KOMPAS.com - Hari Raya Idul Adha menjadi salah satu momen paling penting bagi umat Islam di seluruh dunia.
Selain identik dengan ibadah kurban, Idul Adha juga berkaitan erat dengan pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci, khususnya wukuf di Arafah yang berlangsung setiap 9 Zulhijah.
Karena menggunakan kalender Hijriah berbasis peredaran bulan, tanggal Idul Adha dalam kalender Masehi selalu berubah setiap tahun. Lalu, kapan sebenarnya Idul Adha 2026 atau 1447 Hijriah akan berlangsung di Indonesia?
Baca juga: BAZNAS dan BSI Luncurkan Layanan Bayar Kurban dan Dam Haji Digital 2026
Menariknya, prediksi awal menunjukkan Idul Adha 2026 berpotensi jatuh serentak antara pemerintah, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), hingga Arab Saudi.
Jika benar terjadi, hal ini akan menjadi momentum kebersamaan umat Islam dalam merayakan hari raya kurban.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama (Kemenag) belum menetapkan secara resmi tanggal Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah.
Penetapan resmi baru akan diputuskan melalui sidang isbat awal Zulhijah yang dijadwalkan berlangsung pada 17 Mei 2026.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag RI, Abu Rokhmad, menegaskan bahwa masyarakat diminta menunggu hasil sidang isbat sebagai keputusan resmi pemerintah.
“Penetapan awal Zulhijah tetap menunggu hasil rukyat dan keputusan sidang isbat sebagai otoritas resmi pemerintah. Jika ditanya kapan Idul Adha, kami mengimbau masyarakat untuk menunggu hasil sidang pada 17 Mei,” ujar Abu Rokhmad dikutip dari laman resmi Kemenag RI.
Dalam praktiknya, pemerintah menggunakan metode hisab dan rukyat secara bersamaan.
Hisab merupakan metode perhitungan astronomi untuk mengetahui posisi hilal atau bulan sabit muda, sedangkan rukyat dilakukan melalui pengamatan langsung hilal di berbagai titik pemantauan di Indonesia.
Meski belum diputuskan secara resmi, Kalender Hijriah Indonesia 2026 dan Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri tentang Hari Libur Nasional memperkirakan Idul Adha 1447 H jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026.
Baca juga: Sapi Suro 1,07 Ton Jadi Hewan Kurban Presiden Prabowo di Jepara pada Idul Adha 2026
Prediksi seragamnya Idul Adha 2026 juga disampaikan Peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin.
Thomas mengatakan, posisi hilal pada 17 Mei 2026 diperkirakan sudah memenuhi berbagai kriteria penentuan awal bulan Hijriah yang digunakan di Indonesia maupun Arab Saudi.
“InsyaAllah Idul Adha 1447 H seragam,” kata Thomas kepada Kompas.com, Rabu (13/5/2026).
Menurut Thomas, pada saat Magrib tanggal 17 Mei 2026, posisi hilal diperkirakan cukup tinggi hampir di seluruh wilayah Indonesia dan dunia Islam.
Ia menjelaskan bahwa kriteria yang digunakan Muhammadiyah, pemerintah Indonesia melalui MABIMS, hingga kalender Ummul Qura Arab Saudi kemungkinan besar akan sama-sama terpenuhi.
“Maka, KHGT (Muhammadiyah) sama dengan Ummul Quro (Arab Saudi) sama dengan MABIMS (Pemerintah), awal Zulhijah 1447 sama dengan 18 Mei 2026, dan Idul Adha 27 Mei 2026,” ujarnya.
Prediksi tersebut membuat peluang perbedaan Idul Adha tahun depan relatif kecil dibanding beberapa tahun sebelumnya.
Dalam buku Ilmu Falak Praktik karya Susiknan Azhari dijelaskan bahwa keseragaman penetapan awal bulan Hijriah biasanya terjadi ketika posisi hilal berada jauh di atas batas minimum visibilitas.
Berbeda dengan pemerintah yang menunggu sidang isbat, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan Idul Adha 1447 Hijriah.
Penetapan tersebut tertuang dalam Maklumat PP Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 yang ditandatangani di Yogyakarta pada 22 September 2025.
Dalam maklumat itu dijelaskan bahwa:
Muhammadiyah menggunakan sistem Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang diputuskan dalam Musyawarah Nasional Tarjih Muhammadiyah di Pekalongan tahun 2024.
Dikutip dari buku Kalender Islam Global karya Syamsul Anwar, konsep KHGT bertujuan menciptakan sistem kalender Hijriah yang lebih seragam bagi umat Islam dunia dengan pendekatan astronomi modern.
Dalam maklumat tersebut juga dijelaskan bahwa ijtimak menjelang Zulhijah terjadi pada Sabtu, 16 Mei 2026 pukul 20.01.02 UTC.
Karena parameter kalender global belum terpenuhi pada hari itu, bulan Zulkaidah disempurnakan menjadi 30 hari atau istikmal.
“Di seluruh dunia tanggal 1 Zulhijah 1447 H jatuh pada hari Senin Kliwon, 18 Mei 2026 M. Hari Arafah jatuh pada Selasa Pon, 26 Mei 2026 M. Iduladha jatuh pada Rabu Wage, 27 Mei 2026 M,” demikian bunyi maklumat Muhammadiyah.
Baca juga: 5 Larangan bagi Orang yang Berkurban saat Idul Adha, Jangan Potong Rambut hingga Jual Bagian Hewan
Nahdlatul Ulama (NU) hingga kini juga belum menetapkan secara resmi Idul Adha 2026 karena masih menunggu pelaksanaan rukyatul hilal menjelang akhir bulan Zulkaidah.
NU dikenal menggunakan pendekatan rukyat dengan metode Imkanur Rukyah Nahdlatul Ulama (IRNU), yang secara praktik sejalan dengan mekanisme sidang isbat pemerintah.
Meski demikian, apabila merujuk Almanak NU dan prediksi astronomi yang ada, Idul Adha 2026 diperkirakan juga jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026.
Dalam buku Hisab Rukyat dan Perbedaannya karya Slamet Hambali dijelaskan bahwa metode rukyat menekankan pentingnya observasi hilal secara langsung sebagai bagian dari tradisi penentuan kalender Islam sejak masa Rasulullah SAW.
Perbedaan penetapan Idul Adha biasanya dipengaruhi oleh metode yang digunakan masing-masing pihak dalam menentukan awal bulan Hijriah.
Secara umum terdapat dua pendekatan utama:
Pemerintah Indonesia mengombinasikan keduanya melalui mekanisme sidang isbat dan kriteria MABIMS.
Sementara Muhammadiyah lebih mengedepankan pendekatan astronomi global melalui KHGT.
Adapun NU tetap mempertahankan rukyat sebagai metode utama dengan dukungan perhitungan hisab.
Dalam buku Pengantar Ilmu Falak karya Muhyiddin Khazin dijelaskan bahwa perbedaan metode tersebut merupakan bagian dari khazanah keilmuan Islam dan tidak perlu menjadi sumber perpecahan di tengah masyarakat.
Baca juga: Kementan Pastikan Stok Hewan Kurban Idul Adha 2026 Aman dan Terkendali
Idul Adha bukan sekadar hari penyembelihan hewan kurban.
Hari raya ini juga menjadi simbol ketakwaan, pengorbanan, dan ketaatan kepada Allah SWT sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Kautsar ayat 2:
فَصَلِّلِرَبِّكَوَانْحَرْ
Artinya: “Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”
Dalam buku Rahasia Ibadah Haji dan Kurban karya Imam Al-Ghazali dijelaskan bahwa kurban bukan sekadar menyembelih hewan, melainkan simbol pengorbanan hawa nafsu dan bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT.
Oleh karena itu, Idul Adha selalu menjadi momentum penting untuk memperkuat kepedulian sosial, berbagi kepada sesama, dan mempererat persaudaraan umat Islam.
Melihat berbagai prediksi astronomi yang ada, peluang Idul Adha 2026 berlangsung serentak antara pemerintah, Muhammadiyah, NU, dan Arab Saudi dinilai cukup besar.
Jika prediksi tersebut benar terjadi, maka umat Islam Indonesia berpotensi merayakan Hari Raya Kurban secara bersama-sama pada Rabu, 27 Mei 2026.
Meski demikian, keputusan resmi pemerintah tetap menunggu hasil sidang isbat yang akan digelar menjelang masuk bulan Zulhijah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang