Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jejak Rasulullah di Muzdalifah, Kisah Masjid al-Mash’ar al-Haram

Kompas.com, 3 Mei 2026, 08:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Di antara hamparan luas kawasan Muzdalifah, berdiri sebuah tempat yang kerap luput dari perhatian, namun memiliki makna mendalam dalam rangkaian ibadah haji.

Tempat itu adalah Masjid al-Mash'ar al-Haram, lokasi yang menjadi saksi jejak doa dan zikir Nabi Muhammad saat menunaikan haji wada.

Bagi sebagian jemaah, Muzdalifah mungkin hanya dikenal sebagai tempat bermalam setelah wukuf di Arafah.

Namun di balik itu, terdapat dimensi spiritual yang kuat, sebuah ruang sunyi untuk memperbanyak zikir, merenung, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Makna Nama dan Kedudukan dalam Haji

Secara bahasa, istilah “al-Mash’ar al-Haram” memiliki makna yang dalam. Kata al-mash’ar berarti tanda atau simbol, sementara al-haram merujuk pada sesuatu yang suci.

Gabungan keduanya mencerminkan bahwa tempat ini bukan sekadar lokasi geografis, melainkan simbol suci dalam perjalanan ibadah haji.

Dalam Al-Qur’an, penyebutan al-Mash’ar al-Haram menjadi penegasan langsung atas kedudukannya.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 198 agar jemaah haji memperbanyak zikir di tempat ini setelah bertolak dari Arafah.

Ayat tersebut tidak hanya menunjukkan kewajiban ritual, tetapi juga mengandung pesan spiritual, setelah mencapai puncak penghambaan di Arafah, manusia diajak untuk meneguhkan kesadaran akan petunjuk Allah melalui zikir dan doa.

Baca juga: Doa Mabit di Muzdalifah: Arab, Latin & Arti, Amalan Mustajab Puncak Malam Haji

Jejak Rasulullah dalam Haji Wada

Perjalanan menuju al-Mash’ar al-Haram tidak bisa dilepaskan dari teladan Rasulullah SAW saat melaksanakan haji wada, haji terakhir beliau.

Dalam buku Ar-Raheeq Al-Makhtum (Sirah Nabawiyah) karya Safiur Rahman Al-Mubarakpuri, dijelaskan bahwa setelah meninggalkan Arafah, Rasulullah menuju Muzdalifah dan bermalam di sana.

Beliau kemudian melaksanakan salat Subuh di al-Mash’ar al-Haram. Setelah itu, Rasulullah berdiri menghadap kiblat, mengangkat tangan, dan berdoa dengan penuh kekhusyukan hingga langit mulai terang.

Momen ini menjadi salah satu gambaran paling kuat tentang hubungan seorang hamba dengan Tuhannya, setelah melalui fase pengakuan dan taubat di Arafah, dilanjutkan dengan penguatan spiritual melalui zikir di Muzdalifah.

Muzdalifah: Malam Sunyi Penuh Makna

Berbeda dengan Arafah yang dipenuhi jutaan jemaah pada siang hari, Muzdalifah menghadirkan suasana yang lebih hening. Jemaah bermalam (mabit) di tempat terbuka, di bawah langit luas, tanpa sekat kemewahan.

Dalam buku Fiqh al-Ibadat karya Wahbah Az-Zuhaili dijelaskan bahwa mabit di Muzdalifah merupakan bagian penting dari rangkaian ibadah haji yang mengandung nilai ketawadukan dan kesederhanaan.

Di sinilah jemaah tidak hanya beristirahat, tetapi juga mengumpulkan batu untuk lempar jumrah, memperbanyak zikir, serta merenungi perjalanan spiritual yang telah dilalui.

Masjid al-Mash’ar al-Haram menjadi pusat aktivitas tersebut, tempat di mana doa dan harapan dipanjatkan dalam keheningan malam.

Baca juga: Jemaah Haji Dilarang Jalan Kaki dari Muzdalifah ke Mina

Fungsi Strategis dalam Rangkaian Haji

Secara geografis, Masjid al-Mash’ar al-Haram berada di antara dua titik penting lainnya dalam haji, Padang Arafah dan Mina.

Letaknya menjadikannya sebagai penghubung dalam perjalanan spiritual jemaah:

  • Dari Arafah: tempat puncak penghambaan dan doa
  • Ke Muzdalifah: tempat penguatan spiritual melalui zikir
  • Menuju Mina: tempat pelaksanaan lempar jumrah dan penyempurnaan ibadah

Dalam buku Hajj & Umrah: From A to Z karya Mansour Al-Nogaidan disebutkan bahwa setiap lokasi dalam haji memiliki makna berlapis, dan Muzdalifah adalah fase transisi yang penting dalam perjalanan tersebut.

Dimensi Spiritual: Dari Zikir Menuju Kesadaran

Keutamaan al-Mash’ar al-Haram tidak hanya terletak pada sejarahnya, tetapi juga pada pesan spiritual yang dibawanya.

Di tempat ini, jemaah diajak untuk memperbanyak zikir sebagai bentuk kesadaran akan petunjuk Allah.

Zikir menjadi sarana untuk menenangkan hati, memperkuat iman, dan mengingat kembali tujuan utama ibadah haji.

Dalam perspektif tasawuf, momen di Muzdalifah sering dimaknai sebagai fase tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), di mana seorang hamba menata kembali hatinya sebelum melanjutkan perjalanan menuju Mina.

Baca juga: Apa yang Harus Dilakukan Saat Wukuf di Arafah? Ini Amalan Utamanya

Menapaki Jejak yang Sama

Hingga hari ini, jutaan umat Islam dari seluruh dunia mengikuti jejak yang sama seperti yang dilakukan Rasulullah SAW lebih dari 14 abad lalu.

Mereka berjalan dari Arafah ke Muzdalifah, bermalam di bawah langit terbuka, lalu berdiri di al-Mash’ar al-Haram untuk berdoa dan berzikir.

Meski zaman telah berubah, esensi ibadah tetap sama: kerendahan hati, ketundukan, dan harapan akan ampunan Allah.

Ruang Sunyi yang Menghidupkan Hati

Masjid al-Mash’ar al-Haram mungkin tidak semegah masjid-masjid besar lainnya. Namun justru di sanalah letak keistimewaannya.

Ia adalah ruang sunyi yang menghidupkan hati, tempat di mana doa Rasulullah SAW pernah dipanjatkan, dan di mana jutaan umat Islam melanjutkan tradisi spiritual yang sama.

Di tengah perjalanan haji yang panjang dan melelahkan, Muzdalifah mengajarkan satu hal penting bahwa dalam keheningan, manusia justru bisa lebih dekat dengan Tuhannya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar