Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tradisi Ramadhan Paling Unik di Nusantara, dari Dugderan hingga Tumbilotohe

Kompas.com, 22 Februari 2026, 19:16 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Bulan suci Ramadhan di Indonesia bukan sekadar momentum ibadah, tetapi juga perayaan budaya yang sarat makna.

Dari barat hingga timur, masyarakat menyambutnya dengan ragam tradisi yang memperlihatkan harmoni, solidaritas, hingga kekayaan kuliner khas daerah.

Berikut deretan tradisi Ramadhan di Nusantara yang selalu dinanti setiap tahun:

1. Dugderan, Simbol Harmoni Lintas Agama di Semarang

Di Kota Semarang, tradisi Dugderan menjadi penanda datangnya Ramadhan. Festival rakyat ini identik dengan arak-arakan Warak Ngendog dan tabuhan bedug.

Baca juga: Dari Dugderan hingga 3.000 Culok, Tradisi Sambut Ramadhan 1447 H Semarak di Berbagai Daerah

Menariknya, Dugderan tahun ini dimaknai sebagai simbol harmoni lintas agama karena berdekatan dengan perayaan Imlek dan masa puasa Paskah. Masih di Semarang, masyarakat juga menggelar Semaan Al Quran di Masjid Agung Kauman, dengan tafsir berbahasa Jawa sederhana agar mudah dipahami semua kalangan.

2. Keramas Bersama di Tangerang

Warga Tangerang, Banten, menyambut Ramadhan dengan tradisi keramas bersama. Ritual ini melambangkan pembersihan diri, baik secara fisik maupun spiritual, sebelum memasuki bulan suci.

3. Meugang, Tradisi Potong Sapi di Aceh dan Sumut

Sejumlah Sapi Yang Disiapkan Pemkab Bener Meriah Untuk Dibagikan ke Desa-Desa Terdampak Bencana Hidrometeorologi di Kabupaten SetempatProkopim Kabupaten Bener Meriah Sejumlah Sapi Yang Disiapkan Pemkab Bener Meriah Untuk Dibagikan ke Desa-Desa Terdampak Bencana Hidrometeorologi di Kabupaten Setempat

Di wilayah Aceh dan Sumatera Utara, masyarakat mempertahankan tradisi Meugang atau potong sapi menjelang Ramadhan.

Tradisi ini begitu penting sehingga bantuan sapi, termasuk dari Presiden, disalurkan ke desa-desa terdampak bencana agar masyarakat tetap dapat merayakannya.

Momen ini bukan sekadar makan bersama, melainkan simbol kebersamaan dan kepedulian sosial.

Di Pekanbaru, masyarakat juga mengenal tradisi Petang Megang untuk menyambut bulan puasa.

4. Pawai Tarhib dan Koko'o di Gorontalo

Wilayah Kalimantan dan Sulawesi merayakan Ramadhan dengan pawai Tarhib yang meriah. Sementara di Gorontalo, ada tradisi Koko'o, yakni kegiatan membangunkan warga saat sahur dengan cara semarak dan penuh keceriaan.

Tradisi ini menjadi pengingat kebersamaan sekaligus menjaga semangat warga selama menjalani puasa.

5. Sajian Khas Ramadhan, dari Kolak hingga Bingka Kentang

Ramadhan di Indonesia juga identik dengan kekayaan kuliner. Kolak hampir selalu hadir sebagai takjil favorit.

Di Samarinda, masyarakat menikmati Bubur Peca saat berbuka. Sementara di Palangka Raya, Bingka Kentang menjadi menu andalan.

Ada pula Gohu Ikan yang populer di kawasan timur Indonesia, hingga sajian kambing qoozi aromatik ala Yaman yang mulai banyak digemari.

6. Ela-ela dan Tumbilotohe, Cahaya di Pengujung Ramadhan

Menjelang akhir Ramadhan, masyarakat di Ternate menggelar tradisi Ela-ela di Kedaton Kesultanan Ternate untuk menyambut malam Lailatul Qadar.

Sementara itu, Festival Tumbilotohe di Gorontalo mempercantik malam ke-27 Ramadhan dengan ribuan lampu yang menyala serentak, menciptakan suasana sakral sekaligus memukau.

Ramadhan, Identitas Budaya dan Solidaritas Sosial

Ragam tradisi ini menunjukkan bahwa Ramadhan di Indonesia bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga.

Baca juga: 7 Tradisi Ramadhan Zaman Dulu yang Kini Jarang Ditemui

Lebih dari itu, bulan suci menjadi momentum memperkuat identitas budaya, mempererat silaturahmi, dan membangun solidaritas sosial di tengah keberagaman.

Di tengah modernisasi, tradisi-tradisi ini tetap hidup—menjadi bukti bahwa Ramadhan di Nusantara selalu hadir dengan warna yang berbeda, namun tetap satu dalam makna.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Contoh Teks Doa Upacara HUT RI ke-81 pada 17 Agustus 2026
Contoh Teks Doa Upacara HUT RI ke-81 pada 17 Agustus 2026
Doa dan Niat
Doa Malam Tirakatan 17 Agustus 2026 Singkat: Arab, Latin, dan Artinya
Doa Malam Tirakatan 17 Agustus 2026 Singkat: Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
Mad Wajib Muttasil: Pengertian, Ciri, Contoh, dan Cara Membacanya
Mad Wajib Muttasil: Pengertian, Ciri, Contoh, dan Cara Membacanya
Doa dan Niat
Semoga Cepat Sembuh dalam Islam: Ucapan, Doa, dan Adab Menjenguk Orang Sakit
Semoga Cepat Sembuh dalam Islam: Ucapan, Doa, dan Adab Menjenguk Orang Sakit
Doa dan Niat
50.000 Masjid dan Musala Serentak Dibersihkan, dari Toilet hingga Selokan
50.000 Masjid dan Musala Serentak Dibersihkan, dari Toilet hingga Selokan
Aktual
Dari Kepiting hingga Mangrove, Kemenag Bidik Golo Sepang Jadi Kampung Zakat
Dari Kepiting hingga Mangrove, Kemenag Bidik Golo Sepang Jadi Kampung Zakat
Aktual
Muktamar Ke-35 di Jombang dan Blueprint Abad Kedua: Pesantren Transformatif dan Penyiapan SDM Unggul
Muktamar Ke-35 di Jombang dan Blueprint Abad Kedua: Pesantren Transformatif dan Penyiapan SDM Unggul
Aktual
Ada Mushaf Berusia 3 Abad di Kaki Gunung Hira, Begini Keistimewaannya
Ada Mushaf Berusia 3 Abad di Kaki Gunung Hira, Begini Keistimewaannya
Aktual
Tak Bisa Langsung Tentukan Halal-Haram, Ini 6 Tahapan Penetapan Fatwa
Tak Bisa Langsung Tentukan Halal-Haram, Ini 6 Tahapan Penetapan Fatwa
Aktual
Pramuktamar NU Bahas Kripto hingga Pajak, Kiai Cholil Nafis: Belum Ada Keputusan, Baru Matangkan Materi
Pramuktamar NU Bahas Kripto hingga Pajak, Kiai Cholil Nafis: Belum Ada Keputusan, Baru Matangkan Materi
Aktual
Tak Sekadar Tempat Shalat, Ini Fungsi Masjid Zaman Rasulullah
Tak Sekadar Tempat Shalat, Ini Fungsi Masjid Zaman Rasulullah
Aktual
Cerita 97 Keluarga Nelayan Manggarai Barat Bangun Kemandirian dari Dana Zakat
Cerita 97 Keluarga Nelayan Manggarai Barat Bangun Kemandirian dari Dana Zakat
Aktual
MUI Ungkap Alasan Fatwa di Indonesia Tak Bisa Diseragamkan
MUI Ungkap Alasan Fatwa di Indonesia Tak Bisa Diseragamkan
Aktual
Pesan Penting Kiai Nuh: Kolaborasi, Bukan Kompetisi di Muktamar NU
Pesan Penting Kiai Nuh: Kolaborasi, Bukan Kompetisi di Muktamar NU
Aktual
Kelakar Cholil Nafis soal Ketum PBNU: Saya Tak Berani Mencalonkan Diri, Merasa Tidak Kompeten
Kelakar Cholil Nafis soal Ketum PBNU: Saya Tak Berani Mencalonkan Diri, Merasa Tidak Kompeten
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar