Editor
KOMPAS.com - Anak yatim merupakan golongan yang mendapat perhatian khusus dalam ajaran Islam, termasuk dalam hal pemenuhan hak dan pemberian santunan.
Namun, masih banyak yang bertanya apakah anak piatu, yakni anak yang kehilangan ibu, juga berhak memperoleh perlakuan serupa.
Meski istilah yatim lebih sering disebut dalam Al-Qur'an, para ulama juga memberikan penjelasan mengenai hak anak piatu dalam konteks sosial.
Baca juga: Doa Mengusap Kepala Anak Yatim dan Artinya, Salah Satu Amalan pada Hari Asyura 10 Muharram
Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah pun menjelaskan bahwa keduanya sama-sama berhak mendapatkan bantuan dan perlindungan sesuai kebutuhan.
Mengutip buku Tanya Jawab Agama (TJA) Jilid 8, Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Aly Aulia, menjelaskan bahwa baik anak yatim maupun anak piatu berhak memperoleh bantuan atau santunan.
Baca juga: Definisi dan Batasan Anak Yatim dalam Islam
Menurutnya, pemahaman tersebut juga ditegaskan dalam Fikih Al Ma'un yang merupakan Keputusan Musyawarah Nasional Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.
Dalam fikih tersebut, istilah yatim tidak hanya dimaknai sebagai anak yang kehilangan orang tua secara biologis, tetapi juga anak yang kehilangan peran dan perlindungan orang tua.
"Pemaknaan yatim tadi itu tidak saja pemaknaan yang ada dalam fikih klasik, artinya yatim secara biologis, tapi juga yatim yang dalam definisi yang nonbiologis– secara sosial," kata Aly pada Rabu (29/7) di Masjid KH. Ahmad Dahlan UMY.
Aly menjelaskan bahwa secara bahasa, istilah yatim berasal dari makna al fardhu atau sendiri. Selain itu, kata yatim juga dapat dimaknai sebagai lemah atau kehilangan.
Karena itu, anak yang ditinggal wafat orang tua dipandang sebagai sosok yang kehilangan perlindungan sehingga membutuhkan perhatian dan bantuan.
Majelis Tarjih Muhammadiyah menilai perlu ada perluasan makna yatim untuk menjawab berbagai persoalan sosial yang berkembang di masyarakat.
Langkah tersebut menjadi bagian dari dakwah pemberdayaan tanpa menghilangkan makna fikih klasik.
Meski demikian, Aly menegaskan bahwa makna formal tetap dipertahankan karena berkaitan dengan berbagai ketentuan hukum Islam, seperti waris, perwalian, nafkah, dan hak-hak keperdataan lainnya.
"Namun demikian dalam hal yang berkaitan dengan memberikan penjaminan hidup, pengelolaan, termasuk juga di dalamnya ada hal-hal yang bersifat sosiologis," ungkapnya.
Dalam perspektif Muhammadiyah, yatim juga dapat dimaknai sebagai anak yang kehilangan otoritas pelindung, baik dari sisi ekonomi, fisik, maupun hukum. Sosok ayah dipandang sebagai simbol perlindungan tersebut.
"Sebagai contoh, misalnya anak-anak terlantar, anak-anak jalanan. Meskipun secara biologis masih ada bapak ibunya, tapi dia tidak mendapatkan protektor," tuturnya.
Dengan pendekatan tersebut, perhatian kepada anak-anak yang kehilangan perlindungan sosial tidak terbatas pada status biologis semata, tetapi juga mempertimbangkan kondisi nyata yang mereka alami.
Status yatim dalam Islam tidak melekat seumur hidup. Meskipun seseorang tetap kehilangan ayah atau ibunya, status yatim akan berakhir ketika anak telah mencapai kedewasaan dan mampu mengurus dirinya sendiri.
Menurut Aly, status tersebut gugur apabila anak telah baligh, menikah, atau memiliki kemampuan mengelola hartanya secara mandiri.
"Adanya tanda-tanda Ar Rusydu, tanda-tanda di mana dia sudah mampu dan bisa mengelola dan memelihara harta," ungkapnya.
Konsep Ar Rusydu atau kemandirian tersebut merujuk pada Surah An-Nisa ayat 6 yang memerintahkan agar anak yatim diuji hingga cukup umur untuk menikah.
Apabila mereka telah dinilai cakap dan mampu mengelola harta, maka harta tersebut diserahkan kepada mereka.
Dalam pandangan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, anak piatu juga berhak memperoleh santunan dan perlindungan sebagaimana anak yatim, terutama dalam konteks sosial dan pemberdayaan.
Meski istilah yatim dalam fikih klasik memiliki makna tertentu yang berkaitan dengan hukum waris dan perwalian, Muhammadiyah memandang bahwa anak-anak yang kehilangan perlindungan juga layak mendapatkan perhatian.
Dengan demikian, semangat menyantuni anak yatim dalam Islam tidak hanya dipahami secara tekstual, tetapi juga diperluas agar mampu menjawab kebutuhan sosial masyarakat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang