Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ahli Ibadah Masuk Neraka, Pelajaran Penting dari Lisan dan Akhlak

Kompas.com, 7 Februari 2026, 07:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Dalam kehidupan beragama, seringkali kita berasumsi bahwa banyak ibadah lahiriah menjamin keselamatan di akhirat.

Sholat lima waktu, puasa, sedekah, dan zikir rutin dianggap tiket pasti menuju surga. Namun, kisah-kisah dari hadits dan literatur Islam menunjukkan bahwa ibadah lahiriah tanpa akhlak yang baik bisa membawa seseorang ke neraka.

Fenomena ini menekankan pentingnya akhlak dan lisan dalam Islam, bahkan kadang melebihi jumlah ibadah yang dilakukan.

Baca juga: 7 Keutamaan Akhlak Mulia dalam Pandangan Islam

Lisan dan Akhlak, Penentu Berat Timbangan Amal

Rasulullah SAW bersabda:

مَا مِنْ شَيْءٍ يُوضَعُ فِي الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ وَإِنَّ صَاحِبَ حُسْنِ الْخُلُقِ لَيَبْلُغُ بِهِ دَرَجَةَ صَاحِبِ الصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ

Ma min syai’in yuwaḍa’u fil mīzāni athqal min husnil khuluqi wa inna ṣāhiba husnil khuluqi layablugh bihi darajata ṣāhibis shāmi was ṣalāti

Artinya: “Tidak ada sesuatu pun diletakkan di atas timbangan, yang beratnya melebihi berat akhlak yang baik. Dan seorang pemilik akhlak baik itu akan mencapai derajat ahli puasa dan salat.” (HR. At-Tirmidzi)

Hadits ini menegaskan bahwa akhlak, termasuk cara kita menggunakan lisan, memiliki peran fundamental dalam menentukan pahala akhirat.

Baca juga: Ibadah: Sistem Ilahi untuk Membentuk Akhlak Mulia

Kisah Ahli Ibadah yang Masuk Neraka

Dalam kitab Kaifa Tujaawiriina al-Habiib Shallallahu 'Alaihi wa Sallama fii al-Jannah karya Akram Ridha, diterjemahkan oleh M. Abdul Ghoffar, terdapat kisah berikut:

Seorang wanita dikenal rajin salat, puasa, dan berzikir, namun sering menyakiti tetangganya dengan lisannya. Saat ditanyakan kepada Rasulullah SAW:

“Wahai Rasulullah, ada seorang wanita yang rajin salat, puasa, dan sedekah, tetapi ia sering menyakiti tetangganya dengan lisannya.”

Beliau menjawab:

“Wanita itu akan berada di neraka.”

Sebaliknya, seorang wanita lain yang jarang beribadah namun tidak menyakiti tetangganya dan melakukan kebaikan kecil, seperti memberi sepotong keju, dijanjikan masuk surga:

“Wanita itu akan berada di surga.”

Kisah ini juga diriwayatkan dalam hadits Imam Ahmad dari Abu Hurairah RA, menegaskan bahwa ibadah lahiriah tanpa akhlak sosial bisa menjadi sia-sia.

Akhlak, Ukuran Kesempurnaan Iman

Rasulullah SAW menegaskan:

إِنَّ مِنْ أَكْمَلِ الْمُؤْمِنِينَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَأَلْطَفُهُمْ بِأَهْلِهِ

Inna min akmali al-mu’minīna īmānan aḥsanuhum khuluqan wa alṭafuhum bi ahlihi

Artinya: “Sesungguhnya yang paling sempurna imannya di antara orang-orang mukmin adalah orang yang paling baik akhlaknya dan yang paling lembut kepada keluarganya.” (HR. At-Tirmidzi)

Hadits ini menekankan bahwa kesempurnaan iman tidak hanya diukur dari ibadah, tetapi dari kebaikan akhlak dan kelembutan hati.

Baca juga: Khutbah Jumat: Pentingnya Menjaga Lisan dan Tulisan

Perspektif Ulama dan Literatur

Dalam kajian para ulama dan literatur Islam, kisah tentang ahli ibadah yang masuk neraka karena lisannya memberikan pelajaran penting terkait hubungan antara ibadah lahiriah dan akhlak.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menekankan bahwa ibadah lahiriah yang dilakukan tanpa pengendalian hati dan lisan berisiko mengurangi pahala serta menimbulkan kerugian spiritual.

Begitu pula Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Lathaif al-Ma’arif menegaskan bahwa kerusakan sosial, seperti menyakiti tetangga, merendahkan orang lain atau menimbulkan permusuhan, bisa menimbulkan dosa yang lebih besar daripada kekurangan ibadah.

Hal ini sejalan dengan pandangan Dr. M. Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an, yang menekankan bahwa Al-Qur’an sangat menekankan kebersihan hati, termasuk penggunaan lisan, karena hal tersebut berdampak langsung pada ketenangan batin dan keberkahan amal.

Baca juga: Perintah Menjaga Lisan agar tidak Membawa Kebinasaan

Pesan Moral

Kisah ini menegaskan bahwa ibadah lahiriah tanpa akhlak yang baik dapat menyesatkan dan lisan serta perilaku sosial memiliki bobot sama pentingnya dengan salat, puasa, dan sedekah.

Akhlak yang baik tidak hanya memberatkan timbangan amal di akhirat, tetapi juga mendekatkan seorang hamba kepada surga, bahkan ketika ibadah lahiriah terbatas.

Kesabaran, kelembutan hati, dan kemampuan menghormati sesama menjadi inti dari iman yang sempurna.

Dengan demikian, kesalehan sosial dan akhlak mulia menjadi penentu sejati keselamatan di sisi Allah.

Masyarakat modern pun dapat mengambil hikmah dari kisah ini dengan rajin beribadah tidak cukup jika mengabaikan etika sosial, karena ibadah harus senantiasa dibarengi dengan akhlak dan kesadaran terhadap sesama untuk memastikan keberkahan dan ridha Allah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com