Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Festival Tumbilotohe, Tradisi Menjemput Malam Lailatul Qadar di Manado

Kompas.com, 18 Maret 2026, 15:33 WIB
Subhan Sabu,
Farid Assifa

Tim Redaksi

MANADO, KOMPAS.com – Tradisi Tumbilotohe kembali semarak di Kota Manado, Sulawesi Utara, sebagai bagian dari upaya melestarikan warisan budaya Gorontalo yang sarat nilai religius, khususnya dalam menyambut malam Lailatul Qadar di penghujung Ramadhan.

Tumbilotohe merupakan tradisi masyarakat Gorontalo yang dilaksanakan pada tiga malam terakhir bulan Ramadhan, ditandai dengan penyalaan lampu-lampu tradisional. Cahaya lampu tersebut melambangkan penerangan dalam menyambut turunnya malam penuh kemuliaan, Lailatul Qadar.

Secara historis, tradisi ini juga berfungsi sebagai penerang jalan bagi masyarakat menuju masjid di malam-malam akhir Ramadhan. Kini, nilai simboliknya semakin luas sebagai bentuk spiritualitas dan penguatan budaya.

Tradisi tersebut dihidupkan kembali melalui Festival Tumbilotohe yang digelar oleh Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Kerukunan Keluarga Indonesia Gorontalo (KKIG) Sulawesi Utara (Sulut).

Ketua DPD KKIG Sulut, Ulyas Taha mengatakan festival ini bertujuan menghidupkan kembali tradisi yang sarat nilai adab di tengah masyarakat.

Baca juga: Festival Majelis Taklim 2025 Resmi Ditutup, Ini Daftar Lengkap Para Juara dari Seluruh Indonesia

"Hari ini kita lakukan di Manado itu sebagai memberi semangat kepada masyarakat Manado yang berasal dari Gorontalo, sehingga dia akan bisa menghidupkan kembali tradisi-tradisi yang tradisi itu memiliki nilai-nilai adab yang cukup kuat," kata Ulyas Taha di Manado, Rabu (18/3/2026).

Menurut Ulyas, penguatan tradisi akan berdampak pada penguatan adab dan akhlak masyarakat.

“Ketika kita memperkuat tradisi, maka kita juga memperkuat adab. Kalau adab kita kuat, maka akan melahirkan orang-orang yang beradab. Orang yang beradab itu orang yang memiliki akhlak,” katanya.

Ia menilai, akhlak menjadi aspek yang mulai terabaikan di tengah pembangunan fisik yang pesat.

"Ini yang kadang-kadang kita bisa membangun sumber daya manusia atau kita bisa membangun gedung-gedung yang tinggi, tetapi kemudian sumber daya manusia kita lupa untuk kita bangun, kita perbaiki akhlak mereka," tuturnya.

Lebih lanjut, Ulyas menjelaskan bahwa Tumbilotohe menjadi salah satu cara membangun kesadaran generasi muda, khususnya warga Gorontalo di Manado, untuk kembali mengenal dan melestarikan tradisi leluhur.

"Ketika kita mendapatkan Lailatul Qadar itu, maka dengan Tumbilotohe ini kita berharap kita bisa menemukan malam Lailatul Qadar," ujar Kakanwil Kemenag Sulut itu.

Jejak Sejarah dan Filosofi Tumbilotohe

Budayawan Reiner Emyot Ointoe menyebut festival ini sebagai terobosan penting, mengingat budaya Gorontalo di Manado selama ini kurang mendapat perhatian.

"Saya mengamati itu cukup lama," ucapnya.

Ia menjelaskan bahwa tradisi Tumbilotohe bermula pada abad ke-14 pada masa Raja Eyato, ketika masyarakat membutuhkan penerangan untuk menentukan hari raya.

"Tapi dia juga menafsirkan karena Gorontalo itu secara adat punya pedoman yaitu dalam bahasa Gorontalo ‘adati hula-hulaa to sara’a, sara’a hula-hulaa to Qur’ani’ artinya adat itu harus berdasarkan syariat Islam, dan syariat harus merujuk pada Al-Qur’an, jadi ada keterkaitan," tuturnya.

Menurutnya, Tumbilotohe berasal dari kata *tumbilo* (menyalakan) dan *tohe* (lampu), yang menjadi simbol kuat perpaduan antara budaya dan ajaran Islam di Gorontalo.

"Jadi budaya ini adalah terinspirasi oleh ajaran Islam. Jadi gorontalo itu kental dengan ajaran Islam, karena Islam masuk di Gorontalo abad 12. Nah sementara Raja pertama yang menyatakan keislaman itu adalah Raja Eyato," ucapnya.

Tradisi ini juga berkaitan erat dengan anjuran mencari malam Lailatul Qadar yang diyakini lebih baik dari seribu bulan. Meski dalam Islam malam tersebut dicari pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan, masyarakat Gorontalo mengadaptasinya menjadi tiga malam terakhir, sesuai filosofi lokal.

“Karena masyarakat dulu mengenal simbol tiga waktu, maka pelaksanaannya disesuaikan menjadi tiga hari,” jelasnya.

Simbol Cahaya dan Penyucian Diri

Ciri khas utama Tumbilotohe adalah pemasangan lampu tradisional berbahan minyak dan sumbu yang dipasang di rumah, halaman, hingga sepanjang jalan.

“Lampu itu simbol cahaya, simbol penerang. Ini adalah bentuk penyambutan terhadap cahaya dari langit, yang diyakini membawa kebaikan bagi kehidupan manusia,” katanya.

Selain itu, api juga dimaknai sebagai simbol penyucian diri.

“Api itu bukan hanya menerangi, tetapi juga membakar. Artinya, ia menjadi simbol pembakaran dosa-dosa manusia,” ujarnya.

Dengan makna tersebut, Tumbilotohe bukan sekadar tradisi visual, tetapi juga refleksi spiritual menjelang Hari Raya Idulfitri.

Perekat Kebersamaan di Tengah Keberagaman

Gubernur Sulut Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus yang diwakili Kepala Dinas Perkebunan Sulut, Darwin Muksin, menilai Tumbilotohe kini telah menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat Sulawesi Utara secara luas.

Baca juga: 9 Tradisi Unik Lebaran di Indonesia: Dari Grebeg hingga Tumbilotohe

"Saya berharap melalui pelaksanaan festival Tumbilotohe ini kita semua dapat semakin mempererat tali persaudaraan dan memperkuat nilai kebersamaan serta menjadikan budaya sebagai jembatan menyatukan masyarakat dalam keberagaman," tuturnya.

Festival Tumbilotohe di Manado tahun ini digelar di 60 titik yang tersebar di beberapa kecamatan, mencakup 37 lorong dan 5 rumah, dan akan berlangsung selama tiga hari ke depan.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com