Penulis
KOMPAS.com - Kebahagiaan sering diartikan memiliki banyak hal dalam hidup, seperti harta, jabatan, atau pencapaian-pencapaian bersifat duniawi lainnya. Namun ketika semua sudah didapatkan, ternyata semua itu tidak selalu membawa kepada kebahagiaan hakiki.
Banyak orang kemudian menyadari bahwa kebahagiaan bukan terletak pada apa yang sudah dikumpulkan, tetapi justru pada apa yang dibagikan. Berbagi bukan hanya sekedar memberi, ia mempunyai makna mendalam dalam kehidupan.
Dengan berbagi, seseorang akan memperoleh kebahagiaan tertinggi. Senyuman orang-orang yang membutuhkan akan membuat orang yang berbagi merasakan kebahagiaan mendalam dan rasa berharga.
Baca juga: Sedekah atau Bayar Utang, Mana yang Lebih Utama Menurut Islam?
Berbagi menjadi salah satu ajaran utama dalam Islam. Kegiatan berbagi bisa dilakukan dengan cara bersedekah, menunaikan zakat, infak, memberikan bantuan kepada yang membutuhkan, berbagi makanan, bahkan tersenyum juga bagian dari berbagi.
Rasulullah SAW memerintahkan Bilal bin Rabah untuk berbagi dengan cara menginfakkan hartanya.
أَنْفِقْ بِلاَل ! وَ لاَ تَخْشَ مِنْ ذِيْ العَرْشِ إِقْلاَلاً
Artinya: “Berinfaklah wahai Bilal! Janganlah takut hartamu itu berkurang karena ada Allah yang memiliki ‘Arsy (Yang Maha Mencukupi).” (H.R. Al Bazzar dan Ath Thabrani).
Baca juga: Doa Agar Sedekah Membawa Berkah Lengkap dengan Terjemahannya
Sementara dalam hadits lain disebutkan bahwa berbagi tidak harus dengan sesuatu yang mahal atau mewah. Cukup melebihkan masakan dan dibagikan kepada tetangga sudah termasuk berbagi.
إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا وَتَعَاهَدْ جِـيْرَانَكَ
Artinya: “Jika engkau memasak kuah, maka perbanyaklah airnya dan perhatikanlah tetangga-tetanggamu.” (H.R. Muslim).
Makna dari perhatikanlah tetanggamu adalah membagikan masakan. Tentu dalam konteks dunia modern saat ini, harus diperhatikan masakan apa yang diberikan kepada tetangga sehingga tidak menimbulkan fitnah dan prasangka buruk.
Baca juga: Kumpulan Hadits Tentang Sedekah dan Keutamaannya Menurut Islam
Mengapa berbagi bisa menjadi sumber kebahagiaan tertinggi? Orang yang mau berbagi berarti ia telah mengorbankan sifat egois, sifat tamak atau serakah, sifat kikir atau pelit, dan sifat-sifat buruk lainnya dalam diri.
Ketika sifat-sifat buruk dikorbankan, berarti hati menjadi terbebas dari penyakit hati yang melingkupinya. Sifat-sifat kebaikan juga akan tumbuh, seperti sifat kasih sayang, bahagia melihat orang lain bahagia, dan sifat-sifat lainnya.
Sifat buruk yang hilang akan digantikan dengan sifat baik. Maka tidak ada yang bisa menghambat munculnya kebahagiaan dari dasar hati. Kebahagiaan ketika melihat orang lain bahagia lebih bermakna dibandingkan dengan bahagia yang dicapai secara pribadi.
Dengan demikian, maka hidup akan terasa indah, penuh warna dan makna. Itulah kenikmatan hakiki dalam hidup.
Baca juga: Islam Ajarkan Jangan Menunggu Sempurna untuk Berbuat Baik
Berbagi mempunyai banyak manfaat dalam kehidupan, diantaranya adalah:
1. Menambah kasih sayang dan kuatnya ikatan persaudaraan sesama manusia;
2. Menghadirkan kebahagiaan tertinggi dalam hidup sehingga hidup terasa lebih indah dan bermakna;
3. Diterima di lingkungan sosial dan mendapat penghargaan dari masyarakat dan lingkungan ;
4. Menumbuhkan rasa syukur dalam kehidupan atas karunia yang diberikan;
5. Menambah rezeki menjadi semakin berlimpah dan penuh berkah;
6. Mendapat ridha Allah SWT dan diberikan keselamatna hidup di dunia dan akhirat.
Baca juga: Kisah Sumur Raumah: Sedekah Abadi Utsman Bin Affan Hingga Saat Ini
Berbagi adalah seni menikmati hidup dengan indah. Berbagi akan menghadirkan kebahagiaan tertinggi dalam kehidupan. Melihat orang lain tersenyum akan membuat kebahagiaan yang berlipat-lipat.
Tidak ada rugi untuk terus berbagi. Yang ada justru manfaat yang semakin kuat dan berlipat. Hidup akan menjadi lebih indah dan bermakna.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang