Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menangis Haru, Penjual Sayur Asal Kebumen: Orang seperti Saya Kok Bisa Berhaji

Kompas.com, 16 Juni 2026, 06:52 WIB
Pythag Kurniati,
Khairina

Tim Redaksi

JEDDAH, KOMPAS.com - Bagi Daryati (58), seorang jemaah haji asal Kebumen, Tanah Suci dulunya mungkin terasa seperti mimpi. Bekerja sehari-sehari berjualan sayur dan masakan, Daryati akhirnya bisa menuntaskan rukun Islam kelima.

Perjalanan menuju Baitullah baginya membutuhkan kesabaran luar biasa. Daryati harus menabung dan menanti selama lebih dari satu dekade. Keberangkatannya sempat tertunda akibat pandemi.

"Menabungnya 14 tahun, lama sekali. Tadinya mau berangkat 2023, tapi setelah ada Corona ditunda tiga tahun berangkat. Sekarang senang sekali," ungkapnya di sela jadwal kepulangannya ke Tanah Air, Senin (15/6/2026).

Baca juga: 85.290 Jemaah Haji Tiba di Indonesia, Kemenhaj Ajak Jaga Kepedulian

Keinginan suci Daryati berawal ketika ia mendapatkan rezeki dari hasil penjualan tanah warisan yang berlokasi strategis. Dengan tekad bulat, ia memutuskan untuk menggunakan hasil penjualan itu untuk mendaftar haji.

"Warisan saya di pinggir jalan besar, harga jualnya tinggi. Kok aku mau ya (berhaji). Aku ajak suaminya awalnya nggak mau, masa pergi haji nggak mau. Akhirnya mau," kenang Daryati.

Momen Penuh Haru di Tanah Suci

Ketika menginjakkan kaki di Tanah Suci, perasaan Daryati campur aduk. Selama berada di Madinah, ia mengaku hatinya terus berdebar, namun di saat yang sama ia merasa sangat bahagia lantaran dapat menjalankan ibadah di Masjid Nabawi.

Rasa berdebar itu kembali muncul saat ia harus bertolak ke Makkah. Puncaknya adalah ketika ia berdiri langsung di depan Kabah. Sebagai seorang penjual sayur, ia merasa sangat bersyukur dan terharu bisa sampai ke titik tersebut.

"Senang, senang sekali, masya Allah. Orang kayak aku kok bisa berhaji, ke Masjidil Haram, sedangkan orang yang kaya-kaya itu belum pasti bisa ke Makkah," ucapnya dengan penuh rasa syukur.

Pengalaman spiritual yang tak terlupakan juga ia rasakan saat melaksanakan tawaf di tengah lautan manusia. Saking padatnya jemaah di sekelilingnya, ia merasa tubuhnya sampai terangkat dan terbawa arus putaran.

"Masya Allah orangnya banyak sekali berdesak-desakan sampai kaki saya enggak ngambah jubin (memijak lantai) di Masjidil Haram," ceritanya.

Di tengah padatnya kegiatan, sang suami juga sempat jatuh sakit dan dirawat oleh dokter karena pilek. Beruntung suaminya bisa kembali pulih dan beraktivitas normal setelah dua hari dirawat.

Baca juga: Mengenal Dua Skema Tanazul Saat Kepulangan Jemaah Haji Indonesia

Makna Ibadah dan Doa di Padang Arafah

Bagi Daryati, haji bukan sekadar rangkaian ibadah fisik, melainkan sebuah proses transformasi untuk menjadi pribadi yang baru. Ia memaknai perjalanan ini sebagai momentum untuk memperbaiki diri sekembalinya ke Tanah Air.

"Ingin mengubah yang tidak baik menjadi baik. Yang tadinya pelit jangan pelit. Membantu sesama," ujarnya.

Momen wukuf di Arafah menjadi salah satu titik paling emosional bagi Daryati. Di tempat yang mustajab itu, air matanya tumpah saat memanjatkan doa untuk keluarga tercinta yang ditinggalkan di rumah.

"Di Arafah berdoa agar anak menantu saya bisa seperti saya ke sini," ungkapnya sambil menangis.

Baca juga: Syarat Kesehatan Haji 2027 Diperketat, Jamaah Demensia dan TBC Bisa Gagal Berangkat

Kini, setelah seluruh rangkaian rukun Islam kelima selesai ditunaikan, Daryati bersiap untuk kembali ke Kebumen. Di balik kelegaan dan kebahagiaannya, terselip rasa rindu yang mendalam kepada keluarganya.

"Rindu anak, cucu, dan menantu. Ingin (kemari lagi), semoga allah mengizinkan," tuturnya.

Untuk mengobati kerinduan keluarga di rumah, Daryati tidak lupa memborong berbagai buah tangan khas Timur Tengah. Mulai dari cokelat dubai, buah tin, hingga kurma sudah ia siapkan untuk keluarga.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Apakah Zakat Emas Harus Dibayar dengan Emas? Ini Penjelasan dan Cara Menghitungnya
Apakah Zakat Emas Harus Dibayar dengan Emas? Ini Penjelasan dan Cara Menghitungnya
Aktual
Pemprov Papua Barat Usulkan Tambahan Kuota untuk Memperpendek Masa Tunggu Haji
Pemprov Papua Barat Usulkan Tambahan Kuota untuk Memperpendek Masa Tunggu Haji
Aktual
Rencana Pembukaan Embarkasi Haji Sorong, Menhaj Ungkap Syarat yang Harus Dipenuhi
Rencana Pembukaan Embarkasi Haji Sorong, Menhaj Ungkap Syarat yang Harus Dipenuhi
Aktual
Daftar Tunggu Haji Papua Barat dan Papua Barat Daya Tembus 12.063 Orang, Verifikasi Terus Diperketat
Daftar Tunggu Haji Papua Barat dan Papua Barat Daya Tembus 12.063 Orang, Verifikasi Terus Diperketat
Aktual
Menhaj Minta Tata Kelola Haji di Papua Lebih Transparan demi Tingkatkan Layanan Haji 2027
Menhaj Minta Tata Kelola Haji di Papua Lebih Transparan demi Tingkatkan Layanan Haji 2027
Aktual
Alasan Mekanisme Lunas Tunda Ganti untuk Haji Khusus Resmi Dihapus, Wamenhaj: Ada Permainan Oknum
Alasan Mekanisme Lunas Tunda Ganti untuk Haji Khusus Resmi Dihapus, Wamenhaj: Ada Permainan Oknum
Aktual
Mekanisme Lunas Tunda Ganti untuk Haji Khusus Resmi Dihapus Kemenhaj, Apa Itu?
Mekanisme Lunas Tunda Ganti untuk Haji Khusus Resmi Dihapus Kemenhaj, Apa Itu?
Aktual
Mengapa Fatwa Haram Vape Justru Panen Dukungan Pelaku Industri? Ini Alasannya
Mengapa Fatwa Haram Vape Justru Panen Dukungan Pelaku Industri? Ini Alasannya
Aktual
MUI Jatim Resmi Terbitkan Fatwa Haram Vape, Ini Penjelasannya
MUI Jatim Resmi Terbitkan Fatwa Haram Vape, Ini Penjelasannya
Aktual
MUI Jatim Resmi Terbitkan Fatwa Haram Penyalahgunaan Vape, Panen Dukungan
MUI Jatim Resmi Terbitkan Fatwa Haram Penyalahgunaan Vape, Panen Dukungan
Aktual
Alasan LPPOM Menyatakan Kolesom Jumbo Haram, Alkohol 19,7%!
Alasan LPPOM Menyatakan Kolesom Jumbo Haram, Alkohol 19,7%!
Aktual
Bahasa Arab Terima Kasih: Syukron, Jazakallah & Balasannya
Bahasa Arab Terima Kasih: Syukron, Jazakallah & Balasannya
Doa Harian
Doa untuk Kedua Orang Tua: Arab, Latin, Arti & Keutamaannya
Doa untuk Kedua Orang Tua: Arab, Latin, Arti & Keutamaannya
Doa Harian
La Ilaha Illa Anta Subhanaka Inni Kuntu Minadzolimin: Arti, Bacaan Arab, Keutamaan dan Cara Mengamalkannya
La Ilaha Illa Anta Subhanaka Inni Kuntu Minadzolimin: Arti, Bacaan Arab, Keutamaan dan Cara Mengamalkannya
Doa Harian
LPPOM: Kolesom yang Viral Termasuk Khamr dan Haram, Alkohol Capai 19,7 Persen
LPPOM: Kolesom yang Viral Termasuk Khamr dan Haram, Alkohol Capai 19,7 Persen
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar