Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Apa Perbedaan Malam 1 Suro dan 1 Muharram? Ini Penjelasan dan Sejarahnya

Kompas.com, 15 Juni 2026, 19:18 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Bangka Pos

KOMPAS.com - Malam 1 Suro dan 1 Muharram kerap menjadi perbincangan setiap kali Tahun Baru Islam tiba.

Sebagian masyarakat menganggap keduanya merupakan peringatan yang berbeda karena memiliki latar budaya dan tradisi yang tidak sama.

Padahal, Malam 1 Suro dan 1 Muharram pada dasarnya merujuk pada waktu yang sama, yakni pergantian tahun dalam kalender yang digunakan masyarakat Jawa dan umat Islam.

Baca juga: Fakta Malam 1 Suro dalam Islam, Benarkah Identik dengan Mitos dan Hal Mistis?

Perbedaannya terletak pada asal-usul penamaan, sejarah pembentukan kalender, serta tradisi yang berkembang di tengah masyarakat.

Apakah Malam 1 Suro dan 1 Muharram Sama?

Secara waktu, Malam 1 Suro dan 1 Muharram merujuk pada hari yang sama.

Baca juga: Sejarah dan Makna malam 1 Suro dalam kalender Jawa-Islam

Tanggal 1 Suro dalam kalender Jawa bertepatan dengan tanggal 1 Muharram dalam kalender Hijriah yang menjadi penanda Tahun Baru Islam.

Karena itu, ketika umat Islam memperingati 1 Muharram, masyarakat Jawa juga memasuki bulan Suro sebagai bulan pertama dalam kalender Jawa.

Meski berlangsung pada waktu yang sama, penyebutan keduanya memiliki latar belakang yang berbeda.

Asal-usul Nama Suro dan Muharram

Muharram merupakan nama bulan pertama dalam kalender Hijriah yang digunakan umat Islam di seluruh dunia.

Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram atau bulan suci yang dimuliakan dalam Islam.

Sementara itu, Suro merupakan penyebutan masyarakat Jawa untuk bulan Muharram.

Nama Suro berasal dari kata Asyura yang dalam bahasa Arab berarti "sepuluh", merujuk pada hari ke-10 bulan Muharram yang memiliki keutamaan dalam tradisi Islam.

Dalam perkembangannya, pelafalan Asyura berubah menjadi Suro dan kemudian digunakan sebagai nama bulan pertama dalam kalender Jawa.

Sejarah Kalender Jawa dan Islam

Hubungan antara 1 Suro dan 1 Muharram tidak lepas dari kebijakan Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Mataram Islam.

Pada 1633 Masehi, Sultan Agung memperkenalkan kalender Jawa-Islam yang menggabungkan sistem kalender Saka yang sebelumnya digunakan masyarakat Jawa dengan sistem penanggalan Hijriah.

Melalui kalender tersebut, perhitungan tahun mengikuti kalender Hijriah yang berbasis peredaran bulan, sementara unsur budaya Jawa tetap dipertahankan.

Langkah ini dilakukan untuk menyatukan masyarakat Jawa yang saat itu terdiri dari berbagai latar budaya dan kepercayaan.

Karena itulah, awal tahun dalam kalender Jawa kemudian disamakan dengan awal tahun dalam kalender Hijriah.

Perbedaan Malam 1 Suro dan 1 Muharram

Perbedaan utama antara Malam 1 Suro dan 1 Muharram terletak pada konteks pemaknaannya.

Dalam Islam, 1 Muharram diperingati sebagai awal tahun Hijriah yang berkaitan dengan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.

Momentum ini biasanya diisi dengan doa, pengajian, refleksi diri, serta berbagai kegiatan keagamaan.

Sementara itu, Malam 1 Suro dalam tradisi Jawa memiliki dimensi budaya yang lebih kuat.

Sebagian masyarakat Jawa memandang malam tersebut sebagai waktu yang sakral sehingga diisi dengan tirakat, doa bersama, ziarah kubur, selametan, hingga berbagai tradisi adat yang diwariskan secara turun-temurun.

Di sejumlah daerah, Malam 1 Suro juga identik dengan ritual budaya seperti kirab pusaka, tapa bisu, dan pawai obor.

Mengapa Malam 1 Suro Dianggap Sakral?

Kesakralan Malam 1 Suro berkembang dari perpaduan nilai Islam dan budaya Jawa yang telah berlangsung selama ratusan tahun.

Dalam tradisi kejawen, malam tersebut dipercaya sebagai waktu yang tepat untuk melakukan introspeksi diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Karena itu, banyak masyarakat memilih mengurangi aktivitas yang bersifat hiburan dan lebih fokus pada kegiatan spiritual.

Meski berbagai mitos tentang Malam 1 Suro masih berkembang di masyarakat, dalam ajaran Islam tidak ada ketentuan yang menyebut malam tersebut sebagai malam pembawa kesialan atau musibah.

Sebaliknya, bulan Muharram justru merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dan dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah.

Malam 1 Suro dan 1 Muharram Bukan Hanya Beda Penyebutan

Malam 1 Suro dan 1 Muharram pada dasarnya merujuk pada waktu yang sama, yaitu awal tahun dalam kalender Jawa dan kalender Hijriah.

Perbedaannya terletak pada latar sejarah, penamaan, dan tradisi yang menyertainya.

Jika 1 Muharram berakar dari ajaran Islam sebagai awal tahun Hijriah, maka 1 Suro merupakan bagian dari tradisi kalender Jawa yang lahir dari akulturasi budaya Jawa dan Islam pada masa Sultan Agung.

Karena itu, keduanya memiliki hubungan yang erat dan menjadi bagian dari sejarah panjang perkembangan Islam dan budaya di Tanah Jawa.

Artikel ini telah tayang di BangkaPos.com dengan judul "Apa Perbedaan Malam 1 Suro dan Muharram? Simak Penjelasan dan Sejarahnya"

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar