Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Sumur Raumah: Sedekah Abadi Utsman Bin Affan Hingga Saat Ini

Kompas.com, 28 November 2025, 10:28 WIB
Agus Susanto

Penulis

KOMPAS.com - Sumur menjadi sumber air yang penting bagi manusia. Air dari sumur digunakan untuk keperluan sehari-hari, baik untuk minum, mencuci, mandi, maupun keperluan lainnya.

Sedekah sumur untuk keperluan orang banyak termasuk sedekah sebaik-baiknya dan dihitung sebagai sedekah jariyah. Mengenai keutamaan sedekah sumur atau sedekah air, disampaikan Nabi Muhammad SAW:

Baca juga: Kisah Salman Al Farisi: Perjalanan Mencari Kebenaran

أَىُّ الصَّدَقَةِ أَعْجَبُ إِلَيْكَ قَالَ الْمَاءُ 

Artinya: “Sedekah apa yang paling engkau sukai.” Jawab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sedekah air.” (H.R. Abu Daud, An Nasai, dan Ibnu Majah).

Salah satu kisah sedekah air paling populer terjadi di masa Nabi Muhammad SAW, yaitu ketika Utsman bin Affan membeli sebuah sumur di Madinah. Kisah ini dikutip dari buku 150 Kisah Utsman bin Affan karya Ahmad Abdul Al Thahthawi dan buku Utsman bin Affan karya Muhammad Husein Haikal.

Versi Pertama Utsman bin Affan Membeli Sumur

Saat berhijrah ke Madinah, umat Islam membutuhkan air. Untuk mendapatkan air, umat Islam membeli dari seorang penduduk Madinah.

Kisah pembelian sumur ini ada dua versi. Pertama, sumur tersebut milik seseorang dari Bani Ghifar. Pemilik tersebut menjual air itu seharga satu mud (sekitar 6 ons beras) untuk satu qirba' (wadah dari kulit untuk menyimpan air).

Baca juga: Kisah Sedekah Dua Potong Roti: Jangan Remehkan Amalan Sederhana

Setelah Rasulullah SAW hijrah, Rasulullah SAW menjumpai pemilik sumur tersebut dan menawarkan agar sumur itu diberikan kepada umat Islam dengan balasan mata air di surga. Pemilik sumur itu menolaknya karena itu merupakan satu-satunya sumber penghasilannya.

Utsman bin Affan kemudian berdiskusi dengan pemilik sumur. Akhirnya terjadi kesepakatan, sumur tersebut dijual dengan harga 35.000 dirham. Setelah membeli sumur, Utsman bin Affan menemui Rasulullah SAW.

Utsman bin Affan menanyakan apakah janji untuk mendapatkan mata air di surga apabila memberikan sumur tersebut masih berlaku. Rasulullah SAW menjawab 'ya'. Akhirnya Utsman bin affan menyedekahkan sumur itu untuk umat Islam.

Versi Kedua Utsman bin Affan Membeli Sumur

Versi kisah kedua Utsman bin Affan membeli sumur dari orang Yahudi. Kisah ini berawal ketika umat Islam membutuhkan air untuk keperluan sehari-hari. Untuk mendapatkan air, umat Islam harus membeli air dari sumur orang Yahudi dengan harga yang cukup mahal.

Utsman bin Affan kemudian menawar sumur tersebut. Orang Yahudi pemilik sumur itu tidak mau menjual sumur itu sepenuhnya. Ia hanya menjual separuh sumur seharga 12.000 dirham.

Baca juga: Kisah Sedekah Saat Susah Diganti Harta Melimpah Ruah

Maksud menjual sumur setengahnya adalah sehari untuk umat Islam dan sehari untuk orang Yahudi tersebut. Saat giliran Utsman bin Affan, ia menggratiskan sumur itu untuk diambil airnya.

Ketika giliran orang Yahudi, ia menjual airnya namun tidak ada yang membeli karena umat Islam sudah mencukupi kebutuhan air sehari sebelumnya. Orang Yahudi pemilik sumur itu akhirnya putus asa karena airnya tidak laku lagi.

Ia kemudian menawarkan kepada Utsman bin Affan untuk membeli sumur itu sepenuhnya. Akhirnya sumur itu dimiliki Utsman bin Affan sepenuhnya dengan tambahan uang 8.000 dirham.

Sumur tersebut diwakafkan untuk kepentingan umat Islam.

Baca juga: Sedekah Air Membuat Pahala Terus Mengalir Lengkap dengan Dalilnya

Sedekah Abadi Utsman bin Affan

Sumur yang dibeli Utsman bin Affan itu dinamakan sumur Raumah. Letaknya di Hilir Wadi Al 'Aqiq, Madinah. Jaraknya dari Masjid Nabawi kurang lebih 3,5 km.

Sumur raumah saat ini masih dimanfaatkan oleh masyarakat sehingga pahala dari sumur itu terus mengalir untuk Utsman bin Affan.

Kalau dihitung sampai saat ini, usia sumur tersebut kurang lebih 1400 tahun. Dan selama itu, Utsman bin Affan tetap mendapatkan pahala dari sumur tersebut.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Hukum Makmum Masbuk Menjadi Imam untuk Jamaah Baru, Apakah Boleh? Ini Penjelasannya
Hukum Makmum Masbuk Menjadi Imam untuk Jamaah Baru, Apakah Boleh? Ini Penjelasannya
Aktual
BPKH Investasikan 70 Persen Dana Haji ke Sukuk Negara
BPKH Investasikan 70 Persen Dana Haji ke Sukuk Negara
Aktual
Kisah Abdurrahman bin Auf, Saudagar Kaya yang Tak Silau oleh Harta
Kisah Abdurrahman bin Auf, Saudagar Kaya yang Tak Silau oleh Harta
Aktual
Jadwal Libur Lebaran 2027: Potensi Libur Panjang 10 Hari, Ini Rangkaian Tanggal Merah dan Cuti Bersama
Jadwal Libur Lebaran 2027: Potensi Libur Panjang 10 Hari, Ini Rangkaian Tanggal Merah dan Cuti Bersama
Aktual
H20 2026 Diikuti 48 Negara, BPJPH Dorong Indonesia Jadi Pusat Halal Dunia
H20 2026 Diikuti 48 Negara, BPJPH Dorong Indonesia Jadi Pusat Halal Dunia
Aktual
Bukan Bersamaan, Ini Cara Mengikuti Gerakan Imam dalam Shalat Berjamaah yang Makmum Harus Tahu
Bukan Bersamaan, Ini Cara Mengikuti Gerakan Imam dalam Shalat Berjamaah yang Makmum Harus Tahu
Aktual
Muazin Masjidil Haram Sheikh Ibrahim Al Madani Wafat, Rekaman Adzannya Beredar di Media Sosial
Muazin Masjidil Haram Sheikh Ibrahim Al Madani Wafat, Rekaman Adzannya Beredar di Media Sosial
Aktual
Sheikh Ibrahim Al Madani, Muazin Masjidil Haram, Wafat Setelah Kumandangkan Adzan Subuh
Sheikh Ibrahim Al Madani, Muazin Masjidil Haram, Wafat Setelah Kumandangkan Adzan Subuh
Aktual
Mengapa Rasulullah Bersiwak Sebelum Shalat? Ini Hikmahnya
Mengapa Rasulullah Bersiwak Sebelum Shalat? Ini Hikmahnya
Aktual
BPKH Kelola Dana Haji Rp 184 Triliun, 70 Persen Ditempatkan di Sukuk Negara
BPKH Kelola Dana Haji Rp 184 Triliun, 70 Persen Ditempatkan di Sukuk Negara
Aktual
Mengapa Rasulullah Menganjurkan Tidur Miring ke Kanan? Ini Hikmahnya
Mengapa Rasulullah Menganjurkan Tidur Miring ke Kanan? Ini Hikmahnya
Aktual
Apa Bedanya Sabar, Ridha, dan Tawakal? Jangan Sampai Tertukar
Apa Bedanya Sabar, Ridha, dan Tawakal? Jangan Sampai Tertukar
Aktual
Jelang Wajib Halal Produk Sandang, Begini Tips Memilih Baju Anak
Jelang Wajib Halal Produk Sandang, Begini Tips Memilih Baju Anak
Aktual
Ketegasan Kiai Miftah dan Masa Depan NU di Abad Kedua
Ketegasan Kiai Miftah dan Masa Depan NU di Abad Kedua
Aktual
Bolehkah Minum Sambil Berdiri? Ini Dalil dan Penjelasan Ulama
Bolehkah Minum Sambil Berdiri? Ini Dalil dan Penjelasan Ulama
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar