Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jelang Puasa Ramadhan, Ini Tradisi Ruwahan yang Masih Lestari

Kompas.com, 24 Januari 2026, 14:00 WIB
Add on Google
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, masyarakat Muslim di berbagai daerah Indonesia memiliki cara khas untuk mempersiapkan diri secara spiritual.

Salah satu tradisi yang masih bertahan hingga kini adalah ruwahan, sebuah ritual budaya-religius yang berkembang kuat di kalangan masyarakat Jawa.

Tradisi ini bukan sekadar aktivitas seremonial, melainkan menjadi ruang refleksi, doa bersama, serta penguatan nilai kebersamaan sebelum memasuki bulan puasa.

Ruwahan umumnya dilakukan pada bulan Ruwah dalam kalender Jawa yang bertepatan dengan bulan Syaban dalam penanggalan Hijriah.

Momentum ini dipandang sebagai waktu terbaik untuk mengirim doa kepada leluhur, membersihkan diri secara batin, dan memperkuat kesiapan rohani menyambut Ramadhan.

Baca juga: Warga Indonesia, Simak Aturan Baru Ramadhan di Arab Saudi

Makna Ruwahan dalam Perspektif Sejarah Islam

Dalam buku Islam dalam Arus Sejarah Indonesia karya Jajat Burhanuddin dijelaskan bahwa ruwahan merupakan bentuk akulturasi antara tradisi lokal Jawa dengan nilai-nilai Islam.

Tradisi ini berkembang seiring proses islamisasi Nusantara yang dilakukan para ulama dengan pendekatan kultural, bukan konfrontatif.

Ruwahan berasal dari kata “ruh”, yang merujuk pada aktivitas mendoakan arwah orang yang telah wafat.

Bagi masyarakat Jawa, bulan Syaban dipandang sebagai masa transisi spiritual, yaitu masa membersihkan hati sebelum memasuki Ramadhan yang penuh ibadah. Di sinilah ruwahan memperoleh legitimasi sosial sekaligus religius.

Tradisi ini juga menjadi bukti bagaimana Islam di Nusantara tumbuh dengan wajah moderat, adaptif, dan berakar kuat pada budaya lokal, tanpa meninggalkan prinsip tauhid.

Baca juga: Tazkiyatun Nafs: Menyucikan Diri Menyambut Bulan Suci Ramadhan

Waktu Pelaksanaan Ruwahan Menjelang Ramadhan

Secara umum, ruwahan dilaksanakan sejak awal bulan Syaban hingga mendekati pertengahan atau akhir bulan tersebut.

Tidak ada satu tanggal baku yang mengikat, sebab pelaksanaannya menyesuaikan kebiasaan masyarakat setempat.

Namun, tujuan utamanya tetap sama, yaitu sebagai persiapan rohani sebelum Ramadhan. Banyak masyarakat memilih melaksanakannya menjelang pertengahan Syaban karena berdekatan dengan malam Nisfu Syaban yang diyakini memiliki nilai spiritual tersendiri.

Rangkaian Prosesi Ruwahan yang Sarat Makna

Tradisi ruwahan tidak berdiri sebagai satu kegiatan tunggal. Ia terdiri dari beberapa tahapan yang saling terhubung dan memiliki makna simbolis mendalam.

Ziarah dan Pembersihan Makam

Salah satu rangkaian utama adalah membersihkan makam keluarga dan leluhur. Kegiatan ini mencerminkan penghormatan kepada orang yang telah wafat sekaligus menjadi sarana mengingat kematian.

Dalam Islam, ziarah kubur dianjurkan karena mampu melunakkan hati dan mengingatkan manusia pada kehidupan akhirat.

Rasulullah SAW bersabda:

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا

“Kuluarang kalian dari ziarah kubur, sekarang berziarahlah.” (HR. Muslim)

Doa dan Tahlilan Bersama

Tahapan berikutnya adalah pembacaan doa, tahlil, dan zikir secara berjamaah. Aktivitas ini bertujuan memohon ampunan bagi orang yang telah meninggal sekaligus memperkuat spiritualitas peserta.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ

Walladzīna jā’ū mim ba‘dihim yaqūlūna rabbanaghfir lanā wa li ikhwaninal ladzīna sabaqūnā bil īmān.

Artinya: “Dan orang-orang yang datang setelah mereka berkata: Wahai Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu.” (QS. Al-Hasyr: 10)

Ayat ini menjadi dasar kuat tradisi mendoakan orang yang telah wafat.

Baca juga: Ramadhan Tinggal Hitungan Hari, Sudahkah Kita Muhasabah Diri?

Kenduri dan Selamatan

Ruwahan juga identik dengan kenduri atau selamatan. Masyarakat menyiapkan hidangan seperti tumpeng dan kue apem yang kemudian dibagikan kepada tetangga.

Dalam kajian Farhan dkk berjudul Pelestarian Budaya Tradisi Ruwahan, dijelaskan bahwa kenduri memiliki fungsi sosial sebagai media solidaritas dan penguat hubungan antarwarga.

Sedekah makanan juga sejalan dengan ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda:

أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ إِطْعَامُ الطَّعَامِ

“Sedekah yang paling utama adalah memberi makan.” (HR. Ahmad)

Megengan dan Tradisi Permohonan Maaf

Megengan menjadi penanda mendekatnya Ramadhan. Tradisi ini biasanya diisi dengan pembagian makanan khas sebagai simbol saling memaafkan.

Masyarakat memaknainya sebagai proses membersihkan hubungan sosial agar memasuki bulan puasa dengan hati yang lapang.

Adus Kramas: Simbol Penyucian Diri

Sebagian masyarakat menutup rangkaian ruwahan dengan adus kramas atau mandi simbolik. Meski bersifat budaya, maknanya sejalan dengan konsep thaharah dalam Islam, yaitu menjaga kebersihan lahir dan batin sebelum menjalani ibadah besar.

Pandangan Ulama tentang Tradisi Ruwahan

Dalam buku Fiqh Sosial karya KH Ali Yafie, dijelaskan bahwa tradisi lokal dapat diterima dalam Islam selama tidak bertentangan dengan akidah dan syariat.

Prinsip ini dikenal sebagai kaidah al-‘adah muhakkamah, yaitu adat kebiasaan bisa menjadi pertimbangan hukum selama membawa maslahat.

Ruwahan menjadi bernilai ibadah ketika diniatkan untuk berdoa, bersedekah, mempererat silaturahmi, dan mengingat kematian.

Namun, tradisi ini tidak dibenarkan jika diiringi keyakinan mistis yang menyimpang atau praktik yang melanggar tauhid.

Baca juga: Ramadhan 2026 Bertepatan Musim Hujan, Begini Cara Tetap Khusyuk Puasa

Ruwahan sebagai Jembatan Menuju Ramadhan

Di tengah modernisasi dan gaya hidup urban, ruwahan tetap bertahan karena menyentuh sisi terdalam kehidupan umat Islam: kerinduan akan kebersihan hati dan kedekatan dengan Allah.

Tradisi ini bukan sekadar peninggalan budaya, tetapi juga sarana membangun kesadaran spiritual kolektif.

Ruwahan mengajarkan bahwa menyambut Ramadhan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga membersihkan hubungan dengan sesama, memperbaiki niat, serta mempersiapkan jiwa agar Ramadhan dijalani dengan makna yang lebih dalam.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Menhaj Irfan: 25.271 Calon Jemaah Haji Indonesia Telah Diberangkatkan ke Madinah
Menhaj Irfan: 25.271 Calon Jemaah Haji Indonesia Telah Diberangkatkan ke Madinah
Aktual
Orang Tua Ungkap Alasan Daftarkan Haji Tsurayya Sejak Usia 2 Tahun: Bekal Hidup Dunia Akhirat
Orang Tua Ungkap Alasan Daftarkan Haji Tsurayya Sejak Usia 2 Tahun: Bekal Hidup Dunia Akhirat
Aktual
Cerita Tsurayya, Jemaah Haji Termuda Ponorogo yang Didaftarkan Sejak Usia 2 Tahun
Cerita Tsurayya, Jemaah Haji Termuda Ponorogo yang Didaftarkan Sejak Usia 2 Tahun
Aktual
Soroti Potensi Pelanggaran, Pemerintah Tegaskan KBIHU Dilarang Pungut Biaya Tambahan ke Jemaah Haji
Soroti Potensi Pelanggaran, Pemerintah Tegaskan KBIHU Dilarang Pungut Biaya Tambahan ke Jemaah Haji
Aktual
Marak Penawaran Haji Tanpa Antre Ilegal, Pemerintah Minta Masyarakat Waspada
Marak Penawaran Haji Tanpa Antre Ilegal, Pemerintah Minta Masyarakat Waspada
Aktual
Petugas Bekerja Teliti Pantau Bagasi Di Balik Ramainya Kedatangan Jemaah Haji di Madinah
Petugas Bekerja Teliti Pantau Bagasi Di Balik Ramainya Kedatangan Jemaah Haji di Madinah
Aktual
Ribuan Jemaah Haji Tiba Bersamaan di Bandara Madinah, Petugas Terapkan Rekayasa Pergerakan
Ribuan Jemaah Haji Tiba Bersamaan di Bandara Madinah, Petugas Terapkan Rekayasa Pergerakan
Aktual
Cerita Penjual Ikan Keliling di Gowa, Berangkat Haji dari Hasil Menabung Mulai Rp 30 Ribu per Hari
Cerita Penjual Ikan Keliling di Gowa, Berangkat Haji dari Hasil Menabung Mulai Rp 30 Ribu per Hari
Aktual
PPIH Madinah Imbau Jemaah Haji Indonesia Waspadai Cuaca Panas di Tanah Suci
PPIH Madinah Imbau Jemaah Haji Indonesia Waspadai Cuaca Panas di Tanah Suci
Aktual
Seorang Jemaah Haji Asal Solo Wafat di Madinah, Kemenhaj Pastikan Akan Laksanakan Badal Haji
Seorang Jemaah Haji Asal Solo Wafat di Madinah, Kemenhaj Pastikan Akan Laksanakan Badal Haji
Aktual
Kemenhaj Larang KBIHU Pungut Biaya Tambahan Jemaah Haji, Pelanggar Akan Ditindak
Kemenhaj Larang KBIHU Pungut Biaya Tambahan Jemaah Haji, Pelanggar Akan Ditindak
Aktual
Ayah Kandung Tak Ada, Bisakah Ayah Sambung Jadi Wali Nikah? Ini Syarat dan Hukumnya menurut Fikih
Ayah Kandung Tak Ada, Bisakah Ayah Sambung Jadi Wali Nikah? Ini Syarat dan Hukumnya menurut Fikih
Aktual
Ayah Tiada atau Menghilang, Siapa Wali Nikah? Ini Urutan dan Ketentuannya dalam Islam
Ayah Tiada atau Menghilang, Siapa Wali Nikah? Ini Urutan dan Ketentuannya dalam Islam
Aktual
15 Tahun Menabung dari Gaji Marbot, Hamdi Akhirnya Berhaji Bersama Istri
15 Tahun Menabung dari Gaji Marbot, Hamdi Akhirnya Berhaji Bersama Istri
Aktual
Masjid Berdiri di Rooftop RS Jakarta, Hadirkan 'Healing' Fisik dan Batin
Masjid Berdiri di Rooftop RS Jakarta, Hadirkan "Healing" Fisik dan Batin
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com