Editor
TAPANULI, KOMPAS.com — Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Rahmat Hidayat Pulungan, menggagas pembangunan Taman Monumen Bencana Antropogenik di Desa Tolang Julu, Kecamatan Sayur Matinggi, Tapanuli.
Monumen ini direncanakan berdiri di lokasi bencana yang mengakibatkan 55 rumah hancur dan tertimbun pasir akibat kerusakan lingkungan.
Rahmat Hidayat Pulungan yang juga dikenal sebagai Aktivis 1998 menegaskan, pembangunan taman monumen tersebut bertujuan untuk mengingatkan publik akan besarnya dampak kerusakan lingkungan yang dipicu oleh kejahatan lingkungan dan keserakahan manusia.
Baca juga: PBNU Gelar Doa untuk Negeri Satu NU Satu Bangsa untuk Bantu Penyintas Bencana
Menurutnya, taman ini dibangun di atas “kuburan” rumah warga sebagai pengingat betapa dahsyatnya bencana alam banjir bandang.
“Taman monumen ini diharapkan menjadi pengingat kolektif bahwa kerusakan alam tidak pernah berdampak kecil. Tragedi di Tolang Julu adalah pelajaran mahal tentang konsekuensi dari abainya manusia terhadap lingkungan,” ujarnya kepada Kompas.com di lokasi bencana Tapanuli, Sumatera, Selasa (6/1/2025).
Selain sebagai ruang refleksi, taman monumen tersebut juga dirancang menjadi sarana edukasi bagi anak-anak, generasi muda, serta masyarakat Tapanuli secara luas.
Melalui fasilitas edukatif, pengunjung diharapkan terdorong untuk terlibat aktif dalam pengawasan dan pelestarian hutan serta lingkungan di sekitarnya.
Lebih lanjut, Rahmat menyampaikan bahwa taman monumen ini juga diproyeksikan menjadi destinasi edu-wisata yang produktif.
Keberadaannya diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi dan sosial, baik bagi masyarakat korban bencana, pemerintah daerah, maupun warga sekitar.
Tak hanya itu, taman monumen bencana antropogenik ini juga akan difungsikan sebagai salah satu pusat penelitian lingkungan di wilayah Tapanuli. Para peneliti dan akademisi dapat memanfaatkan kawasan tersebut untuk mengkaji dampak kerusakan lingkungan serta merumuskan langkah-langkah pencegahan bencana serupa di masa depan.
“Monumen ini bukan sekadar simbol duka, tetapi ruang pembelajaran dan perlawanan terhadap kejahatan lingkungan. Kami berharap masyarakat dan pemerintah daerah dapat bersama-sama mendukung inisiatif ini,” kata Rahmat.
Rencana pembangunan Taman Monumen Bencana Antropogenik Tapanuli ini menjadi bagian dari upaya PBNU dan elemen masyarakat sipil untuk mendorong kesadaran ekologis, sekaligus memperkuat komitmen perlindungan lingkungan hidup di Indonesia.
Baca juga: PBNU Gelar Doa dan Ajak Masyarakat Bersatu Bantu Penyintas Bencana
Sementara itu, Kepala Desa Tolang Julu, Fuad Arrazy Daulay, menjelaskan, banjir bandang yang menerjang wilayahnya mengakibatkan sekitar 55 rumah warga hilang.
Kini, warga yang rumahnya hancur masih berada di posko pengungsian yang dibuatnya bersama TNI dan Polri.
“Saat ini sedang pengerukan dan pembersihan dari hulu sampai hilir. Relokasi hampir oke dan rumahnya 87 rumah,” ujar Fuad di lokasi yang sama.
Terkait pendirian taman monumen Bencana Tapanuli, Fuad menyatakan sebagian warga sangat mendukungnya demi mengingat kejadian banjir bandang,
“Ada yang sangat mendukung untuk mengingat kejadian banjir bandang, dan ada sebagian versi membuat anak-anak trauma,” ujarnya,
Fuad berharap ke depan jangan ada perambahan hutan di lokasinya.
“Dan jangan lah masuk perusahaan di wilayah kita, mengingat itu pasti merusak lingkungan kita,” katanya.
Terkait kekhawatiran bahwa taman monumen bencana menyebabkan warga trauma, Rahmat menyatakan bahwa di era digital ini akan sulit untuk menyembunyikan pengalaman bencana.
"Kita tidak sembunyikan pengalaman bencana karena semua sudah tersimpan di jejak digital, Anak-anak Gen A dan Gen Z ini akan sangat mudah untuk mencari data," katanya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang