KOMPAS.com – Di antara hamparan luas kawasan Muzdalifah, berdiri sebuah tempat yang kerap luput dari perhatian, namun memiliki makna mendalam dalam rangkaian ibadah haji.
Tempat itu adalah Masjid al-Mash'ar al-Haram, lokasi yang menjadi saksi jejak doa dan zikir Nabi Muhammad saat menunaikan haji wada.
Bagi sebagian jemaah, Muzdalifah mungkin hanya dikenal sebagai tempat bermalam setelah wukuf di Arafah.
Namun di balik itu, terdapat dimensi spiritual yang kuat, sebuah ruang sunyi untuk memperbanyak zikir, merenung, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Secara bahasa, istilah “al-Mash’ar al-Haram” memiliki makna yang dalam. Kata al-mash’ar berarti tanda atau simbol, sementara al-haram merujuk pada sesuatu yang suci.
Gabungan keduanya mencerminkan bahwa tempat ini bukan sekadar lokasi geografis, melainkan simbol suci dalam perjalanan ibadah haji.
Dalam Al-Qur’an, penyebutan al-Mash’ar al-Haram menjadi penegasan langsung atas kedudukannya.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 198 agar jemaah haji memperbanyak zikir di tempat ini setelah bertolak dari Arafah.
Ayat tersebut tidak hanya menunjukkan kewajiban ritual, tetapi juga mengandung pesan spiritual, setelah mencapai puncak penghambaan di Arafah, manusia diajak untuk meneguhkan kesadaran akan petunjuk Allah melalui zikir dan doa.
Baca juga: Doa Mabit di Muzdalifah: Arab, Latin & Arti, Amalan Mustajab Puncak Malam Haji
Perjalanan menuju al-Mash’ar al-Haram tidak bisa dilepaskan dari teladan Rasulullah SAW saat melaksanakan haji wada, haji terakhir beliau.
Dalam buku Ar-Raheeq Al-Makhtum (Sirah Nabawiyah) karya Safiur Rahman Al-Mubarakpuri, dijelaskan bahwa setelah meninggalkan Arafah, Rasulullah menuju Muzdalifah dan bermalam di sana.
Beliau kemudian melaksanakan salat Subuh di al-Mash’ar al-Haram. Setelah itu, Rasulullah berdiri menghadap kiblat, mengangkat tangan, dan berdoa dengan penuh kekhusyukan hingga langit mulai terang.
Momen ini menjadi salah satu gambaran paling kuat tentang hubungan seorang hamba dengan Tuhannya, setelah melalui fase pengakuan dan taubat di Arafah, dilanjutkan dengan penguatan spiritual melalui zikir di Muzdalifah.
Berbeda dengan Arafah yang dipenuhi jutaan jemaah pada siang hari, Muzdalifah menghadirkan suasana yang lebih hening. Jemaah bermalam (mabit) di tempat terbuka, di bawah langit luas, tanpa sekat kemewahan.
Dalam buku Fiqh al-Ibadat karya Wahbah Az-Zuhaili dijelaskan bahwa mabit di Muzdalifah merupakan bagian penting dari rangkaian ibadah haji yang mengandung nilai ketawadukan dan kesederhanaan.
Di sinilah jemaah tidak hanya beristirahat, tetapi juga mengumpulkan batu untuk lempar jumrah, memperbanyak zikir, serta merenungi perjalanan spiritual yang telah dilalui.
Masjid al-Mash’ar al-Haram menjadi pusat aktivitas tersebut, tempat di mana doa dan harapan dipanjatkan dalam keheningan malam.
Baca juga: Jemaah Haji Dilarang Jalan Kaki dari Muzdalifah ke Mina
Secara geografis, Masjid al-Mash’ar al-Haram berada di antara dua titik penting lainnya dalam haji, Padang Arafah dan Mina.
Letaknya menjadikannya sebagai penghubung dalam perjalanan spiritual jemaah:
Dalam buku Hajj & Umrah: From A to Z karya Mansour Al-Nogaidan disebutkan bahwa setiap lokasi dalam haji memiliki makna berlapis, dan Muzdalifah adalah fase transisi yang penting dalam perjalanan tersebut.
Keutamaan al-Mash’ar al-Haram tidak hanya terletak pada sejarahnya, tetapi juga pada pesan spiritual yang dibawanya.
Di tempat ini, jemaah diajak untuk memperbanyak zikir sebagai bentuk kesadaran akan petunjuk Allah.
Zikir menjadi sarana untuk menenangkan hati, memperkuat iman, dan mengingat kembali tujuan utama ibadah haji.
Dalam perspektif tasawuf, momen di Muzdalifah sering dimaknai sebagai fase tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), di mana seorang hamba menata kembali hatinya sebelum melanjutkan perjalanan menuju Mina.
Baca juga: Apa yang Harus Dilakukan Saat Wukuf di Arafah? Ini Amalan Utamanya
Hingga hari ini, jutaan umat Islam dari seluruh dunia mengikuti jejak yang sama seperti yang dilakukan Rasulullah SAW lebih dari 14 abad lalu.
Mereka berjalan dari Arafah ke Muzdalifah, bermalam di bawah langit terbuka, lalu berdiri di al-Mash’ar al-Haram untuk berdoa dan berzikir.
Meski zaman telah berubah, esensi ibadah tetap sama: kerendahan hati, ketundukan, dan harapan akan ampunan Allah.
Masjid al-Mash’ar al-Haram mungkin tidak semegah masjid-masjid besar lainnya. Namun justru di sanalah letak keistimewaannya.
Ia adalah ruang sunyi yang menghidupkan hati, tempat di mana doa Rasulullah SAW pernah dipanjatkan, dan di mana jutaan umat Islam melanjutkan tradisi spiritual yang sama.
Di tengah perjalanan haji yang panjang dan melelahkan, Muzdalifah mengajarkan satu hal penting bahwa dalam keheningan, manusia justru bisa lebih dekat dengan Tuhannya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang