentuk “racun sosial” yang dapat merusak hubungan antar manusia.

Dalam hadis riwayat Nabi Muhammad, disebutkan bahwa seorang Muslim sejati adalah mereka yang orang lain selamat dari lisan dan tangannya.

Ini menunjukkan bahwa dampak sosial dari perilaku negatif telah menjadi perhatian utama dalam Islam sejak awal.

Baca juga: Doa Keluar Rumah: Amalan Agar Selamat dan Dijauhkan dari Kejahatan

Perintah Menjauh dengan Cara yang Baik

Salah satu landasan utama terkait sikap terhadap lingkungan negatif terdapat dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam Surah Al-Muzzammil ayat 10–11.

Ayat 10:

وَاصْبِرْ عَلٰى مَا يَقُوْلُوْنَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيْلًا

Waṣbir ‘alā mā yaqūlūna wahjurhum hajran jamīlā

Artinya: “Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.”

Ayat 11:

وَذَرْنِيْ وَالْمُكَذِّبِيْنَ اُولِى النَّعْمَةِ وَمَهِّلْهُمْ قَلِيْلًا

Wa dzarnī wal-mukadzdzibīna ulī an-na‘mati wa mahhilhum qalīlā

Artinya: “Dan biarkanlah Aku (yang bertindak) terhadap orang-orang yang mendustakan itu, yaitu orang-orang yang memiliki kemewahan, dan beri mereka penangguhan sebentar.”

Ayat ini menegaskan bahwa menghadapi orang dengan perilaku buruk tidak harus dengan balasan yang sama.

Islam justru mengajarkan kombinasi antara kesabaran, menjaga jarak, dan menyerahkan urusan kepada Allah.

Konsep “hajran jamīlā” (menjauh dengan cara yang baik) menjadi kunci penting bahwa menjaga jarak dari orang toxic bukan berarti membalas keburukan, tetapi tetap menjaga akhlak, martabat, dan ketenangan diri.

Dalam kitab tafsir seperti Tafsir Al-Muyassar, dijelaskan bahwa menjauh dilakukan tanpa menyakiti, tanpa balasan keburukan, dan tetap dalam koridor etika.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa Islam tidak mengajarkan konfrontasi tanpa kendali, melainkan pengendalian diri dan pemilihan lingkungan yang sehat.

Menghindari Lingkungan Negatif dalam Al-Qur’an

Pesan serupa juga ditegaskan dalam Surah Al-An’am ayat 68, yang mengingatkan agar menjauhi orang-orang yang memperolok ayat-ayat Allah hingga mereka berpindah pembicaraan.

وَاِذَا رَاَيْتَ الَّذِيْنَ يَخُوْضُوْنَ فِيْٓ اٰيٰتِنَا فَاَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتّٰى يَخُوْضُوْا فِيْ حَدِيْثٍ غَيْرِهٖۗ وَاِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطٰنُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرٰى مَعَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ

Artinya: Apabila engkau (Nabi Muhammad) melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka hingga mereka beralih ke pembicaraan lain. Jika setan benar-benar menjadikan engkau lupa (akan larangan ini), setelah ingat kembali janganlah engkau duduk bersama kaum yang zalim. (QS. Al-An’am: 68)

Ayat ini bukan hanya berbicara tentang konteks keimanan, tetapi juga memberi prinsip umum, ketika suatu lingkungan sudah tidak sehat, maka menjaga jarak adalah bentuk perlindungan diri.

Dalam perspektif ulama, ini menjadi dasar bahwa menjaga diri dari pengaruh buruk adalah bagian dari menjaga iman (hifdz ad-din).

Baca juga: Ahli Ibadah Masuk Neraka, Pelajaran Penting dari Lisan dan Akhlak

Ciri-Ciri “Orang Toxic” dalam Perspektif Akhlak

Dalam kajian akhlak Islam, perilaku toxic dapat dikenali melalui beberapa karakter:

  • Merendahkan dan melemahkan orang lain
  • Suka memanipulasi demi kepentingan pribadi
  • Menyebarkan energi negatif, gosip, dan pesimisme
  • Tidak menghormati batasan orang lain
  • Enggan bertanggung jawab atas kesalahan

Dalam buku Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali, dijelaskan bahwa menjaga pergaulan merupakan kunci menjaga hati. Lingkungan yang buruk akan perlahan mempengaruhi akhlak dan pola pikir seseorang.

Menjaga Jarak Bukan Berarti Membenci

Sering kali muncul kesalahpahaman bahwa menjauh berarti memutus silaturahmi atau bersikap tidak baik. Padahal, Islam membedakan antara menjaga diri dan memutus hubungan.

Dalam buku La Tahzan karya Aidh al-Qarni, dijelaskan bahwa menjaga jarak dari hal-hal yang merusak adalah bentuk menjaga kesehatan jiwa.

Artinya, seseorang tetap bisa bersikap baik, mendoakan, dan tidak menyimpan kebencian, meski memilih untuk tidak terlibat secara dekat.

Strategi Islami Menghadapi Lingkungan Toxic

Menjauhi pengaruh negatif tidak selalu harus dilakukan secara drastis. Islam mengajarkan pendekatan bertahap dan bijak:

Pertama, mengenali tanda-tanda perilaku merusak. Kesadaran ini menjadi langkah awal untuk melindungi diri.

Kedua, menetapkan batasan. Dalam Islam, menjaga diri (hifdz an-nafs) termasuk tujuan utama syariat.

Ketiga, mengurangi interaksi yang tidak perlu. Tidak semua percakapan harus direspons, terutama jika membawa dampak buruk.

Keempat, mencari lingkungan yang baik. Rasulullah SAW mengibaratkan teman yang baik seperti penjual minyak wangi—memberi manfaat meski hanya berada di dekatnya.

Kelima, memperkuat spiritualitas. Dzikir, doa, dan ibadah menjadi benteng utama dari pengaruh negatif.

Baca juga: Ibadah: Sistem Ilahi untuk Membentuk Akhlak Mulia

Perspektif Psikologi dan Islam: Sejalan

Menariknya, konsep ini juga sejalan dengan ilmu psikologi modern. Banyak penelitian menunjukkan bahwa lingkungan sosial sangat memengaruhi kesehatan mental seseorang.

Namun, Islam melangkah lebih jauh dengan mengaitkannya pada aspek spiritual. Lingkungan tidak hanya memengaruhi emosi, tetapi juga keimanan.

Dalam buku Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq, dijelaskan bahwa menjaga diri dari kerusakan adalah bagian dari menjaga maslahat hidup manusia secara menyeluruh.

Antara Sabar dan Selektif

Islam memang mengajarkan kesabaran. Namun, sabar bukan berarti membiarkan diri terus berada dalam lingkungan yang merusak.

Ada titik di mana seseorang perlu bersabar dan ada titik di mana ia perlu mengambil jarak.

Keseimbangan inilah yang menjadi kunci, tetap berakhlak baik, tetapi juga menjaga diri dari kerusakan yang lebih besar.

Lebih dari Sekadar Tren

Di era media sosial, istilah “toxic” sering digunakan secara longgar. Namun dalam Islam, konsep ini memiliki akar yang jauh lebih dalam.

Menjauhi orang-orang yang membawa dampak buruk bukanlah bentuk egoisme, melainkan upaya menjaga diri, iman, dan kualitas hidup.

Pada akhirnya, bukan tentang siapa yang dijauhi, tetapi tentang apa yang ingin dijaga.

Karena dalam Islam, menjaga hati, pikiran, dan iman adalah prioritas utama dan memilih lingkungan yang sehat adalah bagian dari ibadah itu sendiri.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Kehidupan di Alam Barzah, Simak Penjelasan Ulama tentang Kondisi Manusia di Alam Kubur
Kehidupan di Alam Barzah, Simak Penjelasan Ulama tentang Kondisi Manusia di Alam Kubur
Aktual
Hukum Menanam Tanaman di Atas Makam: Benarkah Bisa Ringankan Siksa Kubur?
Hukum Menanam Tanaman di Atas Makam: Benarkah Bisa Ringankan Siksa Kubur?
Aktual
Hadits Nabi Tegaskan Bahaya Mendoakan Keburukan, Salah Satu Doa yang Dilarang dalam Islam
Hadits Nabi Tegaskan Bahaya Mendoakan Keburukan, Salah Satu Doa yang Dilarang dalam Islam
Doa dan Niat
Berawal dari Surat Nabi, Ini Kisah Tragis 'Robeknya' Kerajaan Persia
Berawal dari Surat Nabi, Ini Kisah Tragis 'Robeknya' Kerajaan Persia
Aktual
Asrama Haji Donohudan Siap Sambut Jemaah Haji 2026, Kloter Pertama Masuk 21 April
Asrama Haji Donohudan Siap Sambut Jemaah Haji 2026, Kloter Pertama Masuk 21 April
Aktual
Raja Persia Robek Surat Nabi, Ini Isi dan Kisah Lengkapnya
Raja Persia Robek Surat Nabi, Ini Isi dan Kisah Lengkapnya
Aktual
Bukan Sekadar Pilihan, Menjauhi Orang Toxic Ternyata Perintah Allah
Bukan Sekadar Pilihan, Menjauhi Orang Toxic Ternyata Perintah Allah
Aktual
Tulisan Barakallah Fii Umrik yang Benar: Arab, Arti, dan Cara Menjawab
Tulisan Barakallah Fii Umrik yang Benar: Arab, Arti, dan Cara Menjawab
Aktual
Masyaallah Tabarakallah: Tulisan Arab, Arti, dan Cara Menjawab
Masyaallah Tabarakallah: Tulisan Arab, Arti, dan Cara Menjawab
Aktual
Doa Thawaf Lengkap 7 Putaran dan Doa Setelah Thawaf
Doa Thawaf Lengkap 7 Putaran dan Doa Setelah Thawaf
Doa dan Niat
Tulisan Assalamualaikum yang Benar, Lengkap Arab dan Maknanya
Tulisan Assalamualaikum yang Benar, Lengkap Arab dan Maknanya
Aktual
Doa-doa di Makkah Al-Mukarramah: Bacaan Arab, Arti, dan Keutamaannya bagi Jemaah Haji
Doa-doa di Makkah Al-Mukarramah: Bacaan Arab, Arti, dan Keutamaannya bagi Jemaah Haji
Doa dan Niat
Wamenhaj Pastikan Biaya Haji Tetap Terjaga di Tengah Kenaikan Harga Avtur
Wamenhaj Pastikan Biaya Haji Tetap Terjaga di Tengah Kenaikan Harga Avtur
Aktual
Bacaan Talbiyah Haji & Salawat: Arab, Latin, dan Artinya
Bacaan Talbiyah Haji & Salawat: Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
Niat Ihram dan Doa Haji: Arab, Latin, Arti, dan Kemudahan bagi Jemaah
Niat Ihram dan Doa Haji: Arab, Latin, Arti, dan Kemudahan bagi Jemaah
Doa dan Niat
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com