KOMPAS.com – Di tengah maraknya istilah toxic relationship dalam percakapan modern, banyak orang mulai sadar bahwa tidak semua hubungan layak dipertahankan.
Namun dalam perspektif Islam, menjaga jarak dari lingkungan yang merusak ternyata bukan sekadar pilihan pribadi, melainkan bagian dari tuntunan agama.
Islam sejak awal telah mengajarkan pentingnya menjaga diri dari pengaruh buruk, baik secara sosial maupun spiritual.
Bahkan, Al-Qur’an memberikan panduan jelas tentang bagaimana menyikapi orang-orang yang membawa dampak negatif dalam kehidupan.
Lantas, benarkah menjauhi orang “toxic” bukan hanya boleh, tetapi juga dianjurkan dalam Islam?
Baca juga: Hati-hati, Ini Penyebab Doa Sulit Diijabah Menurut Islam
Secara bahasa, toxic berarti racun. Dalam konteks sosial, istilah ini merujuk pada perilaku yang merusak mental, emosi, dan bahkan keimanan seseorang.
Meski istilahnya modern, konsepnya sudah lama dikenal dalam ajaran Islam. Sifat-sifat seperti:
merupakan bentuk “racun sosial” yang dapat merusak hubungan antar manusia.
Dalam hadis riwayat Nabi Muhammad, disebutkan bahwa seorang Muslim sejati adalah mereka yang orang lain selamat dari lisan dan tangannya.
Ini menunjukkan bahwa dampak sosial dari perilaku negatif telah menjadi perhatian utama dalam Islam sejak awal.
Baca juga: Doa Keluar Rumah: Amalan Agar Selamat dan Dijauhkan dari Kejahatan
Salah satu landasan utama terkait sikap terhadap lingkungan negatif terdapat dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam Surah Al-Muzzammil ayat 10–11.
Ayat 10:
وَاصْبِرْ عَلٰى مَا يَقُوْلُوْنَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيْلًا
Waṣbir ‘alā mā yaqūlūna wahjurhum hajran jamīlā
Artinya: “Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.”
Ayat 11:
وَذَرْنِيْ وَالْمُكَذِّبِيْنَ اُولِى النَّعْمَةِ وَمَهِّلْهُمْ قَلِيْلًا
Wa dzarnī wal-mukadzdzibīna ulī an-na‘mati wa mahhilhum qalīlā
Artinya: “Dan biarkanlah Aku (yang bertindak) terhadap orang-orang yang mendustakan itu, yaitu orang-orang yang memiliki kemewahan, dan beri mereka penangguhan sebentar.”
Ayat ini menegaskan bahwa menghadapi orang dengan perilaku buruk tidak harus dengan balasan yang sama.
Islam justru mengajarkan kombinasi antara kesabaran, menjaga jarak, dan menyerahkan urusan kepada Allah.
Konsep “hajran jamīlā” (menjauh dengan cara yang baik) menjadi kunci penting bahwa menjaga jarak dari orang toxic bukan berarti membalas keburukan, tetapi tetap menjaga akhlak, martabat, dan ketenangan diri.
Dalam kitab tafsir seperti Tafsir Al-Muyassar, dijelaskan bahwa menjauh dilakukan tanpa menyakiti, tanpa balasan keburukan, dan tetap dalam koridor etika.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa Islam tidak mengajarkan konfrontasi tanpa kendali, melainkan pengendalian diri dan pemilihan lingkungan yang sehat.
Pesan serupa juga ditegaskan dalam Surah Al-An’am ayat 68, yang mengingatkan agar menjauhi orang-orang yang memperolok ayat-ayat Allah hingga mereka berpindah pembicaraan.
وَاِذَا رَاَيْتَ الَّذِيْنَ يَخُوْضُوْنَ فِيْٓ اٰيٰتِنَا فَاَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتّٰى يَخُوْضُوْا فِيْ حَدِيْثٍ غَيْرِهٖۗ وَاِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطٰنُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرٰى مَعَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ
Artinya: Apabila engkau (Nabi Muhammad) melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka hingga mereka beralih ke pembicaraan lain. Jika setan benar-benar menjadikan engkau lupa (akan larangan ini), setelah ingat kembali janganlah engkau duduk bersama kaum yang zalim. (QS. Al-An’am: 68)
Ayat ini bukan hanya berbicara tentang konteks keimanan, tetapi juga memberi prinsip umum, ketika suatu lingkungan sudah tidak sehat, maka menjaga jarak adalah bentuk perlindungan diri.
Dalam perspektif ulama, ini menjadi dasar bahwa menjaga diri dari pengaruh buruk adalah bagian dari menjaga iman (hifdz ad-din).
Baca juga: Ahli Ibadah Masuk Neraka, Pelajaran Penting dari Lisan dan Akhlak
Dalam kajian akhlak Islam, perilaku toxic dapat dikenali melalui beberapa karakter:
Dalam buku Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali, dijelaskan bahwa menjaga pergaulan merupakan kunci menjaga hati. Lingkungan yang buruk akan perlahan mempengaruhi akhlak dan pola pikir seseorang.
Sering kali muncul kesalahpahaman bahwa menjauh berarti memutus silaturahmi atau bersikap tidak baik. Padahal, Islam membedakan antara menjaga diri dan memutus hubungan.
Dalam buku La Tahzan karya Aidh al-Qarni, dijelaskan bahwa menjaga jarak dari hal-hal yang merusak adalah bentuk menjaga kesehatan jiwa.
Artinya, seseorang tetap bisa bersikap baik, mendoakan, dan tidak menyimpan kebencian, meski memilih untuk tidak terlibat secara dekat.
Menjauhi pengaruh negatif tidak selalu harus dilakukan secara drastis. Islam mengajarkan pendekatan bertahap dan bijak:
Pertama, mengenali tanda-tanda perilaku merusak. Kesadaran ini menjadi langkah awal untuk melindungi diri.
Kedua, menetapkan batasan. Dalam Islam, menjaga diri (hifdz an-nafs) termasuk tujuan utama syariat.
Ketiga, mengurangi interaksi yang tidak perlu. Tidak semua percakapan harus direspons, terutama jika membawa dampak buruk.
Keempat, mencari lingkungan yang baik. Rasulullah SAW mengibaratkan teman yang baik seperti penjual minyak wangi—memberi manfaat meski hanya berada di dekatnya.
Kelima, memperkuat spiritualitas. Dzikir, doa, dan ibadah menjadi benteng utama dari pengaruh negatif.
Baca juga: Ibadah: Sistem Ilahi untuk Membentuk Akhlak Mulia
Menariknya, konsep ini juga sejalan dengan ilmu psikologi modern. Banyak penelitian menunjukkan bahwa lingkungan sosial sangat memengaruhi kesehatan mental seseorang.
Namun, Islam melangkah lebih jauh dengan mengaitkannya pada aspek spiritual. Lingkungan tidak hanya memengaruhi emosi, tetapi juga keimanan.
Dalam buku Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq, dijelaskan bahwa menjaga diri dari kerusakan adalah bagian dari menjaga maslahat hidup manusia secara menyeluruh.
Islam memang mengajarkan kesabaran. Namun, sabar bukan berarti membiarkan diri terus berada dalam lingkungan yang merusak.
Ada titik di mana seseorang perlu bersabar dan ada titik di mana ia perlu mengambil jarak.
Keseimbangan inilah yang menjadi kunci, tetap berakhlak baik, tetapi juga menjaga diri dari kerusakan yang lebih besar.
Di era media sosial, istilah “toxic” sering digunakan secara longgar. Namun dalam Islam, konsep ini memiliki akar yang jauh lebih dalam.
Menjauhi orang-orang yang membawa dampak buruk bukanlah bentuk egoisme, melainkan upaya menjaga diri, iman, dan kualitas hidup.
Pada akhirnya, bukan tentang siapa yang dijauhi, tetapi tentang apa yang ingin dijaga.
Karena dalam Islam, menjaga hati, pikiran, dan iman adalah prioritas utama dan memilih lingkungan yang sehat adalah bagian dari ibadah itu sendiri.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang