Editor
DEPOK, KOMPAS.com - Bursa kandidat Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelang Muktamar Ke-35 NU mulai ramai. Di tengah munculnya sejumlah kandidat, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH M Cholil Nafis justru berkelakar.
Hal itu disampaikannya ketika ditanya apakah dirinya tertarik ikut dalam kontestasi. Ia menjawab tidak berani mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PBNU.
"Saya husnuzhan, orang-orang yang berani mencalonkan diri itu karena merasa kompeten toh. Saya ini tidak berani mencalonkan diri karena merasa tidak kompeten," ujar Cholil disambut tawa para wartawan dan kiai yang hadir.
Baca juga: Al-Qanun Al-Asasi Kembali Disosialisasikan, Gus Kikin: Ini Ruh NU
Dikutip dari laman MUI, munculnya sejumlah figur yang menyatakan siap berkontestasi memimpin PBNU dapat dipandang sebagai bentuk kepercayaan diri karena merasa memiliki kemampuan untuk mengelola organisasi.
"Saya tidak nyalonin diri. Jadi orang yang nyalonin diri itu berarti merasa kompeten, percaya diri. Minimal merasa kompeten, soal kebukti kompetennya kan nanti diuji," katanya.
Pengasuh Pesantren Cendekia Amanah itu kemudian mengenang tradisi kepemimpinan NU pada masa lalu.
Menurut Cholil, dahulu para kiai justru cenderung menghindar ketika ditunjuk atau didorong untuk menduduki jabatan struktural PBNU.
"Dulu itu orang mau jadi Ketua Umum pada nolak-nolak. 'Saya tidak pantas, saya tidak mau.' Dulu tradisinya begitu. Kalau sekarang kan 'Saya mencalonkan diri, saya mencalonkan diri'. Ya kalau pantas, semua yang terpilih nanti pasti pantas," ungkapnya.
Cholil menilai kepemimpinan di NU memiliki karakter tersendiri. Kompetensi seorang pemimpin, menurut dia, tidak semata-mata dapat dilihat dari ukuran-ukuran formal.
Dalam tradisi NU, kata Cholil, terdapat dimensi keberkahan, kepercayaan (trust), serta amanah yang dapat mematangkan kapasitas seseorang setelah mendapatkan kepercayaan untuk memimpin.
"Di NU itu orang yang percaya dengan berkah, kapasitasnya bisa di-up oleh Allah. Bisa saja awalnya merasa tidak pantas, begitu terpilih jadi pantas. Kepemimpinan itu diujinya dari trust orang, bukan sekadar angka-angka," kata Cholil.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.