Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Doa Mabit di Muzdalifah: Arab, Latin & Arti, Amalan Mustajab Puncak Malam Haji

Kompas.com, 30 April 2026, 13:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Di antara rangkaian ibadah haji yang penuh makna, mabit di Muzdalifah sering kali dipahami sekadar “bermalam sejenak”.

Padahal, di balik singkatnya waktu tersebut, tersimpan momentum spiritual yang sangat kuat, malam ketika jutaan doa dipanjatkan dalam suasana sunyi di padang terbuka.

Bagi jamaah haji, Muzdalifah bukan hanya tempat transit setelah wukuf di Arafah, tetapi juga ruang kontemplasi yang menghadirkan pengalaman religius yang mendalam.

Di sinilah doa-doa dipanjatkan dengan harapan dikabulkan, sekaligus menjadi bagian penting dari kesempurnaan ibadah haji.

Apa Itu Mabit di Muzdalifah?

Mabit di Muzdalifah adalah aktivitas bermalam atau singgah yang dilakukan jamaah haji setelah meninggalkan Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Secara geografis, Muzdalifah merupakan dataran terbuka yang terletak di antara Arafah dan Mina.

Jamaah tiba di lokasi ini setelah matahari terbenam, lalu melaksanakan salat Maghrib dan Isya secara jamak ta’khir.

Dalam fikih haji, mabit di Muzdalifah termasuk wajib haji. Artinya, jika ditinggalkan tanpa uzur, jamaah wajib membayar dam (denda).

Ketentuan ini dijelaskan dalam berbagai literatur klasik, termasuk dalam kitab-kitab manasik yang menjadi rujukan ulama.

Baca juga: Kumpulan Doa Haji dan Umrah Lengkap: Arab, Latin, Arti Sesuai Sunnah

Malam Mustajab: Mengapa Muzdalifah Istimewa?

Suasana Muzdalifah yang terbuka, jauh dari hiruk pikuk kota, menghadirkan pengalaman spiritual yang berbeda. Jamaah beristirahat di bawah langit terbuka, memperbanyak zikir, doa, dan muhasabah.

Dalam perspektif keagamaan, waktu ini diyakini sebagai salah satu momen mustajab untuk berdoa.

Dalam buku Manasik Haji dan Umrah 2026 terbitan Kementerian Haji dan Umrah, disebutkan bahwa malam di Muzdalifah menjadi kesempatan bagi jamaah untuk memohon berbagai hajat dengan penuh kekhusyukan.

Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar, yang menekankan pentingnya memilih waktu dan kondisi hati yang tepat dalam berdoa. Ketika hati hadir sepenuhnya, doa menjadi lebih bermakna.

Doa Mabit di Muzdalifah

Berikut salah satu doa yang dianjurkan saat mabit di Muzdalifah:

اللَّهُمَّ إِنَّ هَذِهِ مُرْدَلِفَهُ جُمِعَتْ فِيهَا الْسِنَةٌ مُخْتَلِفَةٌ تَسْأَلُك حَوَائِجَ مُتَنَوِّعَةٌ فَاجْعَلْنِي مِمَّنْ دَعَاكَ فَاسْتَجَبْتَ لَهُ وَتَوَكَّلَ عَلَيْكَ فَكَفَيْتَهُ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْأُخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Allahumma inna hadzihi Muzdalifah jumi‘at fiihaa alsinatun mukhtalifah tas’aluka hawa’ija mutanawwi‘ah faj‘alnii mimman da‘aaka fastajabta lahu wa tawakkala ‘alaika fakafaitahu yaa arhamar raahimiin. Allahumma rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa ‘adzaaban naar.

Artinya: “Ya Allah, di tempat ini (Muzdalifah) berkumpul berbagai bahasa yang memohon kepada-Mu beragam kebutuhan. Jadikanlah aku termasuk orang yang berdoa kepada-Mu lalu Engkau kabulkan, yang bertawakal kepada-Mu lalu Engkau cukupkan. Wahai Yang Maha Pengasih. Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan di akhirat serta lindungilah kami dari siksa neraka.”

Baca juga: Niat Ihram dan Doa Haji: Arab, Latin, Arti, dan Kemudahan bagi Jemaah

Doa Lain yang Dianjurkan

Selain doa utama, terdapat pula doa yang dinukil dari Imam An-Nawawi:

اللهم إنِّي أَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَنِي فِي هَذَا الْمَكَانِ جَوَامِعَ الْخَيْرِ لَّه،ِ وَأَنْ تَصْلَحَ شَأْنِي كُلِّه،ِ وَأَنْ تَصْرِفَ عَنِّي الشَّرَّ كَلَّهُ ، فَإِنَّهُ لَا يَفْعَلُ ذَلِكَ غَيْرُكَ وَلَا يَجُودُ بِهِ إِلَّا أَنْتَ

Allahumma innī as’aluka an tarzuqanī fī hādzal makāni jawāmi‘al khairi lahu, wa an tuṣliḥa sya’nī kullahu, wa an taṣrifa ‘annī asy-syarra kullahu, fa innahu lā yaf‘alu dzālika ghairuka wa lā yajūdu bihi illā anta.

Artinya: "Ya Allah, aku mohon kepada-Mu agar diberi seluruh kebaikan di tempat ini. Engkau perbaiki keadaanku dan Engkau tolak dariku segala kejahatan. Sesungguhnya tidak ada yang dapat menjadikan semua itu selain Engkau dan tidak ada yang dapat memperbaikinya selain Engkau."

Doa Sebelum Meninggalkan Muzdalifah

Sebelum meninggalkan Muzdalifah, jamaah juga dianjurkan membaca doa yang mengandung penghormatan kepada Nabi Muhammad serta permohonan keselamatan dunia dan akhirat.

اللهم بِحَقِّ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ وَالْبَيْتِ الْحَرَامِ وَالشَّهْرِ الْحَرَامِ وَالرَّكْنِ وَالْمَقَامِ أَبْلغ رُوْحَ مُحَمَّدٍ مِنَّا التَّحِيَّةَ وَالسَّلَامَ وَأَدْخِلْنَا دَارَ السَّلَامِ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَام

Allahumma biḥaqqil-masya‘aril-ḥarām wal-baitil-ḥarām wasy-syahril-ḥarām war-rukni wal-maqām, abligh rūḥa Muḥammadin minnā at-taḥiyyata was-salām, wa adkhilnā dāras-salām yā dzal-jalāli wal-ikrām.

Artinya: "Ya Allah, demi hak Masy'arilHaram dan Baitil-Haram, demi Bulan Haram dan Rukun Ka'bah serta demi Maqam Ibrahim, sampaikan salam dan penghormatan dari kami kepada ruh Nabi Muhammad SAW dan masukkan kami ke dalam rumah kedamaian wahai Tuhan Yang Empunya keagungan dan kemuliaan."

Amalan Penting Selain Doa

Selain berdoa, ada beberapa amalan yang dianjurkan selama mabit:

  • Pertama, memperbanyak zikir dan takbir sebagai bentuk penghambaan.
  • Ketiga, menjaga ketenangan hati dan memperbanyak refleksi diri.

Dalam buku Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa rangkaian ibadah haji, termasuk mabit, tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga membentuk kesadaran spiritual yang mendalam.

Baca juga: Kumpulan Doa Haji dari Rasulullah: Agar Selamat dan Raih Haji Mabrur

Ketentuan Mengambil Kerikil

Kerikil yang digunakan untuk melontar jumrah biasanya diambil langsung di Muzdalifah. Ukurannya kecil, kira-kira sebesar kacang.

Jumlahnya sekitar 49 atau 70 butir, tergantung jumlah hari melontar jumrah. Namun dalam praktik modern, sebagian jamaah mendapatkan kerikil yang telah disiapkan oleh petugas.

Menariknya, kerikil tidak harus dicuci terlebih dahulu, selama dalam kondisi bersih dan suci.

Kapan Jamaah Boleh Meninggalkan Muzdalifah?

Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah soal waktu meninggalkan Muzdalifah. Dalam ketentuan fikih, jamaah baru boleh bergerak menuju Mina setelah melewati tengah malam.

Namun, yang dimaksud tengah malam bukan pukul 00.00, melainkan pertengahan antara waktu Maghrib dan Subuh.

Sebagai ilustrasi, jika Maghrib pukul 18.55 dan Subuh pukul 04.35, maka durasi malam sekitar 9 jam 40 menit. Setengahnya sekitar 4 jam 50 menit, sehingga tengah malam jatuh sekitar pukul 23.45.

Perhitungan ini menjadi penting agar ibadah tetap sesuai dengan ketentuan syariat.

Lebih dari Sekadar Bermalam

Mabit di Muzdalifah pada akhirnya bukan hanya soal singgah, tetapi tentang menghadirkan diri sepenuhnya di hadapan Allah.

Dalam sunyi malam, tanpa sekat, seorang hamba berbicara langsung kepada Tuhannya. Tidak ada kemewahan, tidak ada distraksi, hanya doa, harapan, dan pengakuan atas keterbatasan diri.

Di titik inilah, mabit menjadi salah satu fase paling jujur dalam perjalanan haji. Sebuah momen ketika manusia kembali pada esensinya memohon, berharap, dan berserah.

Maka, ketika jutaan jamaah meninggalkan Muzdalifah menuju Mina, yang mereka bawa bukan hanya kerikil untuk jumrah, tetapi juga doa-doa yang telah mereka titipkan di langit malam.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Apakah Zakat Emas Harus Dibayar dengan Emas? Ini Penjelasan dan Cara Menghitungnya
Apakah Zakat Emas Harus Dibayar dengan Emas? Ini Penjelasan dan Cara Menghitungnya
Aktual
Pemprov Papua Barat Usulkan Tambahan Kuota untuk Memperpendek Masa Tunggu Haji
Pemprov Papua Barat Usulkan Tambahan Kuota untuk Memperpendek Masa Tunggu Haji
Aktual
Rencana Pembukaan Embarkasi Haji Sorong, Menhaj Ungkap Syarat yang Harus Dipenuhi
Rencana Pembukaan Embarkasi Haji Sorong, Menhaj Ungkap Syarat yang Harus Dipenuhi
Aktual
Daftar Tunggu Haji Papua Barat dan Papua Barat Daya Tembus 12.063 Orang, Verifikasi Terus Diperketat
Daftar Tunggu Haji Papua Barat dan Papua Barat Daya Tembus 12.063 Orang, Verifikasi Terus Diperketat
Aktual
Menhaj Minta Tata Kelola Haji di Papua Lebih Transparan demi Tingkatkan Layanan Haji 2027
Menhaj Minta Tata Kelola Haji di Papua Lebih Transparan demi Tingkatkan Layanan Haji 2027
Aktual
Alasan Mekanisme Lunas Tunda Ganti untuk Haji Khusus Resmi Dihapus, Wamenhaj: Ada Permainan Oknum
Alasan Mekanisme Lunas Tunda Ganti untuk Haji Khusus Resmi Dihapus, Wamenhaj: Ada Permainan Oknum
Aktual
Mekanisme Lunas Tunda Ganti untuk Haji Khusus Resmi Dihapus Kemenhaj, Apa Itu?
Mekanisme Lunas Tunda Ganti untuk Haji Khusus Resmi Dihapus Kemenhaj, Apa Itu?
Aktual
Mengapa Fatwa Haram Vape Justru Panen Dukungan Pelaku Industri? Ini Alasannya
Mengapa Fatwa Haram Vape Justru Panen Dukungan Pelaku Industri? Ini Alasannya
Aktual
MUI Jatim Resmi Terbitkan Fatwa Haram Vape, Ini Penjelasannya
MUI Jatim Resmi Terbitkan Fatwa Haram Vape, Ini Penjelasannya
Aktual
MUI Jatim Resmi Terbitkan Fatwa Haram Penyalahgunaan Vape, Panen Dukungan
MUI Jatim Resmi Terbitkan Fatwa Haram Penyalahgunaan Vape, Panen Dukungan
Aktual
Alasan LPPOM Menyatakan Kolesom Jumbo Haram, Alkohol 19,7%!
Alasan LPPOM Menyatakan Kolesom Jumbo Haram, Alkohol 19,7%!
Aktual
Bahasa Arab Terima Kasih: Syukron, Jazakallah & Balasannya
Bahasa Arab Terima Kasih: Syukron, Jazakallah & Balasannya
Doa Harian
Doa untuk Kedua Orang Tua: Arab, Latin, Arti & Keutamaannya
Doa untuk Kedua Orang Tua: Arab, Latin, Arti & Keutamaannya
Doa Harian
La Ilaha Illa Anta Subhanaka Inni Kuntu Minadzolimin: Arti, Bacaan Arab, Keutamaan dan Cara Mengamalkannya
La Ilaha Illa Anta Subhanaka Inni Kuntu Minadzolimin: Arti, Bacaan Arab, Keutamaan dan Cara Mengamalkannya
Doa Harian
LPPOM: Kolesom yang Viral Termasuk Khamr dan Haram, Alkohol Capai 19,7 Persen
LPPOM: Kolesom yang Viral Termasuk Khamr dan Haram, Alkohol Capai 19,7 Persen
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar