Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Alasan PBNU Indonesia Harus Ada di Dewan Perdamaian Gaza

Kompas.com, 31 Januari 2026, 06:37 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf, menilai keputusan Indonesia bergabung dalam Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian Gaza yang diinisiasi Amerika Serikat sebagai langkah tepat untuk terus membantu perjuangan Palestina di kancah internasional.

Menurut Gus Yahya, keputusan Presiden Prabowo Subianto bergabung dalam forum tersebut berangkat dari komitmen panjang Indonesia dalam mendukung hak-hak rakyat Palestina.

“Keputusan Presiden untuk bergabung dalam Board of Peace ini, saya kira adalah keputusan yang tepat berdasarkan komitmen yang abadi untuk membantu Palestina,” ujar Gus Yahya di Jakarta, Jumat (30/1/2026).

Baca juga: Beda Sikap Antara PBNU dan MUI soal Dewan Perdamaian Gaza, Ini Alasannya

Ia mengakui, keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace tidak lepas dari pandangan kontroversial sejumlah kalangan.

Namun, ia menegaskan bahwa perdebatan tersebut tidak boleh membuat Indonesia berhenti mencari cara paling efektif untuk membela Palestina.

Hadir di Semua Arena Internasional

Gus Yahya menilai dunia saat ini berada dalam dinamika global yang penuh ketidakpastian. Kepentingan Amerika Serikat, China, Rusia, hingga negara-negara Eropa saling berkompetisi memengaruhi arah kebijakan internasional, termasuk terkait masa depan Palestina.

Di tengah situasi tersebut, ia menegaskan Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton.

“Di tengah ketidakmenentuan ini, kalau kita sungguh ingin berbuat sesuatu untuk membantu Palestina menemukan jalan keluar dari masalahnya, maka kita harus hadir di semua arena, di semua platform yang tersedia,” katanya.

Menurut dia, kehadiran Indonesia di Board of Peace menjadi penting agar Indonesia memiliki posisi untuk menyuarakan kepentingan Palestina secara langsung di forum yang menentukan arah kebijakan internasional.

Jangan Hanya Menonton

Gus Yahya menekankan bahwa tanpa kehadiran Indonesia, proses-proses internasional yang menyangkut Palestina akan berjalan tanpa suara yang benar-benar berpihak.

“Kita harus hadir supaya kita bisa berbuat sesuatu. Karena kalau kita tidak ada, kita hanya akan menonton dan membiarkan orang menentukan jalannya dinamika, jalannya pertarungan, dan proses-proses yang berlangsung sesudahnya,” ujarnya.

Ia juga menilai, di dalam Board of Peace tentu terdapat berbagai kepentingan, termasuk kepentingan Israel dan Amerika Serikat. Justru di situlah, menurutnya, Indonesia harus hadir untuk memastikan ada suara yang membela Palestina.

“Kalau tidak ada pihak yang sungguh-sungguh punya komitmen membantu Palestina ada di dalamnya, siapa yang akan bersuara demi Palestina,” katanya.

Dorong Peran Aktif Presiden

Di akhir pernyataannya, Gus Yahya menyatakan dukungan penuh agar Presiden Prabowo memainkan peran aktif di dalam forum tersebut dan tidak pernah absen dari setiap upaya internasional yang bertujuan membantu Palestina.

Baca juga: PBNU Prediksi 10.000 Warga NU Hadiri Puncak Harlah ke-100 di Istora Senayan

“Saya sangat mendukung agar Presiden Prabowo Subianto memainkan peran itu dengan sungguh-sungguh supaya dari waktu ke waktu terus menerus kita jangan sampai absen di dalam apapun untuk membantu Palestina,” tutupnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com