Editor
KOMPAS.com - Memutihnya rambut sering dikaitkan dengan bertambahnya usia. Namun, dalam Islam, uban memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar tanda penuaan.
Uban dipandang sebagai anugerah sekaligus pengingat agar seorang Muslim semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Bahkan, sejumlah dalil menjelaskan bahwa uban dapat menjadi cahaya dan sebab bertambahnya derajat seorang mukmin di akhirat.
Baca juga: Cara Potong Kuku Sesuai Ajaran Islam, Lengkap dengan Urutan dan Waktu yang Dianjurkan
Islam mengajarkan bahwa setiap fase kehidupan memiliki hikmah, termasuk ketika rambut mulai memutih.
Berikut beberapa makna uban dalam Islam yang dijelaskan dalam Al-Qur'an dan hadis Rasulullah SAW.
Baca juga: 7 Surah dan Ayat Al-Quran yang Dianjurkan untuk Dihafal Sebelum Ajal Menjemput
Munculnya uban menjadi pengingat bahwa kehidupan di dunia bersifat sementara. Seiring bertambahnya usia, seorang Muslim diharapkan semakin memperbanyak amal saleh dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.
Allah SWT mengingatkan manusia agar mengambil pelajaran dari setiap tanda yang diberikan-Nya, sebagaimana disebutkan dalam Surah Fatir ayat 37.
اَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَّا يَتَذَكَّرُ فِيْهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاۤءَكُمُ النَّذِيْرُۗ فَذُوْقُوْا فَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ نَّصِيْرٍ
Latin: A wa lam nu'ammirkum mā yatażakkaru fīhi man tażakkara wa jā'akumun-nażīr, fa żụqụ fa mā liẓ-ẓālimīna min naṣīr.
Artinya: "(Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu untuk dapat berpikir bagi orang yang mau berpikir, padahal telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami), dan bagi orang-orang zalim tidak ada seorang penolong pun."
Dalam ajaran Islam, uban juga identik dengan kematangan dan kewibawaan seseorang. Karena itu, Islam mengajarkan agar umat Muslim menghormati orang yang telah beruban sebagai bentuk memuliakan hamba Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللهِ إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ
Latin: Inna min ijlālillāhi ikrāma dzi asy-syaibati al-muslimi.
Artinya: "Sesungguhnya bagian dari memuliakan Allah adalah menghormati seorang Muslim yang telah beruban (yang sudah lanjut usia)." (HR Abu Dawud).
Keutamaan uban juga dijelaskan dalam hadis yang menyebutkan bahwa uban akan menjadi cahaya bagi seorang mukmin pada hari kiamat. Selain itu, setiap helai uban yang tumbuh akan dicatat sebagai kebaikan dan menjadi sebab diangkatnya derajat seorang Muslim.
الشيب نور المؤمن لا يشيب رجل شيبة في الإسلام إلا كانت له بكل شيبة حسنة و رفع بها درجة
Latin: Asy-syaibu nūru al-mu’min, lā yasyību rajulun syaybatan fī al-islāmi illā kānat lahu bi kulli syaybatan hasanah wa rufi’a bihā darajah.
Artinya: "Uban adalah cahaya bagi seorang mukmin. Tidaklah seseorang beruban -walaupun sehelai- dalam Islam melainkan setiap ubannya akan dihitung sebagai suatu kebaikan dan akan meninggikan derajatnya." (HR. Al Baihaqi dalam Syu'abul Iman. Syaikh Al Albani dalam Al Jami' Ash Shogir mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Uban bukanlah sesuatu yang harus dipandang sebagai kekurangan atau aib.
Sebaliknya, kemunculannya dapat menjadi pengingat agar seorang Muslim lebih banyak bersyukur, memperbaiki amal ibadah, dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan akhirat.
Islam juga mengajarkan untuk menghormati orang yang telah beruban karena hal tersebut termasuk bentuk memuliakan sesama Muslim.
Makna uban dalam Islam tidak hanya berkaitan dengan bertambahnya usia, tetapi juga mengandung pesan spiritual yang mendalam.
Uban menjadi pengingat akan singkatnya kehidupan dunia, simbol kematangan dan kewibawaan, serta kabar gembira berupa cahaya dan tambahan derajat bagi orang beriman.
Dengan memahami makna tersebut, setiap Muslim diharapkan dapat menyikapi tumbuhnya uban dengan rasa syukur serta menjadikannya motivasi untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang