Editor
KOMPAS.com – Bulan Juli 2026 menjadi periode yang istimewa bagi umat Islam di Indonesia. Selain menandai peralihan dari bulan Muharram ke Shafar 1448 Hijriah, bulan ini juga menghadirkan fenomena Istiwa A'zham (Rashdul Kiblat)yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mengecek akurasi arah kiblat secara mandiri.
Fenomena astronomi tersebut akan terjadi pada Rabu dan Kamis, 15–16 Juli 2026, saat Matahari tepat berada di atas Ka'bah.
Pada kedua hari itu, tepat pukul 16.27 WIB atau 17.27 WITA, bayangan benda yang berdiri tegak lurus akan mengarah tepat ke Ka'bah. Momen ini menjadi kesempatan terbaik bagi masyarakat untuk mengoreksi arah kiblat di rumah, musala, maupun masjid tanpa menggunakan alat khusus.
Baca juga: PBNU Tetapkan 1 Muharram 17 Juni 2026, Ini Alasan Berbeda dengan Kalender Kemenag
Berdasarkan kalender Islam, Juli 2026 merupakan masa transisi dari Muharram menuju Shafar 1448 Hijriah.
Ijtimak penentu awal bulan Shafar diperkirakan terjadi pada Selasa, 14 Juli 2026 pukul 16.43.28 WIB. Dengan perhitungan kalender hisab, 1 Shafar 1448 Hijriah diprediksi jatuh pada Kamis, 16 Juli 2026.
Sementara dalam kalender Jawa, bulan Juli juga menjadi masa pergantian dari Suro menuju Sapar 1960 (Ba').
Awal bulan Sapar diperkirakan jatuh pada Jumat, 17 Juli 2026, yang bertepatan dengan weton Jumat Kliwon.
Berikut kalender Juli 2026 beserta hari, weton Jawa, dan tanggal Hijriahnya.
Tidak terdapat hari libur nasional maupun cuti bersama pada Juli 2026 selain libur akhir pekan, yaitu:
Dengan hadirnya fenomena Istiwa A'zham dan pergantian bulan Hijriah maupun kalender Jawa, Juli 2026 menjadi bulan yang menarik untuk menambah pengetahuan sekaligus meningkatkan kualitas ibadah. Bagi umat Islam, pertengahan Juli merupakan waktu terbaik untuk memastikan kembali arah kiblat agar salat semakin tepat menghadap Ka'bah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang