Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ketika Wirid Menggema, Sumpah Tapanuli Mengikat Nurani

Kompas.com, 12 Januari 2026, 07:03 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Di tepi sungai yang masih membawa sisa murka alam, ratusan warga duduk bersila di atas terpal lusuh.

Sejumlah tokoh masyarakat, termasuk tokoh Tapanuli, sekaligus Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Rahmat Hidayat Pulungan, hadir di tengah para korban.

Lumpur belum sepenuhnya mengering, kayu-kayu gelondongan masih berserakkan, dan udara lembab menyimpan bau duka.

Namun Kamis siang itu, di Desa Hutaraja, Kecamatan Muara Batangtoru, Tapanuli Selatan, ada sesuatu yang perlahan dibangkitkan kembali, ingatan, nurani, dan kesadaran akan peradaban.

Doa dan wirid menggema lebih dulu. Lafal-lafal itu dilantunkan pelan, seolah memberi ruang bagi setiap orang untuk menata kembali batin yang tercerai-berai oleh bencana.

Wirid, Sumpah, dan Ingatan yang Dipanggil Kembali

Wirid bukan sekadar pembuka acara. Ia menjadi jeda reflektif, sebuah perenungan tentang makna hidup.

“Wirid berdoa itu kan sebuah perenungan, sebagai pertanyaan kita ini hidup tujuannya apa sih? Kita hidup ini untuk siapa?” ujar Rahmat. 

Dari perenungan itulah sumpah kemudian dihadirkan. Bukan deklarasi, bukan pula pernyataan sikap. Rahmat memilih sumpah karena ia percaya hanya ikrar sakral yang mampu mengikat manusia melampaui kepentingan sesaat.

“Saya perhatikan selama 43 hari di Tapanuli ini, yang salah itu bukan cuma pemerintah pusat, pemerintah daerah salah, pejabat salah, aparat salah, kepala daerah salah, masyarakat juga salah karena membiarkan itu semua.” katanya.

Baca juga: Wasekjen PBNU Soroti Akar Banjir Bandang Tapanuli, Pemerintah Diminta Bekerja Paralel

Dalam situasi semacam itu, menurut Rahmat, kata-kata formal mudah diucapkan dan mudah dilupakan. Karena itu ia merasa perlu “memaksa” semua pihak untuk mengikat diri pada janji yang lebih dalam.

“Saya mikir, gimana ya cara menyelesaikan masalah ini tapi mengunci semuanya, nah saya harus memaksa mereka bersumpah. Karena sumpah itu sesuatu yang sangat sakral dengan langit dan bumi.” ungkpanya.

Bagi masyarakat Tapanuli, sumpah tidak dipandang sekadar simbol, melainkan sebagai fondasi etik dan spiritual yang berfungsi sebagai perjanjian suci antara manusia dengan Yang Maha Kuasa serta para leluhur, sekaligus diyakini mampu mengaktifkan kembali sisi terdalam manusia, seperti hati nurani, akal sehat, dan kesadaran transenden, sebagai penuntun dalam menjalani kehidupan.

Pada hakikatnya manusia punya hal-hal yang sangat dalam dan abstrak. Di situlah ada nurani, ada akal sehat, serta ada hubungan dengan Tuhan dan leluhurnya.

Di hadapan sungai yang menjadi saksi banjir bandang, sumpah Tapanuli pun diikrarkan. Laki-laki, perempuan, pemuda hingga anak-anak berkumpul bersama, melafalkan janji dalam bahasa ibu dan bahasa Indonesia.

Kalimatnya sederhana, tetapi mengandung beban sejarah dan masa depan, menjaga tanah leluhur, memajukan sumber daya manusia, dan memastikan keberlanjutan Tapanuli bagi generasi mendatang.

Rahmat menegaskan bahwa sumpah tersebut harus terus dihidupkan dan dijaga keberlangsungannya, karena sumpah diyakini akan selalu melekat dalam ingatan kolektif masyarakat dan dihayati secara berulang dalam kehidupan sehari-hari, baik dari hari ke hari maupun dari waktu ke waktu.

“Kalau nggak dibuat sumpah, nanti mereka lupa. Waktu di bawah mereka ingat, begitu punya jabatan, mereka lupa.” tegasnya.

Baca juga: Usai Wirid, Korban Banjir Bandang Ikrarkan Sumpah Tapanuli

 Dalam pandangannya, bencana besar yang terjadi hari ini adalah momentum untuk mengembalikan ingatan kolektif. Bencana-bencana terbesar selama 100 tahun ini harus menjadi pengingat masa lalu dan pijakan membangun masa depan.

Dalam adat Tapanuli dan banyak wilayah Sumatra, sumpah dipandang sebagai ikatan paling sakral. Melanggarnya diyakini membawa konsekuensi.

“Sumpah itu paling sakral, kalau dilanggar, dia akan kena karma dan musibah terus. Itu kekuatan etik dan spiritual yang selama ini jadi pegangan orang-orang Tapanuli.” kata Rahmat.

Karena itu, ia mendorong agar sumpah tidak berhenti sebagai seremoni semata, melainkan terus digaungkan, dibaca, dan dihayati secara kolektif oleh seluruh elemen masyarakat Tapanuli dari utara, tengah, selatan, hingga timur, sebagai pedoman moral bersama dalam menjaga tanah dan peradaban mereka.

Ketika Tanah Emas Menuntut Kesadaran Peradaban

Bagi Rahmat, apa yang terjadi di Tapanuli bukan sekadar krisis lingkungan, melainkan krisis peradaban.

