Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

7 Tradisi Ramadhan Zaman Dulu yang Kini Jarang Ditemui

Kompas.com, 31 Januari 2026, 12:14 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Bulan Ramadhan selalu menghadirkan atmosfer yang berbeda. Tidak hanya menjadi momentum peningkatan ibadah, Ramadhan juga membentuk ruang sosial yang hangat, penuh keceriaan, dan sarat kebersamaan.

Di banyak daerah Indonesia, Ramadhan dahulu identik dengan suara bedug keliling kampung, obor yang menyala di malam hari, hingga anak-anak yang berlarian selepas tarawih.

Namun, perubahan zaman perlahan menggeser wajah Ramadhan. Sejumlah kegiatan khas yang dulu hidup di tengah masyarakat kini semakin jarang ditemui, terutama di wilayah perkotaan.

Fenomena ini bukan sekadar nostalgia, melainkan bagian dari transformasi sosial yang memengaruhi cara umat Islam merayakan bulan suci.

Dalam perspektif sosiologi agama, perubahan tradisi keagamaan kerap terjadi ketika masyarakat memasuki fase modernisasi dan digitalisasi.

Azyumardi Azra dalam bukunya Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi di Tengah Tantangan Milenium III, menjelaskan bahwa praktik keagamaan di Indonesia selalu beradaptasi dengan konteks sosial, teknologi, dan budaya yang berkembang. Hal inilah yang turut membentuk wajah Ramadhan hari ini.

Ramadhan sebagai Ruang Sosial dan Spiritualitas

Ramadhan sejatinya bukan hanya tentang ritual puasa, tetapi juga pembentukan solidaritas sosial. Al-Qur’an menegaskan tujuan puasa sebagai sarana membangun ketakwaan:

Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush shiyāmu kamā kutiba ‘alalladzīna min qablikum la’allakum tattaqūn.

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).

Ketakwaan yang dimaksud tidak hanya bersifat individual, tetapi juga tercermin dalam hubungan sosial.

Tradisi-tradisi Ramadhan tempo dulu pada dasarnya menjadi medium untuk menumbuhkan rasa kebersamaan, empati, dan gotong royong.

Baca juga: Tradisi Unik Menjelang Ramadhan di Berbagai Daerah Indonesia

Pawai Obor dan Bedug Keliling

Di sejumlah daerah seperti Pontianak dan wilayah pesisir Kalimantan, pawai obor menjadi bagian penting menyambut Ramadhan dan malam takbiran.

Anak-anak hingga orang dewasa berkeliling kampung sambil membawa obor dan menabuh bedug atau kentongan.

Aktivitas ini bukan hanya hiburan, tetapi simbol pengumuman sosial bahwa bulan suci telah tiba.

Dalam buku Tradisi Islam Nusantara karya KH. Abdurrahman Wahid, dijelaskan bahwa bedug dan kentongan memiliki fungsi kultural sebagai media dakwah tradisional yang efektif, karena mampu menjangkau masyarakat lintas usia dan latar belakang.

Kini, peran tersebut banyak tergantikan oleh pengeras suara masjid dan media digital. Akibatnya, dimensi partisipatif masyarakat dalam tradisi ini semakin berkurang.

Buku Agenda Ramadhan dan Pendidikan Ibadah Anak

Di lingkungan sekolah, terutama pada era 1990-an hingga awal 2000-an, buku agenda Ramadhan menjadi instrumen pendidikan karakter.

Anak-anak mencatat aktivitas ibadah harian, mulai dari puasa, salat tarawih, hingga tadarus. Guru menggunakan buku ini sebagai sarana pembiasaan disiplin ibadah.

Menurut Kementerian Agama, praktik ini memiliki nilai pedagogis karena mengajarkan konsistensi dan tanggung jawab spiritual sejak dini.

Dalam perspektif pendidikan Islam, sebagaimana dijelaskan dalam buku Pendidikan Islam dalam Keluarga karya Abdullah Nashih Ulwan, pembiasaan ibadah pada masa kanak-kanak menjadi fondasi penting pembentukan akhlak di masa dewasa.

Namun, seiring perubahan kurikulum dan digitalisasi pembelajaran, buku agenda Ramadhan mulai ditinggalkan.

Berburu Tanda Tangan Imam Tarawih

Tradisi mencari tanda tangan imam setelah salat tarawih dahulu menjadi momen unik bagi anak-anak.

Selain sebagai bukti kehadiran ibadah, aktivitas ini mempererat hubungan antara generasi muda dan tokoh agama. Masjid menjadi ruang interaksi sosial yang hidup, bukan sekadar tempat ritual.

Kini, suasana tersebut mulai jarang terlihat. Perubahan pola ibadah yang lebih individual serta penggunaan aplikasi pencatat ibadah digital membuat interaksi langsung semakin berkurang.

Padahal, dalam buku Traditional Islam in the modern world karya Syed Hossein Nasr, dijelaskan bahwa masjid idealnya menjadi pusat pembinaan umat yang menyatukan dimensi spiritual dan sosial.

Baca juga: Sejarah Ngabuburit di Indonesia: Dari Istilah Sunda Menjadi Tradisi Nusantara di Bulan Puasa

Perang Sarung dan Permainan Tradisional Ramadhan

Perang sarung menjadi simbol keceriaan anak-anak saat ngabuburit. Permainan sederhana ini menciptakan ruang interaksi tanpa sekat sosial.

Namun, maraknya gawai dan hiburan digital membuat anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di dunia virtual.

Pergeseran aktivitas bermain dari ruang publik ke ruang digital berdampak pada berkurangnya interaksi sosial langsung.

Fenomena ini juga tercermin dalam tradisi Ramadhan yang perlahan kehilangan nuansa kebersamaan fisik.

Membangunkan Sahur Keliling Kampung

Tradisi membangunkan sahur dengan kentongan atau drum bekas menjadi alarm sosial yang khas.

Aktivitas ini menumbuhkan rasa kepedulian antarwarga. Kini, peran tersebut diambil alih oleh pengeras suara masjid dan alarm ponsel.

Meski lebih praktis, dimensi kebersamaan yang tercipta dari interaksi langsung perlahan menghilang.

Jalan Pagi Setelah Subuh dan Meriam Bambu

Selepas subuh, anak-anak biasanya berkeliling kampung menikmati udara pagi. Aktivitas sederhana ini memperkuat relasi sosial dan membentuk kenangan kolektif.

Sementara itu, meriam bambu menjadi ikon ngabuburit yang penuh suara dan tawa. Namun, alasan keamanan dan perubahan regulasi membuat permainan ini semakin langka.

Dalam buku Budaya Populer karya Idi Subandy Ibrahim, dijelaskan bahwa modernisasi kerap menggeser praktik budaya lokal yang dianggap tidak relevan dengan standar keamanan dan efisiensi modern.

Baca juga: Makna Tradisi Munggahan Jelang Ramadan 2026, Ini Waktu Idealnya

Mengapa Tradisi Ramadhan Zaman Dulu Mulai Menghilang?

Ada tiga faktor utama yang mendorong hilangnya tradisi Ramadhan tempo dulu. Pertama, urbanisasi yang membuat masyarakat semakin individualistis. Kedua, digitalisasi yang mengubah pola interaksi sosial. Ketiga, perubahan gaya hidup yang lebih praktis dan efisien.

Namun, hilangnya tradisi bukan berarti hilangnya nilai. Tantangannya adalah bagaimana mengadaptasi semangat kebersamaan Ramadhan ke dalam konteks zaman sekarang.

Menghidupkan Kembali Spirit Ramadhan di Era Modern

Ramadhan tetap memiliki potensi besar sebagai ruang pemersatu umat. Meski bentuk tradisinya berubah, nilai kebersamaan, kepedulian, dan solidaritas sosial dapat dihidupkan melalui kegiatan baru seperti kajian daring bersama, sedekah digital kolektif, hingga program berbagi berbasis komunitas.

Allah SWT berfirman:

Innamal mu’minūna ikhwatun.

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10).

Ayat ini menjadi pengingat bahwa esensi Ramadhan bukan terletak pada bentuk tradisinya semata, melainkan pada semangat persaudaraan yang harus terus dirawat.

Di tengah perubahan zaman, Ramadhan tetap dapat menjadi bulan yang penuh makna, asalkan umat mampu menjaga ruh kebersamaan yang menjadi jantung dari setiap tradisi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Sholawat Tibbil Qulub: Bacaan Arab, Latin, Arti, Keutamaan
Sholawat Tibbil Qulub: Bacaan Arab, Latin, Arti, Keutamaan
Doa Harian
Allahumma Yassir Wala Tu'assir Artinya: Bacaan Arab, Latin, Makna
Allahumma Yassir Wala Tu'assir Artinya: Bacaan Arab, Latin, Makna
Doa Harian
Ayat Kursi: Bacaan Arab, Latin, Arti, Keutamaan, dan Waktu Terbaik Membacanya
Ayat Kursi: Bacaan Arab, Latin, Arti, Keutamaan, dan Waktu Terbaik Membacanya
Doa Harian
Assalamualaikum: Arti, Tulisan Arab, Cara Menjawab dan Dalil
Assalamualaikum: Arti, Tulisan Arab, Cara Menjawab dan Dalil
Doa dan Niat
Astaghfirullah Artinya: Makna, Tulisan Arab, dan Keutamaan
Astaghfirullah Artinya: Makna, Tulisan Arab, dan Keutamaan
Doa dan Niat
Kemenhaj Resmi Hapus Skema Lunas Tunda Ganti Haji Khusus, Dahnil: Tak Ada Lagi Celah Jual Beli Porsi
Kemenhaj Resmi Hapus Skema Lunas Tunda Ganti Haji Khusus, Dahnil: Tak Ada Lagi Celah Jual Beli Porsi
Aktual
Baznas: Potensi Dana Keagamaan RI Rp 344 T, Usul Tax Credit Zakat-Pajak
Baznas: Potensi Dana Keagamaan RI Rp 344 T, Usul Tax Credit Zakat-Pajak
Aktual
Apakah Zakat Emas Harus Dibayar dengan Emas? Ini Penjelasan dan Cara Menghitungnya
Apakah Zakat Emas Harus Dibayar dengan Emas? Ini Penjelasan dan Cara Menghitungnya
Aktual
Pemprov Papua Barat Usulkan Tambahan Kuota untuk Memperpendek Masa Tunggu Haji
Pemprov Papua Barat Usulkan Tambahan Kuota untuk Memperpendek Masa Tunggu Haji
Aktual
Rencana Pembukaan Embarkasi Haji Sorong, Menhaj Ungkap Syarat yang Harus Dipenuhi
Rencana Pembukaan Embarkasi Haji Sorong, Menhaj Ungkap Syarat yang Harus Dipenuhi
Aktual
Daftar Tunggu Haji Papua Barat dan Papua Barat Daya Tembus 12.063 Orang, Verifikasi Terus Diperketat
Daftar Tunggu Haji Papua Barat dan Papua Barat Daya Tembus 12.063 Orang, Verifikasi Terus Diperketat
Aktual
Menhaj Minta Tata Kelola Haji di Papua Lebih Transparan demi Tingkatkan Layanan Haji 2027
Menhaj Minta Tata Kelola Haji di Papua Lebih Transparan demi Tingkatkan Layanan Haji 2027
Aktual
Alasan Mekanisme Lunas Tunda Ganti untuk Haji Khusus Resmi Dihapus, Wamenhaj: Ada Permainan Oknum
Alasan Mekanisme Lunas Tunda Ganti untuk Haji Khusus Resmi Dihapus, Wamenhaj: Ada Permainan Oknum
Aktual
Mekanisme Lunas Tunda Ganti untuk Haji Khusus Resmi Dihapus Kemenhaj, Apa Itu?
Mekanisme Lunas Tunda Ganti untuk Haji Khusus Resmi Dihapus Kemenhaj, Apa Itu?
Aktual
Mengapa Fatwa Haram Vape Justru Panen Dukungan Pelaku Industri? Ini Alasannya
Mengapa Fatwa Haram Vape Justru Panen Dukungan Pelaku Industri? Ini Alasannya
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar