KOMPAS.com - Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 2026, suasana religius mulai terasa di berbagai daerah Indonesia.
Selain persiapan ibadah, masyarakat juga merawat tradisi turun-temurun sebagai bagian dari proses menyambut bulan penuh berkah. Salah satu yang paling dikenal di wilayah Jawa dan Sunda adalah tradisi Munggahan.
Di balik kebiasaan makan bersama dan berkumpul keluarga, Munggahan menyimpan nilai spiritual, sosial, dan budaya yang kaya makna.
Tradisi ini menjadi jembatan antara kesiapan lahiriah dan batiniah sebelum memasuki fase ibadah puasa selama sebulan penuh.
Baca juga: Ramadhan 2026: Rahasia Keutamaan Khatam Al-Qur’an di Bulan Suci
Secara etimologis, kata Munggahan berasal dari bahasa Sunda “unggah” dan bahasa Jawa “munggah” yang berarti naik atau meningkat.
Dalam konteks keagamaan, makna “naik” ini dipahami sebagai simbol transisi spiritual, berpindah dari fase kehidupan biasa menuju masa penyucian diri di bulan Ramadan.
Dalam buku Agama Jawa karya Prof. Dr. Clifford Geertz, dijelaskan bahwa tradisi menjelang Ramadan di Nusantara berkembang sebagai bentuk akulturasi antara nilai Islam dan budaya lokal.
Praktik seperti Munggahan menjadi media dakwah kultural yang mengajak masyarakat melakukan persiapan rohani secara kolektif.
Makna ini sejalan dengan firman Allah SWT tentang pentingnya kesiapan spiritual:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush-shiyāmu kamā kutiba ‘alalladzīna min qablikum la‘allakum tattaqūn.
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan bahwa puasa bukan sekadar ritual fisik, tetapi sarana peningkatan ketakwaan. Tradisi Munggahan menjadi pintu awal untuk membangun kesadaran tersebut.
Baca juga: Jelang Puasa Ramadhan, Ini Tradisi Ruwahan yang Masih Lestari
Salah satu inti utama Munggahan adalah praktik saling memaafkan. Dalam budaya masyarakat Sunda dan Jawa, momen ini sering dimanfaatkan untuk meminta maaf kepada orang tua, saudara, tetangga, hingga rekan kerja.
Menurut buku Mengembangkan Fikih Sosial karya KH. Sahal Mahfudh, penyucian hati sebelum memasuki bulan Ramadan sangat dianjurkan karena konflik sosial dan dendam pribadi selain merusak hubungan antarmanusia juga menghambat kualitas ibadah.
Rasulullah SAW bersabda:
“Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis, lalu diampuni setiap hamba yang tidak menyekutukan Allah, kecuali orang yang bermusuhan.” (HR. Muslim)
Nilai inilah yang hidup dalam tradisi Munggahan dengan membersihkan relasi sosial agar ibadah Ramadan tidak terhalang oleh beban batin.
Baca juga: Menyambut Ramadhan 2026, Strategi Agar Ibadah Maksimal dan Tubuh Fit
Tidak semua orang diberi kesempatan bertemu kembali dengan Ramadan. Karena itu, Munggahan juga dimaknai sebagai ungkapan syukur atas nikmat umur dan kesehatan.
Dalam kitab Lathaif al-Ma’arif karya Ibnu Rajab al-Hanbali disebutkan bahwa generasi salaf mempersiapkan Ramadan jauh hari sebelumnya dengan doa, puasa sunnah, dan persiapan mental agar mampu memaksimalkan amal.
Rasa syukur ini tercermin dalam kebiasaan makan bersama, doa kolektif, dan zikir yang mengiringi acara Munggahan.
Di wilayah Sunda, Munggahan sering dikenal dengan istilah botram, yaitu makan bersama di atas daun pisang panjang.
Menu khas seperti nasi liwet, ikan asin, ayam goreng, dan sambal menjadi simbol kebersamaan.
Menurut penelitian botram bukan sekadar aktivitas kuliner, tetapi sarana membangun solidaritas sosial, menghapus sekat status ekonomi, dan memperkuat kohesi komunitas.
Dalam konteks Islam, nilai ini sejalan dengan ajaran ukhuwah yang menekankan pentingnya persaudaraan antarsesama Muslim.
Baca juga: Ziarah Kubur Jelang Ramadan, Sunnah atau Sekadar Tradisi?
Rangkaian Munggahan juga sering diiringi dengan ziarah kubur. Kegiatan ini bukan bertujuan ritual mistis, melainkan refleksi spiritual tentang kematian.
Rasulullah SAW bersabda:
“Dahulu aku melarang kalian ziarah kubur, sekarang ziarahlah karena ia mengingatkan kalian kepada akhirat.” (HR. Muslim)
Momentum menjelang Ramadan dianggap waktu yang tepat untuk memperkuat kesadaran akan kefanaan dunia dan menata niat ibadah dengan lebih tulus.
Banyak masyarakat memanfaatkan Munggahan sebagai momentum berbagi makanan kepada tetangga, anak yatim, dan kaum dhuafa.
Dalam buku Fiqh Keutamaan karya Yusuf Qardhawi, disebutkan bahwa sedekah menjelang bulan Ramadan menjadi latihan empati sosial sekaligus pembuka pintu keberkahan.
Aktivitas ini juga menjadi persiapan mental agar umat lebih peka terhadap rasa lapar dan penderitaan sesama selama menjalani puasa.
Secara tradisional, Munggahan dilaksanakan pada akhir bulan Syaban, satu hingga dua hari sebelum masuk Ramadan.
Berdasarkan kalender Hijriah 2026:
Dengan estimasi tersebut, waktu paling ideal untuk Munggahan diperkirakan jatuh pada:
Rentang waktu ini memberi ruang persiapan spiritual sekaligus adaptasi fisik sebelum hari pertama puasa.
Baca juga: Awal Ramadhan 2026: Versi Pemerintah dan Muhammadiyah
Meski setiap daerah memiliki variasi, umumnya Munggahan diisi dengan:
Para ulama sepakat bahwa tradisi Munggahan diperbolehkan selama tidak mengandung unsur syirik, khurafat, atau keyakinan yang bertentangan dengan akidah Islam.
Dalam buku Usul Al-Fiqh Al-Islami karya Prof. Wahbah Zuhaily dijelaskan bahwa adat yang mengandung nilai maslahat dan tidak bertentangan dengan syariat dapat diterima sebagai bagian dari praktik sosial umat Islam.
Selama Munggahan diisi dengan doa, silaturahmi, sedekah, dan niat mendekatkan diri kepada Allah, tradisi ini justru memperkaya ekspresi keberagamaan masyarakat.
Di tengah modernisasi dan gaya hidup individualistis, tradisi Munggahan menjadi pengingat bahwa menyambut Ramadan bukan hanya urusan pribadi, tetapi juga peristiwa sosial dan spiritual bersama.
Lebih dari sekadar makan bersama, munggahan adalah simbol kesiapan umat untuk “naik kelas” dalam iman, membersihkan hati, mempererat persaudaraan, dan menata ulang tujuan hidup sebelum memasuki bulan penuh ampunan.
Ramadan 2026 semakin dekat. Pertanyaannya kini bukan sekadar kapan Munggahan dilakukan, tetapi sejauh mana kita siap memaknai momentum itu sebagai awal perjalanan spiritual yang lebih bermakna.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang