KOMPAS.com - Dalam kehidupan beragama, seringkali kita berasumsi bahwa banyak ibadah lahiriah menjamin keselamatan di akhirat.
Sholat lima waktu, puasa, sedekah, dan zikir rutin dianggap tiket pasti menuju surga. Namun, kisah-kisah dari hadits dan literatur Islam menunjukkan bahwa ibadah lahiriah tanpa akhlak yang baik bisa membawa seseorang ke neraka.
Fenomena ini menekankan pentingnya akhlak dan lisan dalam Islam, bahkan kadang melebihi jumlah ibadah yang dilakukan.
Baca juga: 7 Keutamaan Akhlak Mulia dalam Pandangan Islam
Rasulullah SAW bersabda:
مَا مِنْ شَيْءٍ يُوضَعُ فِي الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ وَإِنَّ صَاحِبَ حُسْنِ الْخُلُقِ لَيَبْلُغُ بِهِ دَرَجَةَ صَاحِبِ الصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ
Ma min syai’in yuwaḍa’u fil mīzāni athqal min husnil khuluqi wa inna ṣāhiba husnil khuluqi layablugh bihi darajata ṣāhibis shāmi was ṣalāti
Artinya: “Tidak ada sesuatu pun diletakkan di atas timbangan, yang beratnya melebihi berat akhlak yang baik. Dan seorang pemilik akhlak baik itu akan mencapai derajat ahli puasa dan salat.” (HR. At-Tirmidzi)
Hadits ini menegaskan bahwa akhlak, termasuk cara kita menggunakan lisan, memiliki peran fundamental dalam menentukan pahala akhirat.
Baca juga: Ibadah: Sistem Ilahi untuk Membentuk Akhlak Mulia
Dalam kitab Kaifa Tujaawiriina al-Habiib Shallallahu 'Alaihi wa Sallama fii al-Jannah karya Akram Ridha, diterjemahkan oleh M. Abdul Ghoffar, terdapat kisah berikut:
Seorang wanita dikenal rajin salat, puasa, dan berzikir, namun sering menyakiti tetangganya dengan lisannya. Saat ditanyakan kepada Rasulullah SAW:
“Wahai Rasulullah, ada seorang wanita yang rajin salat, puasa, dan sedekah, tetapi ia sering menyakiti tetangganya dengan lisannya.”
Beliau menjawab:
“Wanita itu akan berada di neraka.”
Sebaliknya, seorang wanita lain yang jarang beribadah namun tidak menyakiti tetangganya dan melakukan kebaikan kecil, seperti memberi sepotong keju, dijanjikan masuk surga:
“Wanita itu akan berada di surga.”
Kisah ini juga diriwayatkan dalam hadits Imam Ahmad dari Abu Hurairah RA, menegaskan bahwa ibadah lahiriah tanpa akhlak sosial bisa menjadi sia-sia.
Rasulullah SAW menegaskan:
إِنَّ مِنْ أَكْمَلِ الْمُؤْمِنِينَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَأَلْطَفُهُمْ بِأَهْلِهِ
Inna min akmali al-mu’minīna īmānan aḥsanuhum khuluqan wa alṭafuhum bi ahlihi
Artinya: “Sesungguhnya yang paling sempurna imannya di antara orang-orang mukmin adalah orang yang paling baik akhlaknya dan yang paling lembut kepada keluarganya.” (HR. At-Tirmidzi)
Hadits ini menekankan bahwa kesempurnaan iman tidak hanya diukur dari ibadah, tetapi dari kebaikan akhlak dan kelembutan hati.
Baca juga: Khutbah Jumat: Pentingnya Menjaga Lisan dan Tulisan
Dalam kajian para ulama dan literatur Islam, kisah tentang ahli ibadah yang masuk neraka karena lisannya memberikan pelajaran penting terkait hubungan antara ibadah lahiriah dan akhlak.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menekankan bahwa ibadah lahiriah yang dilakukan tanpa pengendalian hati dan lisan berisiko mengurangi pahala serta menimbulkan kerugian spiritual.
Begitu pula Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Lathaif al-Ma’arif menegaskan bahwa kerusakan sosial, seperti menyakiti tetangga, merendahkan orang lain atau menimbulkan permusuhan, bisa menimbulkan dosa yang lebih besar daripada kekurangan ibadah.
Hal ini sejalan dengan pandangan Dr. M. Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an, yang menekankan bahwa Al-Qur’an sangat menekankan kebersihan hati, termasuk penggunaan lisan, karena hal tersebut berdampak langsung pada ketenangan batin dan keberkahan amal.
Baca juga: Perintah Menjaga Lisan agar tidak Membawa Kebinasaan
Kisah ini menegaskan bahwa ibadah lahiriah tanpa akhlak yang baik dapat menyesatkan dan lisan serta perilaku sosial memiliki bobot sama pentingnya dengan salat, puasa, dan sedekah.
Akhlak yang baik tidak hanya memberatkan timbangan amal di akhirat, tetapi juga mendekatkan seorang hamba kepada surga, bahkan ketika ibadah lahiriah terbatas.
Kesabaran, kelembutan hati, dan kemampuan menghormati sesama menjadi inti dari iman yang sempurna.
Dengan demikian, kesalehan sosial dan akhlak mulia menjadi penentu sejati keselamatan di sisi Allah.
Masyarakat modern pun dapat mengambil hikmah dari kisah ini dengan rajin beribadah tidak cukup jika mengabaikan etika sosial, karena ibadah harus senantiasa dibarengi dengan akhlak dan kesadaran terhadap sesama untuk memastikan keberkahan dan ridha Allah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang