Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cerita Habiburohman, Jauh dari Semarang Menjaga dan Menambah Hafalan Al-Qur’an

Kompas.com, 12 Maret 2026, 18:22 WIB
Add on Google
Sukoco,
Khairina

Tim Redaksi

PONOROGO, KOMPAS.com – Hujan deras baru saja reda di Desa Milangasri, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan. Sisa air masih menetes dari atap rumah joglo kayu jati yang berdiri di bagian belakang rumah Bedib Nana Sambodo, pengaggas kegiatan Tahfiz Leadership di Magetan.

Langit masih mendung ketika satu per satu anak datang membawa Al-Qur’an kecil di tangan.

Mereka duduk melingkar di lantai rumah joglo yang mulai ramai oleh suara anak-anak. Jam menunjukkan pukul 15.00 WIB. Tak lama kemudian, suara ayat Al-Qur’an mulai terdengar bersahutan.

Sekitar 60 anak mengikuti bacaan seorang pemuda yang berdiri di depan ruangan. Suaranya pelan, namun tegas memandu ayat demi ayat yang dilantunkan bersama.

Baca juga: Muchlis M Hanafi Wakili Indonesia di Forum Internasional Pentashihan Mushaf Alquran Irak

Pemuda itu adalah Habibur Rahman, perantau berusia 20 tahun yang datang jauh dari Semarang untuk menjaga hafalan Al-Qur’an sekaligus mengajarkan mengaji kepada anak-anak desa.

Di rumah joglo sederhana itu, ayat-ayat Al-Qur’an bukan hanya dihafalkan. Ia juga menumbuhkan harapan baru bagi generasi muda desa.

Menjaga Hafalan dari Pondok ke Desa

Perjalanan Habibur Rahman menuju Desa Milangasri bermula dari masa belajarnya di pesantren. Ia menempuh pendidikan di sebuah pondok di Boyolali hingga lulus SMA. Di sana ia belajar membaca kitab sekaligus menghafal Al-Qur’an.

Ketika memutuskan mengikuti program Tahfidz Leadership, ia sudah memiliki hafalan 10 juz.

Namun baginya, menghafal Al-Qur’an bukan sekadar mengumpulkan jumlah hafalan. Hafalan harus terus dijaga agar tidak hilang.

Karena itulah ia memilih mengikuti program yang tidak hanya fokus pada hafalan, tetapi juga mengajarkan kepemimpinan.

“Saya ingin menyelesaikan hafalan 30 juz dan belajar bagaimana menjadi pemimpin,” katanya.

Baca juga: Keutamaan Puasa Ramadhan Menurut Alquran dan Hadis

Dalam program tersebut ia belajar bersama 8 peserta dari berbagai daerah. Salah satunya adalah Rehan, yang akrab dipanggil Roy.

Roy mengaku awalnya merasa bingung menentukan arah hidup setelah lulus dari pondok pesantren. Informasi dari ibunya tentang program yang memadukan hafalan Al-Qur’an dan pelatihan kepemimpinan membuatnya tertarik mengikuti seleksi.

Saat pertama kali mengikuti program, ia hanya memiliki hafalan satu juz.

Kini hafalannya telah mencapai tujuh juz. Ia bahkan merasa lebih betah tinggal di Magetan dibanding yang ia bayangkan sebelumnya.

“Awalnya ingin ditempatkan di Bogor supaya dekat keluarga, tapi ternyata di Magetan suasananya enak dan masyarakatnya ramah,” ujarnya.

Mengajar Anak Desa Menjadi Penyegar

Setiap sore, Habibur Rahman dan Roy mengajar anak-anak di TPA Milangasri. Bagi Habibur Rahman, pengalaman mengajar anak-anak merupakan hal baru dalam hidupnya. Ada kalanya ia merasa lelah setelah menjalani aktivitas belajar dan menghafal sejak pagi. Namun suasana berubah ketika melihat anak-anak datang dengan wajah ceria membawa Al-Qur’an.

“Kalau melihat mereka semangat belajar, kita juga ikut semangat,” katanya.

Untuk membantu anak-anak menghafal, mereka menggunakan metode talkin.Metode ini dilakukan dengan cara membaca ayat terlebih dahulu, lalu anak-anak menirukannya dengan nada tertentu secara berulang. Nada sederhana tersebut membuat ayat-ayat Al-Qur’an lebih mudah diingat oleh anak-anak.

Baca juga: Untuk Pertama Kalinya Saat Ramadhan, Israel Tutup Masjid Al-Aqsa

Hafalan yang Tumbuh dari Rumah Joglo

Metode tersebut terbukti membantu anak-anak TPA Milangasri menghafal Al-Qur’an dengan lebih cepat. Salah satu yang merasakannya adalah Ayu. Siswi kelas 4 itu kini sudah mampu menghafal satu juz, yaitu Juz 30. Ayu mengaku metode yang diajarkan para pembimbing membuat hafalan terasa lebih mudah.

“Kak Habib dan Kak Roy mengajarkan dengan nada tertentu, jadi mudah diingat,” katanya.

Dengan cara tersebut, Ayu berhasil menyelesaikan hafalan dalam waktu sekitar satu tahun. Bagi Ayu, belajar mengaji di TPA bukan hanya tentang menghafal. Ia juga merasa senang karena para pembimbing mengajarkan ayat dengan cara yang menyenangkan.

Dari Hafalan Menuju Masa Depan

Cerita serupa datang dari Ida, siswa kelas 6 di SD Milangasri .Ia juga berhasil menyelesaikan hafalan satu juz berkat bimbingan para pengajar TPA.

Ida bahkan sering diminta tampil di sekolah untuk melantunkan hafalan surat-surat pendek. Bagi dirinya, hafalan Al-Qur’an bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi.Ia berharap hafalan tersebut dapat membantu masa depannya.

“Saya ingin bisa masuk sekolah yang bagus setelah lulus,” katanya.

Bagi para pengajar, keberhasilan anak-anak seperti Ayu dan Ida menjadi kebahagiaan tersendiri.

Di tempat sederhana itu, mereka tidak hanya mengajarkan ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri anak-anak desa.

Program Tahfidz Leadership

Program Tahfiz dan Leadership di Desa Milangasri terus berkembang dengan tujuan mencetak generasi muda penghafal Al-Qur’an yang memiliki jiwa kepemimpinan. Program ini dipandu oleh Muhammad Hasrul Faizin.

Menurut Hasrul, program tersebut dirancang untuk menyiapkan generasi pemimpin yang tidak hanya memiliki kemampuan intelektual, tetapi juga memiliki fondasi nilai-nilai Al-Qur’an.

“Tujuan utamanya adalah menyiapkan pemimpin yang hafiz Al-Qur’an sehingga mereka mampu menerapkan nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Hasrul sendiri berasal dari Lombok. Ia mulai menghafal Al-Qur’an sejak tahun 2011. Setahun kemudian, pada 2012, ia melanjutkan pendidikan di Jakarta hingga lulus pada 2016.Sejak 2019, ia bergabung dalam program Tahfiz Leadership dan telah ditempatkan di berbagai daerah di Pulau Jawa sebelum akhirnya mendapat amanah mengembangkan program tersebut di Magetan.

Saat ini program tersebut diikuti sembilan mahasantri berusia 17 hingga 25 tahun yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka menjalani pendidikan intensif selama 40 pekan atau sekitar 10 bulan dengan target hafal 30 juz Al-Qur’an.

Baca juga: Doa Naik Kendaraan dan Saat Bepergian dari Alquran dan Hadis

Belajar Hafalan dan Kepemimpinan

Setiap hari para santri menjalani jadwal yang cukup padat. Mereka memulai hafalan selepas Subuh hingga pagi hari, kemudian melanjutkan sesi hafalan pada siang hari.Dalam sehari, santri menargetkan hafalan tiga halaman.

Hafalan tersebut diperkuat dengan murajaah pada sore dan malam hari agar ingatan tetap terjaga.

Setiap hari Sabtu para santri menyetorkan hafalan pekanan untuk memastikan target tercapai.

Menurut Hasrul, metode tersebut diterapkan agar hafalan tidak hanya bertambah, tetapi juga tetap kuat dalam ingatan para santri.

“Kami menargetkan santri bisa menambah hafalan sekaligus menjaga hafalan lama dengan murajaah yang rutin, sehingga hafalan tidak mudah hilang,” jelasnya.

Selain tahfiz, para santri juga mendapatkan pelatihan kepemimpinan melalui mentoring, coaching, dan praktik langsung di masyarakat.Materi kepemimpinan meliputi pengembangan visi hidup, kemampuan memimpin diri sendiri, manajemen tim, hingga kemampuan menganalisis permasalahan sosial.

Para santri juga aktif dalam kegiatan kemasyarakatan seperti mengajar TPA gratis bagi anak-anak sekitar, mengisi pengajian rutin, hingga terlibat dalam kegiatan sosial warga. Kegiatan tersebut bahkan berhasil menarik puluhan anak untuk belajar mengaji secara cuma-cuma di Desa Milangasri.

“Kami ingin santri tidak hanya belajar untuk dirinya sendiri, tetapi juga memberi manfaat langsung kepada masyarakat,” kata Hasrul.

Baca juga: 5 Ayat Tentang Sabar dalam Alquran, Penenang Hati Saat Menghadapi Ujian Hidup

Menanam Benih Pemimpin Masa Depan

Menjalankan program tersebut bukan tanpa tantangan. Sebagai penanggung jawab, Hasrul harus membina hafalan para santri sekaligus mengembangkan kemampuan kepemimpinan mereka.Meski demikian, ia tetap berkomitmen menjalankan amanah tersebut.“Harapan kami, santri yang lulus tidak hanya hafal 30 juz, tetapi juga mampu memimpin diri sendiri dan tim kecil di masyarakat,” katanya.

Sementara itu, di rumah joglo Desa Milangasri, suara ayat-ayat Al-Qur’an terus bergema setiap sore.Bagi Habibur Rahman, perjalanan dari Semarang ke Magetan bukan sekadar perjalanan menuntut ilmu.Di desa kecil itu ia belajar menjaga hafalan, mengasah kepemimpinan, sekaligus menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an kepada generasi yang lebih muda.

Dan bagi anak-anak Milangasri, kehadiran para pemuda perantau itu menghadirkan sesuatu yang lebih dari sekadar pelajaran mengaji. Bahwa suatu hari nanti, dari desa kecil di lereng Gunung Lawu ini, akan lahir generasi pemimpin yang berakhlak Qur’ani.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Khutbah Jumat 15 Mei 2026: Waspada Terjangkit Virus Takabur
Khutbah Jumat 15 Mei 2026: Waspada Terjangkit Virus Takabur
Aktual
Khutbah Jumat 15 Mei 2026: Kurban Mengajarkan Kepedulian dan Pengorbanan
Khutbah Jumat 15 Mei 2026: Kurban Mengajarkan Kepedulian dan Pengorbanan
Aktual
Pejabat Kemenhaj Ikut Dorong Kursi Roda Jamaah Haji, Pastikan Layanan Ramah Lansia dan Disabilitas
Pejabat Kemenhaj Ikut Dorong Kursi Roda Jamaah Haji, Pastikan Layanan Ramah Lansia dan Disabilitas
Aktual
Masjid Tan’im Jadi Lokasi Favorit Jamaah Haji Indonesia Ambil Miqat Umrah Sunah
Masjid Tan’im Jadi Lokasi Favorit Jamaah Haji Indonesia Ambil Miqat Umrah Sunah
Aktual
27 Ribu Liter Air Zamzam untuk Jemaah Haji Aceh Tiba di Asrama Haji Embarkasi Aceh
27 Ribu Liter Air Zamzam untuk Jemaah Haji Aceh Tiba di Asrama Haji Embarkasi Aceh
Aktual
Jemaah Haji Embarkasi Makassar Latihan Jalan Kaki ke Jamarat Jelang Puncak Haji di Mina
Jemaah Haji Embarkasi Makassar Latihan Jalan Kaki ke Jamarat Jelang Puncak Haji di Mina
Aktual
Waspada Cuaca Ekstrem Saudi, Jemaah Haji 2026 Diminta Minum Air Tiap 10 Menit
Waspada Cuaca Ekstrem Saudi, Jemaah Haji 2026 Diminta Minum Air Tiap 10 Menit
Aktual
Saudi Hukum 48 Pelanggar Haji Ilegal, Denda Capai Rp 430 Juta
Saudi Hukum 48 Pelanggar Haji Ilegal, Denda Capai Rp 430 Juta
Aktual
Hukum Sebut Nama Orang Saat Kurban Idul Adha, Sunnah atau Riya?
Hukum Sebut Nama Orang Saat Kurban Idul Adha, Sunnah atau Riya?
Aktual
Idul Adha 2026 Berpotensi Serentak, Ini Prediksi BRIN, Pemerintah, NU, & Muhammadiyah
Idul Adha 2026 Berpotensi Serentak, Ini Prediksi BRIN, Pemerintah, NU, & Muhammadiyah
Aktual
Haji 2026 Siap Digelar, Saudi Andalkan AI dan 20 Ribu Masjid Disiapkan
Haji 2026 Siap Digelar, Saudi Andalkan AI dan 20 Ribu Masjid Disiapkan
Aktual
Imigrasi Sulsel Manjakan Calon Jemaah Haji dengan Layanan Eazy Passport
Imigrasi Sulsel Manjakan Calon Jemaah Haji dengan Layanan Eazy Passport
Aktual
Mendadak Pusing dan Lemas di Udara, Calon Jemaah Haji Sumenep Diinfus di Pesawat
Mendadak Pusing dan Lemas di Udara, Calon Jemaah Haji Sumenep Diinfus di Pesawat
Aktual
Kurban untuk Diri Sendiri atau Orang Tua, Mana yang Harus Didahulukan? Ini Penjelasannya
Kurban untuk Diri Sendiri atau Orang Tua, Mana yang Harus Didahulukan? Ini Penjelasannya
Aktual
Hari Tasyrik: Pengertian, Larangan Puasa, dan Amalan yang Dianjurkan dalam Islam
Hari Tasyrik: Pengertian, Larangan Puasa, dan Amalan yang Dianjurkan dalam Islam
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com