Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Persiapan Armuzna 2026: Musyrif Diny Minta Jemaah Batasi Umrah Sunnah

Kompas.com, 14 Mei 2026, 14:40 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Menjelang fase puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), para Musyrif Diny Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia mengingatkan jemaah haji Indonesia agar tidak menguras tenaga untuk ibadah sunnah berlebihan sebelum wukuf di Arafah.

Imbauan tersebut disampaikan di tengah tingginya antusiasme jemaah dalam menjalankan ibadah sunnah selama berada di Madinah maupun Makkah, mulai dari mengejar shalat Arbain di Masjid Nabawi hingga berulang kali melaksanakan umrah sunnah dan thawaf di Masjidil Haram.

Dilansir dari laman resmi Kemenhaj, para pembimbing ibadah atau Musyrif Diny menekankan bahwa inti ibadah haji terletak pada kemampuan jemaah menjalankan rukun haji secara sempurna, terutama saat wukuf di Arafah.

“Al-Hajju Arafah”, Inti Haji Ada di Arafah

Musyrif Diny, Muhammad Cholil Nafis, mengingatkan bahwa jemaah perlu memprioritaskan kesiapan fisik menghadapi Armuzna dibanding memaksakan diri melakukan ibadah sunnah secara berlebihan.

“Jangan sampai tenaga habis sebelum puncak haji. Yang paling utama adalah kesiapan untuk menjalani Arafah, Muzdalifah, dan Mina,” ujar Kiai Cholil di Madinah, Rabu (13/5/2026).

Pernyataan tersebut sejalan dengan hadis Rasulullah SAW:

“Al-Hajju Arafah.”

“Haji itu adalah Arafah.” (HR Tirmidzi, Abu Dawud, dan An-Nasa’i)

Hadis ini menjadi dasar penting dalam fikih haji bahwa wukuf di Arafah merupakan rukun utama ibadah haji.

Bahkan, seseorang dianggap tidak sah hajinya apabila tidak melaksanakan wukuf pada waktunya.

Dalam buku Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa wukuf di Arafah merupakan inti dan puncak ibadah haji yang tidak dapat digantikan dengan dam ataupun bentuk ibadah lainnya.

Oleh karena itu, menjaga kesehatan dan stamina sebelum Armuzna menjadi bagian penting dalam persiapan ibadah.

Baca juga: Madinah Siapkan Pusat Cuci Darah 24 Jam untuk Jemaah Haji 2026

Jemaah Diimbau Tidak Memaksakan Ibadah Sunnah

Antusiasme jemaah Indonesia menjalankan ibadah sunnah di Tanah Suci memang sangat tinggi.

Tidak sedikit jemaah yang berusaha mengejar salat berjamaah di Masjid Nabawi selama 40 waktu atau Arbain, memperbanyak umrah sunnah, hingga thawaf berkali-kali.

Namun menurut Kiai Cholil, semangat tersebut perlu dibarengi dengan kesadaran menjaga kondisi fisik, terutama bagi:

  • Lansia
  • Jemaah risiko tinggi
  • Penyandang disabilitas
  • Jemaah dengan penyakit bawaan

Ia menegaskan bahwa Islam tidak mengajarkan ibadah yang memberatkan diri sendiri hingga membahayakan kesehatan.

Menurutnya, jemaah yang sudah memiliki niat baik untuk beribadah tetap berpeluang mendapatkan pahala meski akhirnya tidak dapat melaksanakan ibadah sunnah karena alasan kesehatan.

“Kalau sudah punya niat baik untuk shalat di masjid lalu terhalang karena kondisi kesehatan atau demi menjaga stamina, insyaAllah tetap mendapatkan pahala,” katanya.

Ibadah di Hotel Tetap Bernilai Pahala

Kiai Cholil juga mengingatkan bahwa jemaah yang tinggal di sekitar kawasan Masjid Nabawi maupun Masjidil Haram tidak perlu merasa bersalah apabila harus lebih banyak beristirahat di hotel.

Menurutnya, ibadah yang dilakukan di pemondokan tetap bernilai di sisi Allah SWT, terlebih apabila dilakukan demi menjaga kesehatan menghadapi puncak haji.

Dalam buku Bimbingan Manasik Haji dan Umrah terbitan Kementerian Agama Republik Indonesia dijelaskan bahwa menjaga kesehatan selama haji termasuk bagian dari ikhtiar agar jemaah mampu menyempurnakan rukun dan wajib haji.

Terlebih, cuaca panas ekstrem di Arab Saudi serta kepadatan jutaan jemaah dapat meningkatkan risiko kelelahan dan dehidrasi.

Baca juga: Jemaah Haji Diminta Bijak Konsumsi Vitamin C, Ini Aturannya

Jangan Terjebak Semangat “Aji Mumpung”

Senada dengan itu, Musyrif Diny Asrorun Ni'am Sholeh mengingatkan jemaah agar tidak terjebak pada semangat “aji mumpung” selama berada di Tanah Suci.

Menurutnya, ibadah sunnah seperti umrah berulang kali dan thawaf tambahan sebaiknya dilakukan secara proporsional sesuai kemampuan tubuh.

“Umrah sewajarnya saja, thawaf juga secukupnya. Jangan sampai memforsir tenaga hanya karena ingin sebanyak-banyaknya ibadah sunnah, sementara tenaga itu sangat dibutuhkan saat Armuzna,” ujar Ni’am.

Ia menekankan bahwa menjaga kesehatan juga bagian dari ibadah. Dalam kaidah fikih Islam dikenal prinsip:

“Menolak mudarat didahulukan daripada mengambil maslahat.”

Karena itu, mengatur energi selama di Tanah Suci dinilai lebih utama daripada memaksakan ibadah sunnah hingga jatuh sakit.

Cuaca Panas Arab Saudi Jadi Tantangan Jemaah

Puncak haji tahun 2026 diperkirakan kembali berlangsung dalam suhu panas ekstrem di Arab Saudi.

Dalam beberapa musim haji terakhir, suhu di kawasan Arafah, Muzdalifah, dan Mina dapat mencapai lebih dari 45 derajat Celsius pada siang hari.

Kondisi tersebut membuat jemaah rentan mengalami:

  • Dehidrasi
  • Kelelahan
  • Heatstroke
  • Penurunan tekanan darah
  • Gangguan pernapasan

Dalam buku Ensiklopedi Haji dan Umrah karya Ahmad Sarwat dijelaskan bahwa kesiapan fisik menjadi salah satu faktor penting keberhasilan ibadah haji karena sebagian besar rangkaian manasik membutuhkan mobilitas tinggi.

Jemaah harus berjalan jauh, berada di tengah kerumunan besar, serta menjalani aktivitas panjang selama Armuzna.

Baca juga: Hukum Mabit di Muzdalifah dan Mina, Apakah Wajib saat Haji?

Persiapan Haji Bukan Hanya Soal Ibadah

Musyrif Diny lainnya, Abdullah Kafabihi Mahrus, menegaskan bahwa persiapan haji tidak hanya berkaitan dengan ibadah ritual, tetapi juga kesiapan kesehatan dan pengelolaan energi.

Menurutnya, banyak jemaah yang terlalu fokus pada aktivitas tambahan sebelum puncak haji sehingga lupa menjaga kondisi tubuh.

“Jadi kita harus ada persiapan matang, baik kesehatan maupun finansial. Sebelum haji itu jangan belanja-belanja, jangan memforsir umrah-umrah. Jaga kesehatan karena haji itu intinya adalah Arafah, Al-Hajju Arafah,” kata Kiai Kafabihi.

Ia mengingatkan bahwa wukuf di Arafah merupakan momentum terpenting dalam haji sehingga seluruh tenaga dan kesiapan mental sebaiknya difokuskan untuk menghadapi hari tersebut.

Mengapa Wukuf di Arafah Sangat Penting?

Wukuf di Arafah dilaksanakan pada 9 Zulhijah dan menjadi rukun haji yang paling utama.

Dalam buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah karya Kementerian Agama RI dijelaskan bahwa wukuf berarti hadir dan berdiam diri di Padang Arafah pada waktu tertentu sambil memperbanyak doa, zikir, dan istighfar.

Rasulullah SAW menyebut hari Arafah sebagai hari terbaik untuk berdoa.

Dalam hadis riwayat Tirmidzi disebutkan:

“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.”

Oleh karena itu, jemaah membutuhkan kondisi fisik yang cukup agar dapat menjalani wukuf dengan khusyuk dan optimal.

Menjaga Kesehatan Bagian dari Ibadah

Para Musyrif Diny berharap jemaah Indonesia dapat menjalani ibadah haji secara lebih seimbang, yakni tetap semangat beribadah tanpa mengabaikan keselamatan diri.

Dalam Islam, menjaga kesehatan termasuk bagian dari maqashid syariah atau tujuan utama syariat, yaitu menjaga jiwa (hifz an-nafs).

Karena itu, istirahat yang cukup, menjaga asupan cairan, mengatur aktivitas fisik, dan tidak memaksakan diri justru menjadi bagian dari ikhtiar agar ibadah haji dapat dijalankan dengan sempurna.

Sebab pada akhirnya, inti utama haji bukan seberapa banyak ibadah sunnah yang dilakukan, melainkan bagaimana seorang muslim mampu menuntaskan rukun haji dengan baik, aman, dan penuh keikhlasan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Para Ilmuwan Muslim yang Mengubah Dunia, dari Penemu Algoritma hingga Sains Modern
Para Ilmuwan Muslim yang Mengubah Dunia, dari Penemu Algoritma hingga Sains Modern
Aktual
Sakit atau Safar? Ini Cara Amalanmu Tetap Berpahala Sempurna
Sakit atau Safar? Ini Cara Amalanmu Tetap Berpahala Sempurna
Aktual
Mars Al-Irsyad: Manifesto Kesetaraan Islam dan Anti-Feodalisme
Mars Al-Irsyad: Manifesto Kesetaraan Islam dan Anti-Feodalisme
Aktual
Cak Imin: Santri Harus Punya Skill, Integritas, dan Taat Ilmu
Cak Imin: Santri Harus Punya Skill, Integritas, dan Taat Ilmu
Aktual
Kalender Juli 2026 Lengkap dengan Weton Jawa, Catat Jadwal Istiwa A'zham dan Awal Bulan Shafar
Kalender Juli 2026 Lengkap dengan Weton Jawa, Catat Jadwal Istiwa A'zham dan Awal Bulan Shafar
Aktual
Mulai 1 Juli, Jemaah Umrah dan Haji Khusus Wajib Berangkat Lewat Terminal 2F Soekarno-Hatta
Mulai 1 Juli, Jemaah Umrah dan Haji Khusus Wajib Berangkat Lewat Terminal 2F Soekarno-Hatta
Aktual
Bukan Sekadar Penutup Wajah, Burqa Koin Makkah Simpan Simbol Kekayaan dan Warisan Keluarga
Bukan Sekadar Penutup Wajah, Burqa Koin Makkah Simpan Simbol Kekayaan dan Warisan Keluarga
Aktual
Jelang Muktamar NU 2026, Rembug Warga NU Soroti Tata Kelola PBNU dan Beri Rekomendasi
Jelang Muktamar NU 2026, Rembug Warga NU Soroti Tata Kelola PBNU dan Beri Rekomendasi
Aktual
Gus Salam Maju Calon Ketum PBNU, Sebut Dapat Perintah dari KH Nurul Huda Djazuli
Gus Salam Maju Calon Ketum PBNU, Sebut Dapat Perintah dari KH Nurul Huda Djazuli
Aktual
Arab Saudi Resmi Pindah ke Cloud, Layanan Haji dan Umrah Makin Canggih
Arab Saudi Resmi Pindah ke Cloud, Layanan Haji dan Umrah Makin Canggih
Aktual
Kemenag Gelar Golek Garwo, 354 Peserta Berburu Jodoh Secara Syar'i
Kemenag Gelar Golek Garwo, 354 Peserta Berburu Jodoh Secara Syar'i
Aktual
Link Pengumuman Hasil UM-PTKIN 2026 Dibuka 30 Juni, Peserta Finalisasi Tembus 111.353 Orang
Link Pengumuman Hasil UM-PTKIN 2026 Dibuka 30 Juni, Peserta Finalisasi Tembus 111.353 Orang
Aktual
Kemenag Imbau Pengusaha Katering Pernikahan Segera Urus Sertifikasi Halal
Kemenag Imbau Pengusaha Katering Pernikahan Segera Urus Sertifikasi Halal
Aktual
Kemenag Edukasi Wedding Organizer soal Syariat dan Regulasi Pernikahan Lewat Nikah Fest 2026
Kemenag Edukasi Wedding Organizer soal Syariat dan Regulasi Pernikahan Lewat Nikah Fest 2026
Aktual
Hukum Shalat Pakai Kaos Bergambar, Boleh atau Tidak? Ini Penjelasan Ulama
Hukum Shalat Pakai Kaos Bergambar, Boleh atau Tidak? Ini Penjelasan Ulama
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar