Editor
KOMPAS.com - Wudhu menjadi syarat utama sahnya shalat dalam Islam. Karena itu, menjaga kesucian wudhu sama pentingnya dengan melaksanakan wudhu itu sendiri sebelum beribadah.
Namun, banyak umat Muslim yang terkadang tidak menyadari bahwa wudhunya telah batal akibat beberapa hal tertentu.
Dalam Mazhab Syafi’i, terdapat sejumlah perkara yang secara jelas dihukumi membatalkan wudhu dan perlu dipahami agar ibadah tetap sah.
Penjelasan mengenai hal-hal yang membatalkan wudhu tersebut tertuang dalam kitab al-Fiqh al-Manhaji ‘Ala Madzhab al-Imam al-Syafii karya beberapa ulama, di antaranya Dr Musthafa al-Khan, Dr Musthafa al-Bagha, dan Ali al-Syarbaji.
Baca juga: Doa Saat Membasuh Kaki Ketika Wudhu agar Selamat di Shirath Akhirat
Berikut sejumlah perkara yang secara jelas dihukumi membatalkan wudhu menurut Mazhab Syafi’i:
Hal pertama yang membatalkan wudhu adalah keluarnya sesuatu dari qubul (kemaluan depan) atau dubur (kemaluan belakang).
Baca juga: Doa Membasuh Wajah Saat Wudhu agar Bercahaya di Hari Kiamat
Yang termasuk dalam kategori ini meliputi air kencing, buang air besar, madzi, wadi, darah, nanah, batu ginjal, hingga gas seperti kentut. Dalam Mazhab Syafi’i, seluruh hal tersebut membatalkan wudhu, baik sedikit maupun banyak, suci ataupun najis.
Dalam kitab tersebut dijelaskan:
كل ما خرج من أحد السبيلين من بول أو غائط أو دم أو ريح
كل ما خرج من أحد السبيلين من بول أو غائط أو دم أو ريح: قال تعالى: (لو جاء أحد منكم الغائط) [النساء: 42] . أي مكان قضاء الحاجة، وقد قضى حاجته من تبرز أو تبول. والغائط هو المكان المنخفض، وفي مثله تقضى الحاجة من تبرز أو تبول. والغائط هو المكان المنخفض، وفي مثله نقضى الحاجة غالباً وعادة
وروى البخاري (135) ومسلم (225) عن أبي هريرة - رضي الله عنه - قال: قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم: "ولا يقبل الله صلاة أحدكم إذا أحدث حتى يتوضأ" . فقال رجل من أهل حضر موت ما الحدث يا أبا هريرة؟ قال فساء أو ضراط.
وقيس على ما ذكر كل خارج من القبل أو الدبر، ولو كان طاهراً
Setiap perkara yang keluar dari dua jalan, baik berupa kencing, buang air besar, atau darah yang mengalir. Allah SWT berfirman:
اَوْ جَاۤءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَاۤىِٕطِ
‘’Atau bila salah seorang dari kamu datang dari tempat buang air.’’ (QS. Al-Maidah : 6)
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:
"Allah tidak akan menerima shalat salah seorang di antara kalian jika berhadas sebelum berwudhu." Seorang pria dari penduduk Hadhramut bertanya, "Apa yang dimaksud dengan hadas, wahai Abu Hurairah?" Ia menjawab, "Buang air kecil atau kentut."
“Dan kiaskanlah atas apa yang disebutkan dengan setiap yang keluar dari qubul dan dubur, meski pada dasarnya suci.”
Tidur juga termasuk perkara yang membatalkan wudhu apabila dilakukan dalam posisi tidak stabil atau ghair al-mutammakin.
Dalam kitab dijelaskan:
النوم غير المتمكن: والتمكن أن يكون جالساً ومقعدته ملتصقة بالأرض، وغير التمكن أن يكون هناك نجاف بين مقعدته والأرض، قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم: "من نام فليتوضأ" [رواه أبو داود: 203 وغيره] .
وأما من نام على هيئة المتمكن فلا ينقض وضوؤه، لأنه يشعر بما يخرج منه، ودل على هذا ما رواه مسلم (376) عن أنس - رضي الله عنه - قال: أقيمت الصلاة والنبي - صلى الله عليه وسلم - يناجى رجلاً، فلم يزل يناجيه حتى نام أصحابه، ثم جاء فصلى بهم.
وواضح أنهم ناموا جالسين على هيئة التمكن، لأنهم كانوا في المسجد ينتظرون الصلاة، وعلى أمل أن يقطع حديثه - صلى الله عليه وسلم - فجأة ويصلي بهم.
“Yang dimaksud tamakkun adalah dalam kondisi duduk dan posisi duduknya menempel dengan lantai. Sedangkan ghair tamakkun adalah duduk dalam posisi ada cela antara duduknya dengan alas.
Dalam Mazhab Syafi’i, posisi duduk yang rapat dan menempel dengan alas dianggap masih memungkinkan seseorang menjaga keluarnya sesuatu dari tubuh. Sebaliknya, jika posisi duduk tidak stabil atau terdapat celah antara tubuh dan alas, maka wudhu batal ketika tertidur.
Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah:
فمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأ
“Siapa yang tidur maka hendaklah dia berwudhu.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah)
Adapun tidur dalam posisi duduk stabil tidak membatalkan wudhu, sebagaimana riwayat Anas RA ketika para sahabat tertidur sambil menunggu shalat di masjid lalu tetap shalat tanpa mengulangi wudhu.
Hilang akal dalam bentuk apa pun juga membatalkan wudhu. Kondisi tersebut bisa disebabkan mabuk, pingsan, sakit, gangguan jiwa, pengaruh narkotika, bius, maupun hipnotis yang membuat seseorang kehilangan kesadaran.
Dalam kitab disebutkan:
ـ زوال العقل بسكر أو إعماء أو مرض، أو جنون: لأن الإنسان إذا انتابه شيء من ذلك كان هذا مظنة أن يخرج منه شيء من غير ان يشعر، وقياساً على النوم، لأنه أبلغ منه في معناه.
Kondisi hilang akal disamakan dengan tidur, bahkan dianggap lebih kuat, karena seseorang tidak mampu mengontrol dirinya dan tidak menyadari apabila terjadi hadas.
Mazhab Syafi’i juga menetapkan bahwa menyentuh kulit lawan jenis yang bukan mahram membatalkan wudhu.
Hukum ini berlaku meskipun tanpa syahwat. Selama terjadi sentuhan langsung kulit tanpa penghalang, maka wudhu dihukumi batal.
Dalam kitab dijelaskan:
ـ لمس الرجل زوجته أو المرأة الأجنبية من غير حائل، فإنه ينتقض وضوؤه ووضوؤها. والأجنبية هي كل امرأة يحل له الزواج بها
Namun, jika terdapat penghalang seperti kain atau sarung tangan, maka wudhu tidak batal. Begitu pula sentuhan dengan mahram seperti ibu, saudara kandung, atau anak.
Menyentuh qubul atau dubur dengan bagian dalam telapak tangan maupun jari tanpa penghalang juga termasuk perkara yang membatalkan wudhu.
Hukum ini berlaku baik menyentuh kemaluan sendiri, orang lain, maupun mayit.
Dalam kitab disebutkan:
مس الفرج نفسه أو من غيره، قبلاً أو دبراً، بباطن الكف والأصابع من غير حائل
Ulama Syafi’iyyah mendasarkan hukum ini pada hadits Rasulullah:
مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ
“Barangsiapa yang menyentuh kemaluannya, hendaklah ia berwudhu.” (HR Abu Daud dan At Tirmidzi)
Sebaliknya, jika sentuhan dilakukan menggunakan penghalang atau selain telapak tangan bagian dalam, maka wudhu tidak batal.
Dengan memahami perkara-perkara yang membatalkan wudhu menurut Mazhab Syafi’i, umat Muslim dapat lebih berhati-hati menjaga kesucian diri sehingga ibadah shalat dan ibadah lainnya tetap sah serta diterima Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang