Penulis
KOMPAS.com - Dalam Islam, ibadah bukan sekadar aktivitas ritual, tetapi merupakan sistem Ilahi yang Allah tetapkan untuk membentuk manusia berakhlak mulia. Setiap ibadah memiliki dimensi pendidikan jiwa, pengendalian diri, pembiasaan nilai, dan penyucian hati.
Ibadah sebagai sistem untuk membentuk akhlak mulia itu selaras dengan tugas utama Rasulullah SAW yang diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Bila ibadah dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan kesadaran penuh, ia akan menjadikan manusia berakhlak mulia.
إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ
Artinya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik." (H.R. Bukhari).
Ibadah tidak hanya memperbaiki hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga memperbaiki hubungan manusia dengan sesama dan alam semesta. Karena itu, kualitas ibadah sejati terlihat dari kualitas akhlak pelakunya.
Baca juga: Amalan Saat Haid: Panduan Ibadah yang Bisa Dilakukan Muslimah
Allah SWT memerintahkan manusia beribadah bukan untuk kepentingan-Nya. Allah SWT tidak membutuhkan ibadah manusia, tetapi manusialah yang membutuhkan ibadah sebagai bagian dari fitahnya dan untuk memperbaiki dirinya sendiri.
اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ ۫ وَاِنْ اَسَاْتُمْ فَلَهَا
Artinya: "Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri" (QS. Al-Isra: 7)
Sebenarnya semua yang perintah dan larangan Allah SWT akan kembali kepada manusia itu sendiri. Dengan berbuat kebaikan, terutama ibadah, manusia akan merasakan dampak positif dari ibadah tersebut, yaitu membuat pribadinya menjadi lebih baik dan jiwanya lebih tenang dan bahagia.
Ibadah utama dalam Islam terdapat dalam rukun Islam. Syahadat sebagai pintu masuk ke dalam Islam, sedangkan 4 lainnya merupakan pilar ibadah, yaitu sholat, puasa, zakat, dan haji. Masing-masing ibadah tersebut pada dasarnya bertujuan membentuk karakter manusia.
Sholat adalah latihan karakter paling konsisten dalam Islam. Lima kali sehari seorang muslim dilatih untuk disiplin waktu, tanggung jawab, kesadaran selalu diawasi Allah, ketundukan hati, dan ketenangan emosi.
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa sholat yang khusyuk akan “melembutkan hati dan mematikan dorongan maksiat,” karena hati yang sering berdiri di hadapan Allah sulit untuk menikmati dosa. Itulah sebabnya sholat dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ
Artinya: "Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar." (Q.S. Al Ankabut: 45)
Baca juga: Nisab dan Haul Zakat, Penentu Kapan Harta Menjadi Kewajiban
Puasa adalah pelatihan intensif untuk meredam nafsu dan mengendalikan diri. Bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menahan amarah, menjaga lisan, mengendalikan syahwat, dan menumbuhkan kesabaran
Imam Ibn Rajab Al-Hanbali menulis bahwa puasa adalah “perisai karakter,” karena ia mempersempit jalan hawa nafsu dan memperkuat kendali ruhani atas dorongan insting.
Orang yang mampu mengontrol hawa nafsu, berarti ia senantiasa berada dalam ketaatan atau ketakwaan. Itulah tujuan utama puasa sebagaimana dijelaskan dalam surat Al Baqarah ayat 183.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
Zakat dan semua pemberian termasuk sedekah dan infak adalah pembersih jiwa dari sifat kikir dan cinta berlebihan kepada harta. Ia membentuk jiwa dermawan dan jiwa empati kepada sesama manusia yang membutuhkan.
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa sedekah tidak hanya menguntungkan penerima, tetapi mendidik pemberi menjadi lembut hati, lapang dada, dan jauh dari kekerasan jiwa.
Sedangkan Ibnul Qayyim menambahkan bahwa orang yang terbiasa memberi akan memiliki dada yang paling lapang dan jiwa paling tenang.
Dalam Al Quran disebutkan zakat dapat membersihkan harta dan jiwa.
خُذْ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Artinya: "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Q.S. At Taubah: 103).
Baca juga: Sholat Sunnah Rawatib: Pengertian, Niat, Waktu Pelaksanaan, dan Keutamaannya
Haji adalah ibadah dengan dimensi karakter paling lengkap, melibatkan pengorbanan harta, kesabaran fisik, pengendalian emosi, kesetaraan manusia, dan ketaatan total. Haji adalah menata ulang diri manusia di pusat peradaban Islam.
Orang yang selesai melaksanakan ibadah haji dan mendapatkan haji mabrur akan membuatnya menjadi seperti bayi yang baru dilahirkan.
مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
Artinya: "Barang siapa melaksanakan haji lalu dia tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka dia kembali keadaannya seperti hari saat dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Imam Al-Qurthubi menyebut haji sebagai “madrasah akhlak lapangan” karena semua sifat diuji secara nyata. Bagi yang lolos, ia akan menjadi manusia dalam bentuk terbaiknya, yaitu berakhlak mulia.
Ibadah dalam Islam adalah kurikulum pembinaan akhlak dari Allah. Ia bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi sarana transformasi kepribadian. Semakin benar dan sadar seseorang beribadah, semakin mulia pula akhlaknya.
Tujuan akhirnya bukan hanya menjadi ahli ibadah, tetapi menjadi manusia berkarakter, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi sesama.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang