Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Makna Tradisi Munggahan Jelang Ramadan 2026, Ini Waktu Idealnya

Kompas.com, 25 Januari 2026, 17:51 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 2026, suasana religius mulai terasa di berbagai daerah Indonesia.

Selain persiapan ibadah, masyarakat juga merawat tradisi turun-temurun sebagai bagian dari proses menyambut bulan penuh berkah. Salah satu yang paling dikenal di wilayah Jawa dan Sunda adalah tradisi Munggahan.

Di balik kebiasaan makan bersama dan berkumpul keluarga, Munggahan menyimpan nilai spiritual, sosial, dan budaya yang kaya makna.

Tradisi ini menjadi jembatan antara kesiapan lahiriah dan batiniah sebelum memasuki fase ibadah puasa selama sebulan penuh.

Baca juga: Ramadhan 2026: Rahasia Keutamaan Khatam Al-Qur’an di Bulan Suci

Asal-Usul dan Makna Filosofis Munggahan

Secara etimologis, kata Munggahan berasal dari bahasa Sunda “unggah” dan bahasa Jawa “munggah” yang berarti naik atau meningkat.

Dalam konteks keagamaan, makna “naik” ini dipahami sebagai simbol transisi spiritual, berpindah dari fase kehidupan biasa menuju masa penyucian diri di bulan Ramadan.

Dalam buku Agama Jawa karya Prof. Dr. Clifford Geertz, dijelaskan bahwa tradisi menjelang Ramadan di Nusantara berkembang sebagai bentuk akulturasi antara nilai Islam dan budaya lokal.

Praktik seperti Munggahan menjadi media dakwah kultural yang mengajak masyarakat melakukan persiapan rohani secara kolektif.

Makna ini sejalan dengan firman Allah SWT tentang pentingnya kesiapan spiritual:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush-shiyāmu kamā kutiba ‘alalladzīna min qablikum la‘allakum tattaqūn.

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini menegaskan bahwa puasa bukan sekadar ritual fisik, tetapi sarana peningkatan ketakwaan. Tradisi Munggahan menjadi pintu awal untuk membangun kesadaran tersebut.

Baca juga: Jelang Puasa Ramadhan, Ini Tradisi Ruwahan yang Masih Lestari

Munggahan sebagai Ritual Pembersihan Hati

Salah satu inti utama Munggahan adalah praktik saling memaafkan. Dalam budaya masyarakat Sunda dan Jawa, momen ini sering dimanfaatkan untuk meminta maaf kepada orang tua, saudara, tetangga, hingga rekan kerja.

Menurut buku Mengembangkan Fikih Sosial karya KH. Sahal Mahfudh, penyucian hati sebelum memasuki bulan Ramadan sangat dianjurkan karena konflik sosial dan dendam pribadi selain merusak hubungan antarmanusia juga menghambat kualitas ibadah.

Rasulullah SAW bersabda:

“Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis, lalu diampuni setiap hamba yang tidak menyekutukan Allah, kecuali orang yang bermusuhan.” (HR. Muslim)

Nilai inilah yang hidup dalam tradisi Munggahan dengan membersihkan relasi sosial agar ibadah Ramadan tidak terhalang oleh beban batin.

Baca juga: Menyambut Ramadhan 2026, Strategi Agar Ibadah Maksimal dan Tubuh Fit

Wujud Syukur Menyambut Bulan Penuh Ampunan

Tidak semua orang diberi kesempatan bertemu kembali dengan Ramadan. Karena itu, Munggahan juga dimaknai sebagai ungkapan syukur atas nikmat umur dan kesehatan.

Dalam kitab Lathaif al-Ma’arif karya Ibnu Rajab al-Hanbali disebutkan bahwa generasi salaf mempersiapkan Ramadan jauh hari sebelumnya dengan doa, puasa sunnah, dan persiapan mental agar mampu memaksimalkan amal.

Rasa syukur ini tercermin dalam kebiasaan makan bersama, doa kolektif, dan zikir yang mengiringi acara Munggahan.

Tradisi Botram dan Penguatan Ikatan Sosial

Di wilayah Sunda, Munggahan sering dikenal dengan istilah botram, yaitu makan bersama di atas daun pisang panjang.

Menu khas seperti nasi liwet, ikan asin, ayam goreng, dan sambal menjadi simbol kebersamaan.

Menurut penelitian botram bukan sekadar aktivitas kuliner, tetapi sarana membangun solidaritas sosial, menghapus sekat status ekonomi, dan memperkuat kohesi komunitas.

Dalam konteks Islam, nilai ini sejalan dengan ajaran ukhuwah yang menekankan pentingnya persaudaraan antarsesama Muslim.

Baca juga: Ziarah Kubur Jelang Ramadan, Sunnah atau Sekadar Tradisi?

Ziarah Kubur sebagai Pengingat Akhirat

Rangkaian Munggahan juga sering diiringi dengan ziarah kubur. Kegiatan ini bukan bertujuan ritual mistis, melainkan refleksi spiritual tentang kematian.

Rasulullah SAW bersabda:

“Dahulu aku melarang kalian ziarah kubur, sekarang ziarahlah karena ia mengingatkan kalian kepada akhirat.” (HR. Muslim)

Momentum menjelang Ramadan dianggap waktu yang tepat untuk memperkuat kesadaran akan kefanaan dunia dan menata niat ibadah dengan lebih tulus.

Tradisi Berbagi dan Sedekah Menjelang Ramadan

Banyak masyarakat memanfaatkan Munggahan sebagai momentum berbagi makanan kepada tetangga, anak yatim, dan kaum dhuafa.

Dalam buku Fiqh Keutamaan karya Yusuf Qardhawi, disebutkan bahwa sedekah menjelang bulan Ramadan menjadi latihan empati sosial sekaligus pembuka pintu keberkahan.

Aktivitas ini juga menjadi persiapan mental agar umat lebih peka terhadap rasa lapar dan penderitaan sesama selama menjalani puasa.

Kapan Waktu Ideal Munggahan Ramadan 2026?

Secara tradisional, Munggahan dilaksanakan pada akhir bulan Syaban, satu hingga dua hari sebelum masuk Ramadan.

Berdasarkan kalender Hijriah 2026:

  • PP Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.
  • Pemerintah melalui Kementerian Agama diperkirakan menetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026, menunggu hasil sidang isbat.

Dengan estimasi tersebut, waktu paling ideal untuk Munggahan diperkirakan jatuh pada:

  • Senin, 16 Februari 2026
  • Selasa, 17 Februari 2026

Rentang waktu ini memberi ruang persiapan spiritual sekaligus adaptasi fisik sebelum hari pertama puasa.

Baca juga: Awal Ramadhan 2026: Versi Pemerintah dan Muhammadiyah

Ragam Kegiatan dalam Tradisi Munggahan

Meski setiap daerah memiliki variasi, umumnya Munggahan diisi dengan:

  • Makan bersama atau botram sebagai simbol kebersamaan,
  • Saling memaafkan untuk membersihkan hati,
  • Ziarah kubur sebagai refleksi spiritual,
  • Doa bersama memohon kelancaran ibadah Ramadan.

Apakah Tradisi Munggahan Bertentangan dengan Syariat?

Para ulama sepakat bahwa tradisi Munggahan diperbolehkan selama tidak mengandung unsur syirik, khurafat, atau keyakinan yang bertentangan dengan akidah Islam.

Dalam buku Usul Al-Fiqh Al-Islami karya Prof. Wahbah Zuhaily dijelaskan bahwa adat yang mengandung nilai maslahat dan tidak bertentangan dengan syariat dapat diterima sebagai bagian dari praktik sosial umat Islam.

Selama Munggahan diisi dengan doa, silaturahmi, sedekah, dan niat mendekatkan diri kepada Allah, tradisi ini justru memperkaya ekspresi keberagamaan masyarakat.

Menjaga Tradisi, Menguatkan Spirit Ramadan

Di tengah modernisasi dan gaya hidup individualistis, tradisi Munggahan menjadi pengingat bahwa menyambut Ramadan bukan hanya urusan pribadi, tetapi juga peristiwa sosial dan spiritual bersama.

Lebih dari sekadar makan bersama, munggahan adalah simbol kesiapan umat untuk “naik kelas” dalam iman, membersihkan hati, mempererat persaudaraan, dan menata ulang tujuan hidup sebelum memasuki bulan penuh ampunan.

Ramadan 2026 semakin dekat. Pertanyaannya kini bukan sekadar kapan Munggahan dilakukan, tetapi sejauh mana kita siap memaknai momentum itu sebagai awal perjalanan spiritual yang lebih bermakna.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Terkini Lainnya
Risiko Pernikahan Tidak Tercatat: Perempuan dan Anak Terancam Kehilangan Hak Sipil
Risiko Pernikahan Tidak Tercatat: Perempuan dan Anak Terancam Kehilangan Hak Sipil
Aktual
Doa Malam Nisfu Sya'ban Lengkap Teks Arab, Latin, dan Artinya
Doa Malam Nisfu Sya'ban Lengkap Teks Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
Bukan Sekadar Pulang Kampung, Ini Makna Ibadah di Balik Mudik
Bukan Sekadar Pulang Kampung, Ini Makna Ibadah di Balik Mudik
Aktual
Makna Tradisi Munggahan Jelang Ramadan 2026, Ini Waktu Idealnya
Makna Tradisi Munggahan Jelang Ramadan 2026, Ini Waktu Idealnya
Aktual
Adakah Sholat Khusus di Malam Nisfu Sya’ban? Ini Penjelasan Para Ulama
Adakah Sholat Khusus di Malam Nisfu Sya’ban? Ini Penjelasan Para Ulama
Doa dan Niat
Mengapa Sya‘ban Disebut Bulan Arwah? Inilah Jejak Sejarahnya dalam Tradisi Islam Nusantara
Mengapa Sya‘ban Disebut Bulan Arwah? Inilah Jejak Sejarahnya dalam Tradisi Islam Nusantara
Doa dan Niat
Nisfu Sya’ban 2026 Jatuh Kapan? Ini Perkiraan Waktu dan Amalan yang Dianjurkan
Nisfu Sya’ban 2026 Jatuh Kapan? Ini Perkiraan Waktu dan Amalan yang Dianjurkan
Aktual
Awal Ramadhan 2026: Versi Pemerintah dan Muhammadiyah
Awal Ramadhan 2026: Versi Pemerintah dan Muhammadiyah
Aktual
17 Oktober 2026 Batas Akhir Wajib Halal Makanan hingga Kemasan Produk
17 Oktober 2026 Batas Akhir Wajib Halal Makanan hingga Kemasan Produk
Aktual
Cuaca Ekstrem Landa Arab Saudi, Hujan dan Badai Petir Ancam Makkah hingga Madinah
Cuaca Ekstrem Landa Arab Saudi, Hujan dan Badai Petir Ancam Makkah hingga Madinah
Aktual
Kisah Hasan Al Bashri Ketika Dihina: Membalas Keburukan dengan kebaikan
Kisah Hasan Al Bashri Ketika Dihina: Membalas Keburukan dengan kebaikan
Aktual
Puasa yang Dilarang dalam Islam: Jenis, Dalil, dan Penjelasannya
Puasa yang Dilarang dalam Islam: Jenis, Dalil, dan Penjelasannya
Doa dan Niat
Bacaan Tahlil Lengkap dengan Doa: Arab, Latin, dan Artinya
Bacaan Tahlil Lengkap dengan Doa: Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
Wamenhaj Ingatkan Petugas Haji Jaga Stamina, Mayoritas Ibadah Haji Bersifat Fisik
Wamenhaj Ingatkan Petugas Haji Jaga Stamina, Mayoritas Ibadah Haji Bersifat Fisik
Aktual
Daftar Wilayah di Arab Saudi yang Beku hingga Suhu -3 Derajat
Daftar Wilayah di Arab Saudi yang Beku hingga Suhu -3 Derajat
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com