BANYUWANGI, KOMPAS.com - Gelak tawa kerap dianggap sebagai obat pelipur lara dan simbol kebahagiaan.
Namun di balik riuhnya tawa, ada batas halus yang kerap terlewati.
Islam, sebagai agama yang wasathiyah (pertengahan), tidak pernah mengharamkan pemeluknya untuk bersuka cita.
Hanya saja, syariat memberikan panduan agar rasa bahagia itu tidak justru mengikis kesucian jiwa.
Hukum asal tertawa adalah mubah atau diperbolehkan.
Akan tetapi, ketika tawa itu melampaui batas, dilakukan secara terus-menerus, hingga menjadi gelak tawa terbahak-bahak (qahqahah), nilainya bergeser menjadi makruh tanzih.
Baca juga: Kisah Para Lansia di Banyuwangi Belajar Al-Quran, Gratis dan Ingin Mengaji sampai Akhir Hayat
Sikap berlebihan inilah yang dicela oleh para ulama karena dapat menghilangkan kewibawaan dan melalaikan seseorang dari mengingat Sang Pencipta.
Da'i Lajnah Dakwah PC Al Irsyad Al Islamiyyah Banyuwangi menekankan pentingnya memahami proporsi dalam mengekspresikan kegembiraan ini:
"Islam adalah agama yang sangat indah dan seimbang. Rasulullah SAW adalah sosok yang paling ramah dan paling banyak tersenyum, namun tawa beliau tidak pernah melampaui batas hingga terbahak-bahak. Islam tidak mematikan rasa gembira, melainkan mengajarkan kita untuk menjaga kewibawaan dan kesucian hati. Tertawa yang wajar itu boleh, tetapi jika berlebihan hingga lalai, di situlah letak celaannya."
Peringatan akan bahaya tawa yang melampaui batas ditegaskan langsung oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya:
وَلَا تُكْثِرِ الضَّحِكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ القَلْبَ
"Janganlah engkau terlalu banyak tertawa, karena banyak tertawa dapat mematikan hati." (HR At-Tirmidzi)
Matinya hati yang dimaksud di sini bukanlah kematian fisik, melainkan hilangnya kepekaan spiritual.
Hati yang terlalu sering diwarnai gelak tawa berlebihan cenderung menjadi keras, sulit menerima nasihat, dan kehilangan kekhusyukan dalam beribadah.
Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu pun pernah mengingatkan hal serupa:
«مَنْ كَثُرَ ضَحِكُهُ قَلَّتْ هَيْبَتُهُ»
"Barang siapa banyak tertawa, niscaya berkurang kewibawaannya."
Sebagai gantinya, Islam menawarkan bentuk ekspresi kegembiraan yang jauh lebih mulia dan bernilai ibadah, yaitu senyuman.
Senyum adalah tawa yang paling sempurna;
menyejukkan siapapun yang memandang tanpa perlu mengeluarkan suara keras yang mengikis kehormatan diri.
Rasulullah SAW bersabda:
تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ
"Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah bagimu." (HR At-Tirmidzi)
Sahabat Abdullah bin al-Harits radhiyallahu 'anhu juga menceritakan bagaimana indahnya keseharian Nabi SAW melalui perkataannya, «مَا كَانَ ضَحِكُ رَسُولِ اللَّهِ SAW إِلَّا تَبَسُّمًا» yang artinya, "Tertawanya Rasulullah SAW tidak lain hanyalah berupa senyuman." (HR At-Tirmidzi)
Baca juga: Bolehkah Menambah Doa dalam Rukuk, Sujud, dan Tahiyat Shalat? Ini Penjelasan Hukumnya
Menjaga keseimbangan adalah kunci utama seorang muslim.
Tebarkanlah senyuman hangat sebagai sedekah termudah kepada sesama, namun bentengi diri dari gelak tawa berlebihan yang dapat melalaikan hati dari mengingat Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang