Editor
KOMPAS.com — Di atas tanah yang masih basah oleh lumpur dan sisa kayu gelondongan, ratusan korban banjir bandang di Desa Kutaraja, Kecamatan Muara Batangtoru (Mabang), Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, mengikrarkan Sumpah Tapanuli.
Ikrar sakral itu dilantunkan usai doa bersama dan wirid, tepat di jantung lokasi bencana, Kamis (8/1/2026).
Laki-laki, perempuan, pemuda hingga anak-anak duduk bersila di atas terpal sederhana, berhadapan langsung dengan sungai yang menjadi saksi murka alam.
Dalam suasana khidmat dan penuh haru, mereka menyatukan tekad: menjaga tanah leluhur Tapanuli dari eksploitasi yang telah melahirkan bencana antropogenik.
Baca juga: Wasekjen PBNU Gagas Taman Monumen Bencana Antropogenik di Tapanuli
Doa dan wirid dipimpin dengan penuh kekhusyukan. Sejumlah tokoh masyarakat turut hadir, termasuk tokoh Tapanuli yang juga Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), H Rahmat Hidayat Pulungan.
Usai doa, Rahmat menyampaikan pesan yang menggugah nurani para korban. Ia mengajak masyarakat untuk tidak hanya kuat menghadapi musibah, tetapi juga berani menuntaskan akar persoalan di balik bencana.
“Kita harus kuat, menghadapi bencana dan juga harus berani menyelesaikan akar masalah bencana ini,” tegas Rahmat di hadapan para korban.
Ia menegaskan komitmen tanpa kompromi terhadap segala bentuk eksploitasi yang mengancam keberlanjutan tanah leluhur.
“Tidak ada kompromi terhadap perusakan tanah leluhur. Keberlanjutan Tapanuli harus kita jaga bersama,” tandasnya.
Sebagai bentuk solidaritas, Rahmat menyerahkan bantuan sebesar Rp 50 juta kepada perwakilan korban, Emma Aisyah. Bantuan tersebut disebutnya sebagai amanah dari rakyat Indonesia untuk warga Tapanuli yang terdampak bencana.
Emma menerima bantuan itu dengan linangan air mata. Ia menyampaikan terima kasih seraya berharap tragedi banjir bandang tidak lagi berulang di tanah kelahiran mereka.
Ratusan korban banjir bandang di Desa Kutaraja, Kecamatan Muara Batangtoru (Mabang), Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, mengikrarkan Sumpah Tapanuli, Kamis (8/1/2026).Puncak acara ditandai dengan seluruh korban berdiri dan mengikrarkan Sumpah Tapanuli dalam dua bahasa: bahasa lokal dan bahasa Indonesia.
Dalam bahasa lokal, mereka bersumpah menjaga tanah leluhur dengan segenap raga dan jiwa, memajukan sumber daya manusia Tapanuli, serta menjaga kekayaan dan keberlanjutan daerah itu untuk generasi mendatang.
Sementara dalam bahasa Indonesia, ikrar itu menggema dengan penuh emosi:
1. Kami bersumpah akan menjaga tanah leluhur kami dengan darah dan air mata.
2. Kami bersumpah akan memajukan sumber daya manusia Tapanuli.
3. Kami bersumpah akan menjaga keberlanjutan Tapanuli untuk generasi yang akan datang.
Sebagai penutup, para korban menyampaikan penghormatan dan rasa terima kasih kepada para pendahulu Tapanuli—tokoh nasional, ulama, pejuang, dan pemikir—yang telah berjasa membesarkan dan menjaga martabat tanah Tapanuli.
Baca juga: PBNU Gelar Doa untuk Negeri Satu NU Satu Bangsa untuk Bantu Penyintas Bencana
Rahmat Pulungan menunjuk mantan Wakil Presiden Adam Malik, Jenderal Ahmad Haris Nasution, pendiri Pesantren Tertua di Sumatera Musthafawiyah Syekh Mustofa Nasution, pendiri HMI Lafran Pane, mantan ketua DPR Akbar Tandjung hingga mantan Menhan Jenderal M Panggabean .
Di tengah duka dan puing bencana, ikrar itu menjadi penanda: Tapanuli tidak sekadar berduka, tetapi bangkit dengan sumpah, ingatan, dan perlawanan terhadap perusakan alam.
Ulurkan tanganmu membantu korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di situasi seperti ini, sekecil apa pun bentuk dukungan dapat menjadi harapan baru bagi para korban. Salurkan donasi kamu sekarang dengan klik di sini