Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

5 Hal yang Membatalkan Wudhu Menurut Mazhab Syafi’i, Muslim Wajib Tahu

Kompas.com, 2 Mei 2026, 20:33 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber MUI

KOMPAS.com - Wudhu menjadi syarat utama sahnya shalat dalam Islam. Karena itu, menjaga kesucian wudhu sama pentingnya dengan melaksanakan wudhu itu sendiri sebelum beribadah.

Namun, banyak umat Muslim yang terkadang tidak menyadari bahwa wudhunya telah batal akibat beberapa hal tertentu.

Dalam Mazhab Syafi’i, terdapat sejumlah perkara yang secara jelas dihukumi membatalkan wudhu dan perlu dipahami agar ibadah tetap sah.

Penjelasan mengenai hal-hal yang membatalkan wudhu tersebut tertuang dalam kitab al-Fiqh al-Manhaji ‘Ala Madzhab al-Imam al-Syafii karya beberapa ulama, di antaranya Dr Musthafa al-Khan, Dr Musthafa al-Bagha, dan Ali al-Syarbaji.

Baca juga: Doa Saat Membasuh Kaki Ketika Wudhu agar Selamat di Shirath Akhirat

5 Hal yang Membatalkan Wudhu Menurut Mazhab Syafi’i

Berikut sejumlah perkara yang secara jelas dihukumi membatalkan wudhu menurut Mazhab Syafi’i:

1. Keluar Sesuatu dari Qubul atau Dubur

Hal pertama yang membatalkan wudhu adalah keluarnya sesuatu dari qubul (kemaluan depan) atau dubur (kemaluan belakang).

Baca juga: Doa Membasuh Wajah Saat Wudhu agar Bercahaya di Hari Kiamat

Yang termasuk dalam kategori ini meliputi air kencing, buang air besar, madzi, wadi, darah, nanah, batu ginjal, hingga gas seperti kentut. Dalam Mazhab Syafi’i, seluruh hal tersebut membatalkan wudhu, baik sedikit maupun banyak, suci ataupun najis.

Dalam kitab tersebut dijelaskan:

كل ما خرج من أحد السبيلين من بول أو غائط أو دم أو ريح
كل ما خرج من أحد السبيلين من بول أو غائط أو دم أو ريح: قال تعالى: (لو جاء أحد منكم الغائط) [النساء: 42] . أي مكان قضاء الحاجة، وقد قضى حاجته من تبرز أو تبول. والغائط هو المكان المنخفض، وفي مثله تقضى الحاجة من تبرز أو تبول. والغائط هو المكان المنخفض، وفي مثله نقضى الحاجة غالباً وعادة

وروى البخاري (135) ومسلم (225) عن أبي هريرة - رضي الله عنه - قال: قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم: "ولا يقبل الله صلاة أحدكم إذا أحدث حتى يتوضأ" . فقال رجل من أهل حضر موت ما الحدث يا أبا هريرة؟ قال فساء أو ضراط.

وقيس على ما ذكر كل خارج من القبل أو الدبر، ولو كان طاهراً

Setiap perkara yang keluar dari dua jalan, baik berupa kencing, buang air besar, atau darah yang mengalir. Allah SWT berfirman:

اَوْ جَاۤءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَاۤىِٕطِ

‘’Atau bila salah seorang dari kamu datang dari tempat buang air.’’ (QS. Al-Maidah : 6)

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

"Allah tidak akan menerima shalat salah seorang di antara kalian jika berhadas sebelum berwudhu." Seorang pria dari penduduk Hadhramut bertanya, "Apa yang dimaksud dengan hadas, wahai Abu Hurairah?" Ia menjawab, "Buang air kecil atau kentut."

“Dan kiaskanlah atas apa yang disebutkan dengan setiap yang keluar dari qubul dan dubur, meski pada dasarnya suci.”

2. Tidur dalam Keadaan Tidak Tertutup atau Ghair Al-Mutammakin

Tidur juga termasuk perkara yang membatalkan wudhu apabila dilakukan dalam posisi tidak stabil atau ghair al-mutammakin.

Dalam kitab dijelaskan:

النوم غير المتمكن: والتمكن أن يكون جالساً ومقعدته ملتصقة بالأرض، وغير التمكن أن يكون هناك نجاف بين مقعدته والأرض، قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم: "من نام فليتوضأ" [رواه أبو داود: 203 وغيره] .

وأما من نام على هيئة المتمكن فلا ينقض وضوؤه، لأنه يشعر بما يخرج منه، ودل على هذا ما رواه مسلم (376) عن أنس - رضي الله عنه - قال: أقيمت الصلاة والنبي - صلى الله عليه وسلم - يناجى رجلاً، فلم يزل يناجيه حتى نام أصحابه، ثم جاء فصلى بهم.

وواضح أنهم ناموا جالسين على هيئة التمكن، لأنهم كانوا في المسجد ينتظرون الصلاة، وعلى أمل أن يقطع حديثه - صلى الله عليه وسلم - فجأة ويصلي بهم.

“Yang dimaksud tamakkun adalah dalam kondisi duduk dan posisi duduknya menempel dengan lantai. Sedangkan ghair tamakkun adalah duduk dalam posisi ada cela antara duduknya dengan alas.

Dalam Mazhab Syafi’i, posisi duduk yang rapat dan menempel dengan alas dianggap masih memungkinkan seseorang menjaga keluarnya sesuatu dari tubuh. Sebaliknya, jika posisi duduk tidak stabil atau terdapat celah antara tubuh dan alas, maka wudhu batal ketika tertidur.

Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah:

فمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأ

“Siapa yang tidur maka hendaklah dia berwudhu.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah)

Adapun tidur dalam posisi duduk stabil tidak membatalkan wudhu, sebagaimana riwayat Anas RA ketika para sahabat tertidur sambil menunggu shalat di masjid lalu tetap shalat tanpa mengulangi wudhu.

3. Hilang Akal karena Mabuk atau Pingsan

Hilang akal dalam bentuk apa pun juga membatalkan wudhu. Kondisi tersebut bisa disebabkan mabuk, pingsan, sakit, gangguan jiwa, pengaruh narkotika, bius, maupun hipnotis yang membuat seseorang kehilangan kesadaran.

Dalam kitab disebutkan:

ـ زوال العقل بسكر أو إعماء أو مرض، أو جنون: لأن الإنسان إذا انتابه شيء من ذلك كان هذا مظنة أن يخرج منه شيء من غير ان يشعر، وقياساً على النوم، لأنه أبلغ منه في معناه.

Kondisi hilang akal disamakan dengan tidur, bahkan dianggap lebih kuat, karena seseorang tidak mampu mengontrol dirinya dan tidak menyadari apabila terjadi hadas.

4. Menyentuh Lawan Jenis yang Bukan Mahram

Mazhab Syafi’i juga menetapkan bahwa menyentuh kulit lawan jenis yang bukan mahram membatalkan wudhu.

Hukum ini berlaku meskipun tanpa syahwat. Selama terjadi sentuhan langsung kulit tanpa penghalang, maka wudhu dihukumi batal.

Dalam kitab dijelaskan:

ـ لمس الرجل زوجته أو المرأة الأجنبية من غير حائل، فإنه ينتقض وضوؤه ووضوؤها. والأجنبية هي كل امرأة يحل له الزواج بها

Namun, jika terdapat penghalang seperti kain atau sarung tangan, maka wudhu tidak batal. Begitu pula sentuhan dengan mahram seperti ibu, saudara kandung, atau anak.

5. Menyentuh Kemaluan dengan Telapak Tangan

Menyentuh qubul atau dubur dengan bagian dalam telapak tangan maupun jari tanpa penghalang juga termasuk perkara yang membatalkan wudhu.

Hukum ini berlaku baik menyentuh kemaluan sendiri, orang lain, maupun mayit.

Dalam kitab disebutkan:

مس الفرج نفسه أو من غيره، قبلاً أو دبراً، بباطن الكف والأصابع من غير حائل

Ulama Syafi’iyyah mendasarkan hukum ini pada hadits Rasulullah:

مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ

“Barangsiapa yang menyentuh kemaluannya, hendaklah ia berwudhu.” (HR Abu Daud dan At Tirmidzi)

Sebaliknya, jika sentuhan dilakukan menggunakan penghalang atau selain telapak tangan bagian dalam, maka wudhu tidak batal.

Dengan memahami perkara-perkara yang membatalkan wudhu menurut Mazhab Syafi’i, umat Muslim dapat lebih berhati-hati menjaga kesucian diri sehingga ibadah shalat dan ibadah lainnya tetap sah serta diterima Allah SWT.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Khutbah Jumat 19 Juni 2026: Rahasia Kemuliaan Hari Asyura 10 Muharram
Khutbah Jumat 19 Juni 2026: Rahasia Kemuliaan Hari Asyura 10 Muharram
Aktual
72 Aduan Travel Umrah Masuk Kemenhaj, Ini Kasus yang Berhasil Dimediasi
72 Aduan Travel Umrah Masuk Kemenhaj, Ini Kasus yang Berhasil Dimediasi
Aktual
Jamaah Haji Pamekasan Wafat di Tanah Suci, Kemenag Dampingi Ahli Waris Urus Santunan
Jamaah Haji Pamekasan Wafat di Tanah Suci, Kemenag Dampingi Ahli Waris Urus Santunan
Aktual
Kebun Kurma Abdurrahman Bin Auf,  Wisata Kurma Sambil Menapaki Jejak Sahabat Rasul di Madinah
Kebun Kurma Abdurrahman Bin Auf, Wisata Kurma Sambil Menapaki Jejak Sahabat Rasul di Madinah
Aktual
Haji Mabrur: Makna Sejati, Ciri-ciri, dan Transformasi Diri Setelah Ibadah
Haji Mabrur: Makna Sejati, Ciri-ciri, dan Transformasi Diri Setelah Ibadah
Aktual
Melihat Gua Hira, Tempat Turunnya Wahyu Pertama Allah pada Nabi Muhammad
Melihat Gua Hira, Tempat Turunnya Wahyu Pertama Allah pada Nabi Muhammad
Aktual
Khutbah Jumat 19 Juni 2026: Hikmah dan Keistimewaan 10 Muharram
Khutbah Jumat 19 Juni 2026: Hikmah dan Keistimewaan 10 Muharram
Aktual
QS Al-Insyirah 7–8: Tentang Ikhtiar dan Tawakal kepada Allah
QS Al-Insyirah 7–8: Tentang Ikhtiar dan Tawakal kepada Allah
Aktual
Esensi Niat dalam Islam: Penentu Kualitas Setiap Perbuatan
Esensi Niat dalam Islam: Penentu Kualitas Setiap Perbuatan
Aktual
7 Sahabat Nabi Muhammad SAW yang Berpengaruh dalam Perjalanan Hijrah ke Madinah
7 Sahabat Nabi Muhammad SAW yang Berpengaruh dalam Perjalanan Hijrah ke Madinah
Aktual
5 Doa Asyura 10 Muharram Lengkap Arab, Latin, Arti dan Fadhilahnya
5 Doa Asyura 10 Muharram Lengkap Arab, Latin, Arti dan Fadhilahnya
Doa dan Niat
Meneladani Sikap Nabi Muhammad SAW di Rumah, Salah Satunya Membantu Pekerjaan Istri
Meneladani Sikap Nabi Muhammad SAW di Rumah, Salah Satunya Membantu Pekerjaan Istri
Aktual
Kemenag Ajak Umat Cek Arah Kiblat Saat Istiwa A’zam 15-16 Juli 2026
Kemenag Ajak Umat Cek Arah Kiblat Saat Istiwa A’zam 15-16 Juli 2026
Aktual
Kisah 42 Petani Dieng Sekeluarga Besar Berangkat Haji Bersama Tanpa Direncanakan
Kisah 42 Petani Dieng Sekeluarga Besar Berangkat Haji Bersama Tanpa Direncanakan
Aktual
Kemenag: Penyuluh Agama Harus Aktif Berdakwah di Media Sosial
Kemenag: Penyuluh Agama Harus Aktif Berdakwah di Media Sosial
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com