MAJENE, KOMPAS.com – Malam belum sepenuhnya larut ketika langkah kaki mulai memadati Kampung Bukku’, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene.
Cahaya lampu rumah dan masjid berpadu dengan lantunan zikir yang lirih, Selasa (17/3/2026) dini hari, 27 Ramadhan 1447 Hijriah.
Ribuan orang datang dengan satu tujuan: menjemput malam yang diyakini lebih baik dari seribu bulan.
Di Masjid Raudhatul Muraqabah—yang akrab disebut Masjid Bukku’—gelombang jemaah tak lagi terbendung. Saf Shalat meluber hingga keluar masjid, melintasi halaman, menembus jalan raya, bahkan sampai ke teras rumah warga.
Baca juga: Islamic Center Samarinda Siap Tampung 45 Ribu Jemaah, Shalat Id Diprediksi Membeludak
Jalan sepanjang kurang lebih 500 meter pun berubah menjadi hamparan sajadah panjang.
Tak ada keluhan. Tak ada keberatan. Hanya kesadaran bahwa malam itu terlalu berharga untuk dilewatkan.
Sebagian jemaah rela menempuh perjalanan jauh. Mereka yang merantau di berbagai kota di Indonesia hingga Malaysia memilih pulang lebih awal.
“Kalau bukan sekarang, kapan lagi,” begitu kira-kira yang terlintas di benak mereka.
Di tengah kepadatan, suasana tetap khusyuk. Lantunan ayat suci bergema, diikuti gerakan Shalat yang serempak—meski dilakukan di ruang tak biasa: di aspal jalan, lorong sempit, hingga teras rumah yang dibuka pemiliknya.
Batas antara ruang privat dan publik seakan hilang, digantikan oleh satu rasa yang sama: ingin lebih dekat kepada Tuhan.
Menurut Imam Masjid Bukku’, Husaini Hasan, tradisi ini telah berlangsung sejak tahun 1964 dan berakar dari ajaran ulama kharismatik Muhammad Saleh.
“Ini bukan sekadar tradisi, tapi ikhtiar menjaga amaliah Ramadhan,” ujarnya.
Rangkaian ibadah berlangsung panjang, dimulai dari Shalat Isya, dilanjutkan Shalat tasbih, taubat, hajat, tarawih, hingga witir.
Malam terasa berjalan lebih lambat, memberi ruang bagi setiap doa dipanjatkan dengan sungguh-sungguh.
Di sela ibadah, ada air mata yang jatuh diam-diam. Ada doa yang tak pernah terucap di siang hari. Ada penyesalan yang ingin ditebus, dan harapan yang dilangitkan setinggi mungkin.
Di luar masjid, seorang lelaki paruh baya tampak beristirahat sejenak. Ia baru pulang dari Malaysia beberapa hari sebelumnya.
“Saya sengaja pulang lebih cepat. Mau cari berkah malam ini,” katanya pelan.
Baca juga: Ponpes Al Falah Trenggalek Tetapkan Idul Fitri 20 Maret 2026, Gunakan Metode Hisab Wujudul Hilal
Bagi warga Majene, malam 27 Ramadhan bukan sekadar keyakinan akan hadirnya Lailatul Qadar, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan antara iman, tradisi, dan kerinduan.
Saat fajar mendekat, jalan yang semula dipenuhi jemaah perlahan lengang kembali. Namun yang tertinggal bukan sekadar jejak kaki, melainkan harapan yang telah dipanjatkan.
Di jalan dan teras rumah warga itu, banyak orang percaya, langit sedang lebih dekat dari biasanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang