Penulis
KOMPAS.com - Bulan suci Ramadhan 2026 segera tiba. Umat Islam berlomba-lomba mempersiapkan diri menghadapi bulan mulia. Salah satu persiapan yang bisa dilakukan adalah melakukan Tazkiyatun Nafs.
Tazkiyatun Nafs terdiri dari dua kata, tazkiyah dan nafs. Secara bahasa, tazkiyah berasal dari kata zakā yang berarti bersih, tumbuh, dan berkembang. Sedangkan nafs berarti jiwa atau diri. Dengan demikian, Tazkiyatun Nafs berarti membersihkan diri atau jiwa dari dosa dan penyakit hati sekaligus menumbuhkannya dengan iman dan amal saleh.
Imam Ibn Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim menjelaskan bahwa Tazkiyatun Nafs bukan sekadar meninggalkan maksiat semata, tetapi juga menghiasi jiwa dengan ketaatan dan akhlak mulia.
Baca juga: Amalan Sebelum Tidur: Penenang Jiwa dan Penjaga Iman di Malam Hari
Islam memandang hati sebagai pusat kebaikan dan keburukan manusia. Rasulullah SAW bersabda:
أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ
Artinya: “Ketahuilah, dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin menegaskan bahwa inti dari seluruh ibadah adalah perbaikan hati, karena amal lahir tidak akan bernilai tanpa hati yang bersih dan ikhlas.
Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa Tazkiyatun Nafs memiliki tahapan yang saling berkaitan:
Tahap awal adalah membersihkan jiwa dari penyakit hati dan sifat tercela seperti:
Ibn Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa dosa dan penyakit hati ibarat racun yang menghalangi cahaya iman masuk ke dalam hati.
Baca juga: Latar Belakang Isra Miraj: Rihlah Bagi Jiwa yang Dilanda Duka
Setelah hati dikosongkan dari keburukan, langkah selanjutnya adalah menghiasi hati dengan berbagagai sifat atau akhlak terpuji. Beberapa diantara sifat tersebut adalah:
Tajalli adalah buah dari Tazkiyatun Nafs, ketika seorang hamba merasakan ketenangan, kehadiran Allah dalam hidupnya, dan kelezatan iman.
Imam An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin menyebut bahwa ketenangan hati adalah tanda kuatnya iman dan bersihnya jiwa.
Berikut ini beberapa cara praktis untuk melakukan Tazkiyatun Nafs.
Taubat adalah pintu utama penyucian jiwa. Allah berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ تُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. At-Tahrim: 8)
Menurut Imam Al-Qurtubi, taubat yang benar mencakup penyesalan, berhenti dari dosa, dan tekad untuk tidak mengulanginya.
Baca juga: Manfaat Puasa Senin Kamis bagi Tubuh dan Jiwa: Panduan Lengkap & Dalilnya
Dzikir membersihkan hati dari kelalaian. Allah berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ibn Taimiyah menyatakan dalam Majmu’ Al-Fatawa bahwa dzikir bagi hati ibarat air bagi ikan, tanpanya, hati akan mati.
Muhasabah adalah introspeksi diri, sedangkan muraqabah adalah merasa diawasi Allah setiap saat. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.”
Orang yang selalu merasa diawasi oleh Allah SWT, berarti ia telah sampai derajat ihsan.
Imam Al-Ghazali menekankan pentingnya lingkungan yang baik dalam proses Tazkiyatun Nafs, karena jiwa sangat mudah terpengaruh oleh kebiasaan sekitarnya.
Oleh karena itu, setelah tahapan Tazkiyatun Nafs dilakukan, selanjutnya adalah mencari lingkungan dan teman-teman yang dapat menguatkan kesucian hati.
Baca juga: Doa Memohon Kesucian Jiwa: Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahannya
Tidak sedikit orang yang memasuki Ramadhan dengan tubuh berpuasa, tetapi hati masih dipenuhi iri, dengki, amarah, dan luka batin yang belum selesai. Padahal Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, melainkan bulan penyucian jiwa.
Di sinilah Tazkiyatun Nafs menjadi persiapan terpenting sebelum Ramadhan tiba. Tanpa jiwa yang dibersihkan, Ramadhan berisiko berlalu begitu saja, sibuk secara ritual, namun miskin secara spiritual.
Bagi orang yang dapat mencapai kesucian diri atau jiwa, ia akan mencapai kebahagiaan hakiki. Ibnul Qayyim Al Jauziyyah dalam kitab Madarijus Salikin pernah berkata, “Kesucian hati adalah jalan menuju kebahagiaan yang hakiki.”
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang