Editor
KOMPAS.com - Malam 1 Suro dan 1 Muharram kerap menjadi perbincangan setiap kali Tahun Baru Islam tiba.
Sebagian masyarakat menganggap keduanya merupakan peringatan yang berbeda karena memiliki latar budaya dan tradisi yang tidak sama.
Padahal, Malam 1 Suro dan 1 Muharram pada dasarnya merujuk pada waktu yang sama, yakni pergantian tahun dalam kalender yang digunakan masyarakat Jawa dan umat Islam.
Baca juga: Fakta Malam 1 Suro dalam Islam, Benarkah Identik dengan Mitos dan Hal Mistis?
Perbedaannya terletak pada asal-usul penamaan, sejarah pembentukan kalender, serta tradisi yang berkembang di tengah masyarakat.
Secara waktu, Malam 1 Suro dan 1 Muharram merujuk pada hari yang sama.
Baca juga: Sejarah dan Makna malam 1 Suro dalam kalender Jawa-Islam
Tanggal 1 Suro dalam kalender Jawa bertepatan dengan tanggal 1 Muharram dalam kalender Hijriah yang menjadi penanda Tahun Baru Islam.
Karena itu, ketika umat Islam memperingati 1 Muharram, masyarakat Jawa juga memasuki bulan Suro sebagai bulan pertama dalam kalender Jawa.
Meski berlangsung pada waktu yang sama, penyebutan keduanya memiliki latar belakang yang berbeda.
Muharram merupakan nama bulan pertama dalam kalender Hijriah yang digunakan umat Islam di seluruh dunia.
Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram atau bulan suci yang dimuliakan dalam Islam.
Sementara itu, Suro merupakan penyebutan masyarakat Jawa untuk bulan Muharram.
Nama Suro berasal dari kata Asyura yang dalam bahasa Arab berarti "sepuluh", merujuk pada hari ke-10 bulan Muharram yang memiliki keutamaan dalam tradisi Islam.
Dalam perkembangannya, pelafalan Asyura berubah menjadi Suro dan kemudian digunakan sebagai nama bulan pertama dalam kalender Jawa.
Hubungan antara 1 Suro dan 1 Muharram tidak lepas dari kebijakan Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Mataram Islam.
Pada 1633 Masehi, Sultan Agung memperkenalkan kalender Jawa-Islam yang menggabungkan sistem kalender Saka yang sebelumnya digunakan masyarakat Jawa dengan sistem penanggalan Hijriah.
Melalui kalender tersebut, perhitungan tahun mengikuti kalender Hijriah yang berbasis peredaran bulan, sementara unsur budaya Jawa tetap dipertahankan.
Langkah ini dilakukan untuk menyatukan masyarakat Jawa yang saat itu terdiri dari berbagai latar budaya dan kepercayaan.
Karena itulah, awal tahun dalam kalender Jawa kemudian disamakan dengan awal tahun dalam kalender Hijriah.
Perbedaan utama antara Malam 1 Suro dan 1 Muharram terletak pada konteks pemaknaannya.
Dalam Islam, 1 Muharram diperingati sebagai awal tahun Hijriah yang berkaitan dengan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.
Momentum ini biasanya diisi dengan doa, pengajian, refleksi diri, serta berbagai kegiatan keagamaan.
Sementara itu, Malam 1 Suro dalam tradisi Jawa memiliki dimensi budaya yang lebih kuat.
Sebagian masyarakat Jawa memandang malam tersebut sebagai waktu yang sakral sehingga diisi dengan tirakat, doa bersama, ziarah kubur, selametan, hingga berbagai tradisi adat yang diwariskan secara turun-temurun.
Di sejumlah daerah, Malam 1 Suro juga identik dengan ritual budaya seperti kirab pusaka, tapa bisu, dan pawai obor.
Kesakralan Malam 1 Suro berkembang dari perpaduan nilai Islam dan budaya Jawa yang telah berlangsung selama ratusan tahun.
Dalam tradisi kejawen, malam tersebut dipercaya sebagai waktu yang tepat untuk melakukan introspeksi diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Karena itu, banyak masyarakat memilih mengurangi aktivitas yang bersifat hiburan dan lebih fokus pada kegiatan spiritual.
Meski berbagai mitos tentang Malam 1 Suro masih berkembang di masyarakat, dalam ajaran Islam tidak ada ketentuan yang menyebut malam tersebut sebagai malam pembawa kesialan atau musibah.
Sebaliknya, bulan Muharram justru merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dan dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah.
Malam 1 Suro dan 1 Muharram pada dasarnya merujuk pada waktu yang sama, yaitu awal tahun dalam kalender Jawa dan kalender Hijriah.
Perbedaannya terletak pada latar sejarah, penamaan, dan tradisi yang menyertainya.
Jika 1 Muharram berakar dari ajaran Islam sebagai awal tahun Hijriah, maka 1 Suro merupakan bagian dari tradisi kalender Jawa yang lahir dari akulturasi budaya Jawa dan Islam pada masa Sultan Agung.
Karena itu, keduanya memiliki hubungan yang erat dan menjadi bagian dari sejarah panjang perkembangan Islam dan budaya di Tanah Jawa.
Artikel ini telah tayang di BangkaPos.com dengan judul "Apa Perbedaan Malam 1 Suro dan Muharram? Simak Penjelasan dan Sejarahnya"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang