BANYUWANGI, KOMPAS.com - Di era yang serba riuh saat ini, jumlah sering kali dijadikan standar nilai.
Mulai dari hitungan likes, jumlah pengikut di media sosial, hingga suara terbanyak dalam sebuah forum umum.
Tanpa disadari, muncul anggapan implisit di tengah masyarakat: semakin banyak orang yang menyetujui suatu hal, semakin benar pula hal tersebut.
Namun, apakah kebenaran memang diukur dari seberapa ramai tempatnya bersuara?
Dai Lajnah Dakwah PC Al Irsyad Al Islamiyyah Banyuwangi, Ustadz Ahsanul Falihin, menegaskan bahwa Islam memiliki kompas yang sangat tegas terkait hal ini.
Baca juga: Bolehkah Tertawa Terbahak-bahak dalam Islam? Ini Penjelasan dan Hadisnya
Menurutnya, ramainya pengikut tidak serta-merta menjadi stempel sah atas sebuah kebenaran.
"Jalan kebenaran itu tidak pernah diukur dari seberapa banyak orang yang mengikutinya, melainkan diketahui melalui dalil dan wahyu. Sebab, pada umumnya manusia cenderung mengikuti hawa nafsu dan prasangka belaka," kata Ustadz Ahsanul Falihin.
Peringatan ini berakar kuat dari firman Allah SWT dalam Al-Qur'an surah Al-An’ām ayat 116:
وَاِنْ تُطِعْ اَكْثَرَ مَنْ فِى الْاَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِۗ اِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَاِنْ هُمْ اِلَّا يَخْرُصُوْنَ
“Jika engkau mengikuti (kemauan) kebanyakan orang (kafir) di bumi ini (dalam urusan agama), niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka hanya mengikuti persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan.”
Lebih lanjut, Ustadz Ahsanul Falihin memaparkan tiga poin penting dari kandungan ayat tersebut yang sangat relevan untuk membentengi diri di tengah arus informasi dan tren zaman.
Secara umum, mayoritas manusia rentan tertawan oleh hawa nafsu dan kenyamanan sesaat.
Mengikuti pandangan atau gaya hidup kebanyakan orang yang jelas-jelas bertentangan dengan syariat secara mutlak hanya akan mengarahkan seseorang pada penyimpangan dari jalan petunjuk.
Ayat ini membedah bahwa kebatilan tidak pernah memiliki fondasi ilmu yang sahih atau keyakinan yang mantap.
Orang-orang yang tersesat dari jalan Allah pada hakikatnya hanya bersandar pada az-zhann yakni dugaan, asumsi, dan persangkaan yang tidak berdasar.
Dalam ayat tersebut terdapat kata yakhrushūn (يخرصون). Ustadz Ahsanul menjelaskan bahwa makna dari kata ini adalah berdusta dan mengada-ada.
Setiap pernyataan, hukum, atau keyakinan yang dibangun di atas rekaan tanpa ilmu pada dasarnya merupakan bentuk kedustaan atas nama Allah.
Baca juga: Kisah Para Lansia di Banyuwangi Belajar Al-Quran, Gratis dan Ingin Mengaji sampai Akhir Hayat
Memahami QS Al-An’ām ayat 116 mengajarkan kita untuk memiliki keteguhan prinsip.
Kebenaran akan selalu menjadi kebenaran walaupun hanya dipegang oleh segelintir orang, sebagaimana kebatilan akan tetap menjadi kebatilan meski didukung oleh jutaan suara.
Pada akhirnya, memiliki keberanian untuk tetap berpijak pada wahyu dan dalil yang sahih jauh lebih menyelamatkan daripada tenggelam dalam arus mayoritas yang kehilangan arah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang