Editor
KOMPAS.com - Shalat bukan sekadar rangkaian gerakan yang dilakukan lima kali sehari oleh umat Islam.
Di balik setiap gerakan, terdapat makna filosofis yang berkaitan dengan adab, penyucian jiwa, hingga hubungan seorang hamba dengan Allah SWT.
Pemaknaan ini dijelaskan secara mendalam oleh ulama agar ibadah tidak lagi terasa sebagai rutinitas, melainkan perjalanan ruhani yang membentuk kepribadian seorang Muslim.
Baca juga: Hukum Sholat Sambil Baca Al-Qur’an di HP, Sah atau Tidak?
Dalam kitab Hikmah at-Tasyri’ wa Falsafatuhu, Syekh al-Jurjawi menjelaskan beberapa makna dari gerakan shalat.
Syekh al-Jurjawi menjelaskan bahwa gerakan berdiri atau qiyam dalam shalat bukan sekadar posisi tubuh.
Berdiri menjadi simbol kesadaran penuh seorang hamba yang sedang menghadap Allah SWT. Karena itu, seorang Muslim dituntut menjaga gerakan, menghadirkan hati, dan memusatkan pikiran hanya kepada Allah.
Menurut Syekh al-Jurjawi, manusia secara fitrah akan bersikap tertib ketika berada di hadapan sosok yang dihormati. Hal itu menjadi gambaran bagaimana seharusnya seorang hamba berdiri di hadapan Tuhan.
Syekh al-Jurjawi juga menjelaskan makna filosofis posisi tangan dalam shalat yang diletakkan di bawah dada, dengan tangan kanan di atas tangan kiri.
Menurutnya, posisi tersebut melambangkan keseimbangan manusia antara urusan spiritual dan kehidupan duniawi.
Dengan posisi itu, manusia tidak tenggelam dalam materialisme, tetapi juga tidak larut dalam spiritualitas tanpa kendali. Shalat, menurutnya, mendidik manusia agar tetap stabil, tenang, dan terkendali secara ruhani.
Gerakan menundukkan kepala dalam shalat juga memiliki makna penting dalam membentuk kerendahan hati.
Syekh al-Jurjawi menjelaskan bahwa kepala dan leher menjadi simbol kebanggaan serta keangkuhan manusia. Karena itu, menundukkan kepala saat shalat merupakan bentuk pengakuan bahwa tidak ada yang layak diagungkan selain Allah SWT.
Sikap tersebut sekaligus menjadi latihan untuk mengikis kesombongan diri sedikit demi sedikit.
Allah SWT berfirman:
وَلاَ تَمْشِ فِي الأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولاً
“Dan janganlah engkau berjalan di bumi dengan sombong, karena engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.” (QS. Al-Isra’: 37)
Sujud disebut sebagai gerakan shalat yang paling sarat makna filosofis.
Dalam sujud, wajah yang menjadi bagian tubuh paling mulia justru diletakkan di atas tanah sebagai simbol kerendahan seorang hamba di hadapan Allah SWT.
Syekh al-Jurjawi menjelaskan bahwa sujud menggambarkan totalitas penghambaan manusia kepada Tuhan.
Rasulullah SAW bersabda:
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ
“Keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Rabb-nya adalah ketika ia sedang sujud, maka perbanyaklah doa.” (HR Muslim)
Allah SWT juga berfirman:
وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ
“Bersujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah).” (QS. Al-‘Alaq: 19)
Menurut penjelasan tersebut, sujud bukan bentuk perendahan martabat manusia, melainkan jalan menuju kemuliaan dan kedekatan dengan Allah.
Syekh al-Jurjawi menilai kebiasaan sujud dapat membentuk karakter seorang Muslim.
Orang yang terbiasa sujud akan lebih berhati-hati dalam menjaga diri dari dosa karena menyadari bahwa maksiat dapat menjauhkan dirinya dari Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً
“Tidaklah seorang Muslim bersujud kepada Allah satu kali sujud, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya dan menghapus satu kesalahannya.” (HR Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan:
أَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ
“Bantulah aku (untuk mewujudkan itu) dengan memperbanyak sujud.” (HR Muslim)
Gerakan tasyahud dan membaca shalawat di akhir shalat juga mengandung pesan tentang pentingnya menghargai perantara kebaikan.
Melalui Nabi Muhammad SAW, manusia mengenal Islam dan memahami jalan menuju Allah SWT. Karena itu, membaca shalawat menjadi bentuk penghormatan dan rasa syukur kepada Rasulullah.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.” (QS. Al-Ahzab: 56)
Shalat diakhiri dengan salam sambil menoleh ke kanan dan kiri. Gerakan ini menjadi simbol bahwa setelah beribadah kepada Allah, seorang Muslim harus kembali kepada masyarakat dengan membawa kedamaian.
Menurut Syekh al-Jurjawi, salam juga menjadi bentuk penghormatan kepada para malaikat yang menyertai manusia.
Allah SWT berfirman:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
“Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian mengingkari (nikmat-Ku).”
Melalui penjelasan tersebut, Syekh al-Jurjawi menegaskan bahwa shalat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Setiap gerakan dalam shalat mengandung pelajaran tentang adab, keseimbangan hidup, kerendahan hati, penghormatan kepada sesama, hingga tanggung jawab sosial.
Karena itu, semakin dalam makna shalat dipahami, semakin besar pula pengaruhnya dalam membentuk kehidupan seorang Muslim.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang