KOMPAS.com – Di antara rangkaian ibadah haji yang penuh makna, mabit di Muzdalifah sering kali dipahami sekadar “bermalam sejenak”.
Padahal, di balik singkatnya waktu tersebut, tersimpan momentum spiritual yang sangat kuat, malam ketika jutaan doa dipanjatkan dalam suasana sunyi di padang terbuka.
Bagi jamaah haji, Muzdalifah bukan hanya tempat transit setelah wukuf di Arafah, tetapi juga ruang kontemplasi yang menghadirkan pengalaman religius yang mendalam.
Di sinilah doa-doa dipanjatkan dengan harapan dikabulkan, sekaligus menjadi bagian penting dari kesempurnaan ibadah haji.
Mabit di Muzdalifah adalah aktivitas bermalam atau singgah yang dilakukan jamaah haji setelah meninggalkan Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah.
Secara geografis, Muzdalifah merupakan dataran terbuka yang terletak di antara Arafah dan Mina.
Jamaah tiba di lokasi ini setelah matahari terbenam, lalu melaksanakan salat Maghrib dan Isya secara jamak ta’khir.
Dalam fikih haji, mabit di Muzdalifah termasuk wajib haji. Artinya, jika ditinggalkan tanpa uzur, jamaah wajib membayar dam (denda).
Ketentuan ini dijelaskan dalam berbagai literatur klasik, termasuk dalam kitab-kitab manasik yang menjadi rujukan ulama.
Baca juga: Kumpulan Doa Haji dan Umrah Lengkap: Arab, Latin, Arti Sesuai Sunnah
Suasana Muzdalifah yang terbuka, jauh dari hiruk pikuk kota, menghadirkan pengalaman spiritual yang berbeda. Jamaah beristirahat di bawah langit terbuka, memperbanyak zikir, doa, dan muhasabah.
Dalam perspektif keagamaan, waktu ini diyakini sebagai salah satu momen mustajab untuk berdoa.
Dalam buku Manasik Haji dan Umrah 2026 terbitan Kementerian Haji dan Umrah, disebutkan bahwa malam di Muzdalifah menjadi kesempatan bagi jamaah untuk memohon berbagai hajat dengan penuh kekhusyukan.
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar, yang menekankan pentingnya memilih waktu dan kondisi hati yang tepat dalam berdoa. Ketika hati hadir sepenuhnya, doa menjadi lebih bermakna.
Berikut salah satu doa yang dianjurkan saat mabit di Muzdalifah:
اللَّهُمَّ إِنَّ هَذِهِ مُرْدَلِفَهُ جُمِعَتْ فِيهَا الْسِنَةٌ مُخْتَلِفَةٌ تَسْأَلُك حَوَائِجَ مُتَنَوِّعَةٌ فَاجْعَلْنِي مِمَّنْ دَعَاكَ فَاسْتَجَبْتَ لَهُ وَتَوَكَّلَ عَلَيْكَ فَكَفَيْتَهُ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْأُخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Allahumma inna hadzihi Muzdalifah jumi‘at fiihaa alsinatun mukhtalifah tas’aluka hawa’ija mutanawwi‘ah faj‘alnii mimman da‘aaka fastajabta lahu wa tawakkala ‘alaika fakafaitahu yaa arhamar raahimiin. Allahumma rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa ‘adzaaban naar.
Artinya: “Ya Allah, di tempat ini (Muzdalifah) berkumpul berbagai bahasa yang memohon kepada-Mu beragam kebutuhan. Jadikanlah aku termasuk orang yang berdoa kepada-Mu lalu Engkau kabulkan, yang bertawakal kepada-Mu lalu Engkau cukupkan. Wahai Yang Maha Pengasih. Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan di akhirat serta lindungilah kami dari siksa neraka.”
Baca juga: Niat Ihram dan Doa Haji: Arab, Latin, Arti, dan Kemudahan bagi Jemaah
Selain doa utama, terdapat pula doa yang dinukil dari Imam An-Nawawi:
اللهم إنِّي أَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَنِي فِي هَذَا الْمَكَانِ جَوَامِعَ الْخَيْرِ لَّه،ِ وَأَنْ تَصْلَحَ شَأْنِي كُلِّه،ِ وَأَنْ تَصْرِفَ عَنِّي الشَّرَّ كَلَّهُ ، فَإِنَّهُ لَا يَفْعَلُ ذَلِكَ غَيْرُكَ وَلَا يَجُودُ بِهِ إِلَّا أَنْتَ
Allahumma innī as’aluka an tarzuqanī fī hādzal makāni jawāmi‘al khairi lahu, wa an tuṣliḥa sya’nī kullahu, wa an taṣrifa ‘annī asy-syarra kullahu, fa innahu lā yaf‘alu dzālika ghairuka wa lā yajūdu bihi illā anta.
Artinya: "Ya Allah, aku mohon kepada-Mu agar diberi seluruh kebaikan di tempat ini. Engkau perbaiki keadaanku dan Engkau tolak dariku segala kejahatan. Sesungguhnya tidak ada yang dapat menjadikan semua itu selain Engkau dan tidak ada yang dapat memperbaikinya selain Engkau."
Sebelum meninggalkan Muzdalifah, jamaah juga dianjurkan membaca doa yang mengandung penghormatan kepada Nabi Muhammad serta permohonan keselamatan dunia dan akhirat.
اللهم بِحَقِّ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ وَالْبَيْتِ الْحَرَامِ وَالشَّهْرِ الْحَرَامِ وَالرَّكْنِ وَالْمَقَامِ أَبْلغ رُوْحَ مُحَمَّدٍ مِنَّا التَّحِيَّةَ وَالسَّلَامَ وَأَدْخِلْنَا دَارَ السَّلَامِ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَام
Allahumma biḥaqqil-masya‘aril-ḥarām wal-baitil-ḥarām wasy-syahril-ḥarām war-rukni wal-maqām, abligh rūḥa Muḥammadin minnā at-taḥiyyata was-salām, wa adkhilnā dāras-salām yā dzal-jalāli wal-ikrām.
Artinya: "Ya Allah, demi hak Masy'arilHaram dan Baitil-Haram, demi Bulan Haram dan Rukun Ka'bah serta demi Maqam Ibrahim, sampaikan salam dan penghormatan dari kami kepada ruh Nabi Muhammad SAW dan masukkan kami ke dalam rumah kedamaian wahai Tuhan Yang Empunya keagungan dan kemuliaan."
Selain berdoa, ada beberapa amalan yang dianjurkan selama mabit:
Dalam buku Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa rangkaian ibadah haji, termasuk mabit, tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga membentuk kesadaran spiritual yang mendalam.
Baca juga: Kumpulan Doa Haji dari Rasulullah: Agar Selamat dan Raih Haji Mabrur
Kerikil yang digunakan untuk melontar jumrah biasanya diambil langsung di Muzdalifah. Ukurannya kecil, kira-kira sebesar kacang.
Jumlahnya sekitar 49 atau 70 butir, tergantung jumlah hari melontar jumrah. Namun dalam praktik modern, sebagian jamaah mendapatkan kerikil yang telah disiapkan oleh petugas.
Menariknya, kerikil tidak harus dicuci terlebih dahulu, selama dalam kondisi bersih dan suci.
Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah soal waktu meninggalkan Muzdalifah. Dalam ketentuan fikih, jamaah baru boleh bergerak menuju Mina setelah melewati tengah malam.
Namun, yang dimaksud tengah malam bukan pukul 00.00, melainkan pertengahan antara waktu Maghrib dan Subuh.
Sebagai ilustrasi, jika Maghrib pukul 18.55 dan Subuh pukul 04.35, maka durasi malam sekitar 9 jam 40 menit. Setengahnya sekitar 4 jam 50 menit, sehingga tengah malam jatuh sekitar pukul 23.45.
Perhitungan ini menjadi penting agar ibadah tetap sesuai dengan ketentuan syariat.
Mabit di Muzdalifah pada akhirnya bukan hanya soal singgah, tetapi tentang menghadirkan diri sepenuhnya di hadapan Allah.
Dalam sunyi malam, tanpa sekat, seorang hamba berbicara langsung kepada Tuhannya. Tidak ada kemewahan, tidak ada distraksi, hanya doa, harapan, dan pengakuan atas keterbatasan diri.
Di titik inilah, mabit menjadi salah satu fase paling jujur dalam perjalanan haji. Sebuah momen ketika manusia kembali pada esensinya memohon, berharap, dan berserah.
Maka, ketika jutaan jamaah meninggalkan Muzdalifah menuju Mina, yang mereka bawa bukan hanya kerikil untuk jumrah, tetapi juga doa-doa yang telah mereka titipkan di langit malam.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang