Penulis
KOMPAS.com - Perstiwa Isra Mi'raj dianggap sebagai peristiwa yang luar biasa bagi umat Islam saat ini. Tetapi pada saat peristiwa tersebut terjadi, isra mi'raj justru menjadi ujian terbesar bagi keimanan umat Islam saat itu.
Isra mi'raj adalah perjalanan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsha di Palestina. Dilanjutkan menuju langit ketujuh untuk menghadap Allah SWT di Sidratul Muntaha. Perjalanan ini hanya berlangsung satu malam.
Baca juga: Libur Isra Mikraj 2026 Jatuh Jumat, Ada Long Weekend 3 Hari
Sepulang isra mi'raj, Rasulullah SAW menceritakan perstiwa tersebut kepada masyarakat Mekkah. Tidak hanya umat Islam yang mendengarkan, tetapi juga kaum kafir Quraisy.
Setelah mendegar kisah tersebut, banyak yang meragukan peristiwa itu benar-benar terjadi. Bahkan ada yang menguji Rasulullah SAW dengan memerintahkannya untuk mengangkat kedua kakinya, namun Rasulullah SAW tidak bisa melakukannya.
Hal ini menjadi bahan olok-olok orang kafir Quraisy. Cerita tentang peristiwa isra mi'raj dianggap hanya dusta belaka.
Sebagian kaum muslimin juga meragukan kisah Rasulullah SAW. Hingga banyak murtad setelah Rasulullah SAW memperdengarkan kisah tersebut. Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyah menuliskan bahwa banyak orang yang telah masuk Islam menjadi murtad.
Al Hakim dalam sebuah riwayat dari Aisyah juga menyatakan hal yang sama, "ketika Nabi melakukan perjalanan malam ke mesjid Al Aqsha, banyak orang yang tidak mempercayainya sehingga ada banyak orang yang telah beriman dan telah memercayai Nabi menjadi murtad."
Baca juga: Benarkah Isra Miraj Terjadi Tanggal 27 Rajab? Berikut Pendapat Para Ulama
Ketika umat Islam diuji dengan siksaan, cacian, intimidasi, pengusiran, dan blokade dari kaum kafir Quraisy, mereka bisa melaluinya dengan kegigihan dan kesabaran. Tidak ada sedikitpun yang goyah imannya.
Tetapi ketika diuji dengan peristiwa isra mi'raj, sebagian besar umat Islam meragukan kisah Rasulullah SAW tersebut sehingga menyebabkan banyak yang murtad karenanya.
Pada saat itu, kisah tentang isra mi'raj dianggap tidak masuk akal. Jarak antara Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha lebih dari 1000 km. Tidak mungkin ditempuh dalam semalam pada saat itu, apalagi sampai naik ke langit tingkat ketujuh.
Di tengah cemooh kaum kafir Quraisy dan sebagian umat Islam yang mulai meragukan Rasulullah SAW, Abu Bakar tampil sebagai penyelamat keimanan umat Islam. Ketika ditanya tentang peristiwa isra mi'raj, Abu Bakar menjawab:
“Sungguh saya telah membenarkannya perihal khabar langit (Mi’raj), maka bagaimana mungkin saya mengingkarinya dalam peristiwa itu (Isra). Selama (Rasulullah) yang berkata, maka sungguh dia benar.”
Jawaban tegas Abu Bakar ini membuat sebagian besar umat Islam yang meragukan kisah Rasulullah SAW saat itu kembali kepada keimanan yang lurus.
Berkat ucapannya ini, Abu Bakar kemudian mendapat julukan Ash Shiddiq atau orang yang membenarkan. Maksudnya membenarkan setiap perkataan Rasulullah SAW.
Baca juga: Mengungkap Keistimewaan Malam 27 Rajab bagi Umat Islam
Isra mi'raj tidak hanya menjadi ujian bagi umat Islam di masa Rasulullah SAW. Tetapi juga menjadi ujian bagi umat Islam saat ini. Mengapa demikian?
Hasil dari peristiwa isra mi'raj adalah perintah untuk menjalankan shalat wajib lima waktu. Banyak umat Islam yang tidak mengerjakan shalat lima waktu dengan sungguh-sungguh. Padahal shalat lima waktu adalah tiang agama.
Shalat lima waktu juga menjadi pembeda antara seorang muslim dan orang kafir. Hal ini disampaikan dalam hadits Rasulullah SAW.
العَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلاَةُ ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
Artinya: "Perjanjian yang mengikat antara kita (umat Islam) dan mereka adalah shalat, maka siapa saja yang meninggalkan shalat, sungguh ia telah kafir.” (H.R. Tirmidzi).
Orang Islam yang meninggalkan shalat, tak ubahnya seperti orang kafir.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang