Editor
KOMPAS.com - Salah satu momen penting bagi umat Islam untuk melaksanakan ibadah kurban di hari raya Idul Adha pada tiap tanggal 10 Dzulhijjah.
Selain memenuhi syariat Islam, proses penyembelihan hewan kurban juga harus memperhatikan aspek kesejahteraan hewan.
Penanganan yang tidak tepat ternyata dapat memicu stres pada hewan dan berdampak langsung terhadap kualitas daging kurban.
Karena itu, proses penyembelihan dan perlakuan terhadap hewan kurban perlu dilakukan secara benar sejak sebelum penyembelihan berlangsung.
Baca juga: Penjualan Kambing Kurban di Kebumen Meningkat Jelang Idul Adha 2026, Harga Rp 1,5 sampai 3,5 Jutaan
Dilansir dari laman LPPOM MUI, Dosen Fakultas Peternakan IPB University, Dr. Ir. Henny Nuraini, MSi, menjelaskan bahwa proses penyembelihan merupakan kegiatan mematikan hewan hingga tercapai kematian sempurna dengan cara yang mengacu pada kaidah kesejahteraan hewan dan syariat Islam.
“Dalam proses ini, terdapat lima persyaratan yang harus dipenuhi. Salah satunya yaitu standar hewan harus halal, dalam keadaan hidup, dan sehat,” ujar Henny yang juga sebagai auditor halal senior di LPH LPPOM.
Menurutnya, perlakuan terhadap hewan kurban menjadi bagian penting dalam proses penyembelihan. Salah satu hal yang perlu diperhatikan ialah mencegah hewan mengalami stres sebelum disembelih.
Baca juga: Idul Adha 2026: Cek Syarat dan Ciri Hewan Kurban Layak Disembelih
Senada, Dosen Fakultas Kedokteran Hewan IPB University, drh. Supratikno, M.Si., PAvet., mengatakan stres pada hewan kurban dapat dipicu berbagai faktor, baik fisik maupun psikologis.
Dari sisi fisik, stres dapat terjadi akibat kelelahan dan trauma karena perjalanan transportasi yang jauh. Sementara dari aspek psikologis, kondisi lapar, sakit, kepanasan, rasa takut, hingga perkelahian antar-hewan ternak juga dapat memicu stres.
“Stres menyebabkan glikogen dalam otot menurun sampai level yang sangat rendah. Hal ini membuat terjadinya perubahan komposisi biokimia dalam daging. Akibatnya, saat penyembelihan, kualitas daging menjadi DFD (Dark – Firm – Dry) atau bisa diartikan kualitas daging jelek,” terang Supratikno.
Ia menjelaskan, pada hewan yang mengalami stres akut berat akan terjadi respirasi anaerob yang menghasilkan asam laktat sebagai sisa metabolisme. Kadar asam laktat yang terlalu tinggi saat penyembelihan dapat menyebabkan penurunan pH terlalu cepat.
Kondisi tersebut membuat darah banyak tertinggal di dalam otak, otot, dan pembuluh darah sehingga proses pengeluaran darah menjadi tidak sempurna.
“Kedua hal tersebut menyebabkan ketidaksempurnaan pengeluaran darah. Kualitas daging menjadi pucat, lembek, dan berair. Daging seperti ini akan mudah busuk dan susut masaknya tinggi,” jelas Supratikno.
Untuk meminimalkan tingkat stres pada hewan kurban, beberapa hal terkait lokasi penyembelihan perlu diperhatikan, antara lain: