Penulis
KOMPAS.com - Isra Mi'raj merupakan sebuah perjalanan spiritual Rasulullah SAW. Peritiwa ini berlangsung dalam satu malam. Rasulullah SAW diperjalankan dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsha di Palestina.
Tak berhenti sampai disitu, perjalanan dilanjutkan menuju langit ketujuh untuk menemui Allah SWT di Sidratul Muntaha. Sepanjang perjalanan, Rasulullah SAW mengalami berbagai peristiwa yang luar biasa, salah satunya berjumpa dengan para Nabi dan Rasul sebelumnya.
Perjumpaan dengan para Nabi dan Rasul sebelumnya ini tentunya memberikan kekuatan spiritual dan moral bahwa mereka telah terlebih dahulu mengalami perjuangan yang sama. Puncaknya adalah ketika Rasulullah SAW bertemu Allah SWT dan mendapat perintah untuk sholat wajib lima waktu.
Baca juga: Isra Mi’raj hingga Ash-Shiddiq: Kisah Iman Tanpa Keraguan Abu Bakar
Sholat merupakan puncak perjalanan spiritual manusia dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sholat juga sebagai sarana untuk memohon pertolongan Allah SWT ketika semua harapan tak menemui jalan.
Isra Mi'raj merupakan rihlah bagi Rasulullah SAW yang jiwanya sedang dilanda duka. Allah SWT memberikan 'hiburan' kepada Rasulullah SAW dengan perjalanan yang luar bisa dan penuh makna.
Setidaknya ada tiga peristiwa besar yang membuat Rasulullah SAW merasa kehilangan dan mendapati dakwah jauh dari harapan. Adapun tiga peristiwa itu adalah sebagai berikut:
Abu Thalib adalah paman Nabi Muhammad SAW yang merawat Nabi Muhammad SAW sejak usia 8 tahun, tepatnya setelah sang kakek, Abdul Muthalib meninggal. Abu Thalib sangat menyayangi keponakannya tersebut sampai akhir hayatnya.
Meskipun tidak bersedia masuk Islam, Abu Thalib senantiasa melindungi Nabi Muhammad SAW ketika berdakwah dari serangan-serangan kaum musyrikin Mekkah.
Sayangnya, pada tahun ke-10 Kenabian, Abu Thalib menderita sakit hingga akhirnya meninggal dunia. Saat sakit, Nabi Muhammad SAW berusaha untuk membujuk pamannya agar bersedia masuk Islam.
Baca juga: Kisah Isra Mi’raj 2026: 27 Rajab 1447 H Jatuh 16 Januari, Ini Makna dan Hikmahnya
“Wahai pamanku, ucapkan Laa Ilaaha Illallah, kalimat yang dapat aku gunakan untuk membelamu di sisi Allah,” pinta Nabi Muhammad SAW.
Namun Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah menimpalinya, “Wahai Abu Thalib, apakah engkau membenci agama Abdul Muthalib?”
Akhirnya Abu Thalib mengatakan, “Saya tetap berada di dalam agama Abdul Muthalib.”
Sampai akhir hayatnya, Abu Thalib tetap dalam kekafiran.
Ada dua kesedihan Nabi Muhammad SAW dari meninggalnya Abu Thalib. Pertama, Nabi Muhammad SAW kehilangan orang yang selama ini melindungi dakwahnya.
Kedua, Abu Thalib tidak bersedia masuk Islam sehingga Nabi Muhammad SAW tidak bisa memberikan syafaat kepadanya.
Selang dua bulan setelah wafatnya Abu Thalib, menyusul Ummul Mukminin Khadijah meninggal dunia. Masih dalam tahun ke-10 Kenabian. Khadijah meninggal dalam usia 65 tahun.
Khadijah adalah sosok istri yang sangat luar biasa. Ia senantiasa mendukung, menguatkan, dan mengorbankan segala yang dimiliki untuk mendukung dakwah Nabi Muhammad SAW.
Sanjungan mengenai Khadijah ini diampaikan Nabi Muhammad SAW dalam haditsnya:
مَا أَبْدَلَنِى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ خَيْراً مِنْهَا قَدْ آمَنَتْ بِى إِذْ كَفَرَ بِى النَّاسُ وَصَدَّقَتْنِى إِذْ كَذَّبَنِى النَّاسُ وَوَاسَتْنِى بِمَالِهَا إِذْ حَرَمَنِى النَّاسُ وَرَزَقَنِى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَلَدَهَا إِذْ حَرَمَنِى أَوْلاَدَ النِّسَاءِ
Artinya: “Allah tidak menggantikannya dengan seorang wanita pun yang lebih baik darinya. Ia telah beriman kepadaku tatkala orang-orang kafir kepadaku, ia telah membenarkan aku tatkala orang-orang mendustakan aku.
Ia telah membantuku dengan hartanya tatkala orang-orang menahan hartanya tidak membantuku, dan Allah telah menganugerahkan darinya anak-anak tatkala Allah tidak menganugerahkan kepadaku anak-anak dari wanita-wanita yang lain.” (H.R. Ahmad).
Baca juga: Isra Miraj Menjadi Ujian Terbesar Bagi Keimanan Umat Islam
Selain meninggalnya Abu Thalib dan Khadijah, dakwah kala itu terasa kian berat. Tentangan dari kaum kafir Quraisy tak pernah surut. Bahkan blokade dan pemboikotan ekonomi dilakukan. Ruang gerak dakwah semakin terhimpit dan sulit.
Dalam situasi tersebut, Rasulullah SAW mencoba untuk mencari celah lain dalam berdakwah. Beliau dan anak angkatnya, Zaid bin Haritsah, mencoba peruntungan dakwah di Thaif.
Namun bukan penerimaan yang diterima. Nabi justru dicaci maki, diusir, dan dilempari batu hingga giginya berdarah.
Peluang untuk mengembangkan dakwah di Mekkah semakin berat serasa tak ada harapan lagi. Semua pihak menolak sehingga dakwah semakin sulit berkembang.
Banyaknya cobaan yang dialami sebelum peristiwa Isra Mi'raj menjadikan tahun tersebut disebut dengan amul huzni atau tahun duka cita. Semua jalan dan kekuatan seakan tak tersisa.
Maka perjalan Isra Mi'raj menjadi sarana rihlah atau perjalanan spiritual untuk pengobat jiwa yang dilanda duka, menguatkan iman, dan sumber harapan untuk mendapatkan pertolongan Allah SWT.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang