Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

9 Tradisi Unik Lebaran di Indonesia: Dari Grebeg hingga Tumbilotohe

Kompas.com, 18 Maret 2026, 15:20 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan, umat Islam di Indonesia bersiap menyambut Idul Fitri 1447 Hijriah.

Lebaran bukan sekadar perayaan keagamaan, melainkan momentum sosial yang sarat makna, mulai dari refleksi spiritual, penguatan hubungan keluarga, hingga pelestarian budaya lokal yang telah hidup lintas generasi.

Di Indonesia, wajah Lebaran tidak pernah tunggal. Ia hadir dalam beragam ekspresi tradisi yang tumbuh dari sejarah panjang, interaksi budaya, dan nilai religius masyarakat setempat.

Tradisi-tradisi ini menjadi bukti bahwa Islam di Indonesia berkembang secara kontekstual, berdialog dengan kearifan lokal tanpa kehilangan esensi ajarannya.

Lebaran, Mudik, dan Pergerakan Sosial-Ekonomi

Salah satu fenomena paling menonjol menjelang Lebaran adalah tradisi mudik. Data dari Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan memperkirakan lebih dari 140 juta orang melakukan perjalanan pulang kampung pada musim Lebaran 2026.

Angka ini menunjukkan bahwa mudik bukan sekadar mobilitas, tetapi juga ritual sosial yang mengikat identitas keluarga dan kampung halaman.

Dalam perspektif sosiologi, mudik dapat dipahami sebagai bentuk “reintegrasi sosial”, di mana individu kembali ke akar komunitasnya.

Dalam buku Mudik dalam Perspektif Budaya karya M. Sairin, dijelaskan bahwa tradisi ini menjadi sarana memperbarui relasi kekerabatan sekaligus menjaga kesinambungan nilai budaya di tengah modernisasi.

Baca juga: Ribuan Warga Majene Shalat di Jalan demi Malam Lailatul Qadar, Tradisi Sejak 1964

Ragam Tradisi Lebaran di Berbagai Daerah

Grebeg Syawal: Simbol Sedekah Raja kepada Rakyat

Di Yogyakarta, tradisi Grebeg Syawal menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Lebaran. Upacara ini berasal dari lingkungan Keraton sejak abad ke-16.

Gunungan hasil bumi diarak dan kemudian diperebutkan masyarakat. Dalam perspektif antropologi budaya, tradisi ini mencerminkan konsep redistribusi kesejahteraan raja sebagai simbol kekuasaan berbagi berkah kepada rakyatnya.

Dalam buku The Religion of Java karya Clifford Geertz, praktik semacam ini disebut sebagai bentuk sinkretisme antara kekuasaan politik dan nilai spiritual.

Perang Topat: Harmoni Lintas Iman

Di Nusa Tenggara Barat, masyarakat merayakan Lebaran melalui tradisi Perang Topat. Ketupat dilemparkan sebagai simbol kebersamaan antara umat Islam dan Hindu.

Tradisi ini tidak sekadar atraksi budaya, tetapi juga representasi toleransi yang telah mengakar kuat. Dalam buku Pluralisme dan Harmoni Sosial di Indonesia karya Zuly Qodir, dijelaskan bahwa ritual semacam ini menjadi medium komunikasi budaya antaragama yang efektif.

Ronjok Sayak: Api sebagai Simbol Relasi Spiritual

Di Bengkulu, masyarakat menyalakan tumpukan batok kelapa dalam tradisi Ronjok Sayak. Api yang menyala bukan sekadar visual, melainkan simbol hubungan manusia dengan leluhur.

Tradisi ini memperlihatkan bagaimana masyarakat memaknai Lebaran tidak hanya sebagai peristiwa religius, tetapi juga sebagai ruang refleksi terhadap asal-usul dan identitas budaya.

Meugang: Distribusi Daging dan Solidaritas Sosial

Di Aceh, tradisi Meugang menjadi salah satu praktik sosial paling kuat menjelang Lebaran. Hewan disembelih dan daging dibagikan kepada masyarakat.

Dalam buku Aceh: Sejarah dan Tradisi karya Denys Lombard, Meugang disebut sebagai bentuk nyata dari nilai keadilan sosial dalam Islam, di mana kebahagiaan Lebaran harus dirasakan secara kolektif.

Baca juga: Tradisi Malam Songo, 358 Pasangan di Tuban Daftar Nikah, Plumpang Terbanyak

Rampak Bedug: Harmoni dalam Irama

Di Banten, malam takbiran dimeriahkan dengan Rampak Bedug. Tabuhan bedug yang dimainkan secara serempak menciptakan suasana sakral sekaligus meriah.

Bedug sendiri dalam kajian sejarah Islam Nusantara, sebagaimana ditulis dalam buku Islam Nusantara karya Azyumardi Azra, merupakan hasil adaptasi budaya lokal dalam syiar Islam.

Festival Meriam Karbit: Tradisi dan Sejarah Lokal

Di Pontianak, Festival Meriam Karbit menjadi daya tarik utama Lebaran. Dentuman meriam tradisional ini dipercaya berkaitan dengan sejarah berdirinya kota.

Tradisi ini memperlihatkan bagaimana perayaan keagamaan dapat berpadu dengan narasi sejarah lokal, menciptakan identitas budaya yang khas.

Binarundak: Memasak sebagai Ritual Kolektif

Di Sulawesi Utara, masyarakat memasak nasi jaha dalam tradisi Binarundak. Aktivitas ini dilakukan bersama selama beberapa hari setelah Lebaran.

Dalam perspektif budaya, kegiatan memasak bersama menjadi simbol gotong royong yang masih kuat dalam masyarakat Indonesia.

Baraan: Silaturahmi Berkelompok

Di Riau, tradisi Baraan dilakukan dengan mengunjungi rumah warga secara berkelompok. Setiap kunjungan diiringi doa bersama.

Tradisi ini memperkuat nilai ukhuwah Islamiyah, di mana silaturahmi tidak hanya bersifat individual, tetapi juga kolektif.

Tumbilotohe: Cahaya sebagai Simbol Spiritualitas

Di Gorontalo, masyarakat menyalakan lampu minyak dalam tradisi Tumbilotohe. Cahaya lampu menciptakan suasana magis menjelang Lebaran.

Dalam kajian simbolik, cahaya sering dimaknai sebagai representasi hidayah dan kemenangan setelah menjalani Ramadan.

Baca juga: Sejarah Tradisi Mudik Lebaran di Indonesia dan Maknanya dalam Islam

Lebaran sebagai Ruang Pertemuan Agama dan Budaya

Keberagaman tradisi Lebaran di Indonesia menunjukkan bahwa Islam tidak hadir dalam ruang hampa.

Ia berinteraksi dengan budaya lokal, menghasilkan praktik-praktik unik yang tetap berakar pada nilai-nilai keislaman.

Sebagaimana dijelaskan dalam buku Islam in Indonesia: Contrasting Images and Interpretations karya Jajat Burhanudin, Islam di Indonesia berkembang dengan karakter inklusif dan adaptif.

Tradisi menjadi medium penting untuk menjaga keseimbangan antara ajaran agama dan identitas budaya.

Merayakan Lebaran dengan Makna yang Lebih Dalam

Lebaran di Indonesia bukan hanya tentang kemenangan spiritual setelah Ramadan, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat merawat tradisi, memperkuat solidaritas, dan menjaga harmoni sosial.

Di tengah arus modernisasi, tradisi-tradisi ini menjadi pengingat bahwa identitas bangsa tidak hanya dibangun dari kemajuan teknologi, tetapi juga dari nilai-nilai budaya yang diwariskan.

Justru di situlah daya tarik Lebaran di Indonesia, selalu menghadirkan cerita, makna, dan kehangatan yang tak lekang oleh waktu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com