“Ini bukan cuma kesadaran ekologis, ini kesadaran peradaban,” tegasnya.

Ia menyinggung bahwa kekayaan yang dikumpulkan melalui cara-cara yang keliru pada akhirnya dapat lenyap seketika, menjadi pelajaran pahit bahwa harta yang tidak dibangun di atas etika dan tanggung jawab hanya akan berujung pada kehancuran.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa sikap masa bodoh terhadap kerusakan lingkungan membuat semua orang menjadi korban.

“Dulu kamu nggak melakukan kesalahan, tapi kamu membiarkan orang berbuat salah. Ketika bencana datang, kamu kena juga.”

Tapanuli, dalam gambaran Rahmat, adalah “tanah emas”. Kaya potensi, tetapi sarat risiko.

“Tapanuli itu surga emas di Sumatra, tapi secara geologis ada lempengan, ada gunung aktif, ada sungai-sungai besar. Godaannya besar.” kata Rahmat.

Dalam metaforanya, Tuhan memberi emas sekaligus alarm bencana. Risiko yang telah dihitung secara pasti. Di sinilah ilmu dan kecerdasan diuji, apakah dipakai untuk menahan godaan atau justru untuk merusak.

Baca juga: Wasekjen PBNU Gagas Taman Monumen Bencana Antropogenik di Tapanuli

Rahmat mengingat kembali kehidupan orang-orang tua dahulu yang dijalaninya secara seimbang, di mana mereka menghabiskan waktu dari pagi hingga sore untuk berkebun, lalu kembali untuk beribadah, makan, dan beristirahat, tanpa dorongan untuk mengejar kekayaan secara berlebihan. Ironisnya keseimbangan tersebut mulai rusak ketika materialisme masuk.

“Kalau nggak kaya, nggak dihormati. Kalau nggak jadi pejabat, nggak dihormati. Itu racun yang merusak budaya.”

Menjelang akhir acara, nama-nama besar Tapanuli dipanggil, Adam Malik, Ahmad Haris Nasution, Syekh Mustofa Nasution, Lafran Pane, Akbar Tandjung, hingga M Panggabean.

Penyebutan itu bukan sekadar penghormatan, melainkan pengingat bahwa Tapanuli pernah melahirkan peradaban besar yang berpijak pada etika, ilmu, dan keseimbangan.

Di atas tanah yang masih basah oleh luka, sumpah itu menggema sebagai penanda. Bahwa Tapanuli tidak hanya berduka, tetapi juga berjanji.

Bahwa dari puing bencana, kesadaran bisa tumbuh kembali dengan sumpah sebagai jangkar ingatan dan dengan peradaban sebagai tujuan.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Terkini Lainnya
Doa Ketika Angin Kencang Datang agar Terhindar dari Bahaya
Doa Ketika Angin Kencang Datang agar Terhindar dari Bahaya
Doa dan Niat
Peringatan Isra Mi'raj 2026: Jadwal, Makna, dan Pesan Spiritual bagi Umat Islam
Peringatan Isra Mi'raj 2026: Jadwal, Makna, dan Pesan Spiritual bagi Umat Islam
Aktual
Doa Saat Hujan Deras Dikhawatirkan Banjir, Ini Bacaan dan Artinya
Doa Saat Hujan Deras Dikhawatirkan Banjir, Ini Bacaan dan Artinya
Doa dan Niat
Ketika Wirid Menggema, Sumpah Tapanuli Mengikat Nurani
Ketika Wirid Menggema, Sumpah Tapanuli Mengikat Nurani
Aktual
Manfaat Puasa Senin Kamis bagi Tubuh dan Jiwa: Panduan Lengkap & Dalilnya
Manfaat Puasa Senin Kamis bagi Tubuh dan Jiwa: Panduan Lengkap & Dalilnya
Doa dan Niat
Doa Sholat Tahajud Lengkap Arab, Latin, dan Cara Mengamalkannya
Doa Sholat Tahajud Lengkap Arab, Latin, dan Cara Mengamalkannya
Doa dan Niat
Menag Tinjau Progres Pembangunan Rumah Ibadah Lintas Agama di IKN
Menag Tinjau Progres Pembangunan Rumah Ibadah Lintas Agama di IKN
Aktual
Petugas Haji 2026 Resmi Ditempa Semi Militer 20 Hari di Asrama Haji Jakarta
Petugas Haji 2026 Resmi Ditempa Semi Militer 20 Hari di Asrama Haji Jakarta
Aktual
Nusuk Hajj Dibuka, Saudi Mulai Pemilihan Paket Haji 2026 untuk Program Haji Langsung
Nusuk Hajj Dibuka, Saudi Mulai Pemilihan Paket Haji 2026 untuk Program Haji Langsung
Aktual
Panduan Lengkap Sholat Dhuha: Waktu, Niat, Tata Cara, Doa, dan Keutamaannya
Panduan Lengkap Sholat Dhuha: Waktu, Niat, Tata Cara, Doa, dan Keutamaannya
Doa dan Niat
ISNU Salurkan Bantuan UKT untuk 51 Mahasiswa Korban Banjir Aceh Tamiang
ISNU Salurkan Bantuan UKT untuk 51 Mahasiswa Korban Banjir Aceh Tamiang
Aktual
Dari Masjid Al-Aqsa ke Langit Ketujuh, Ini Tempat Nabi Muhammad SAW Naik Saat Isra Miraj
Dari Masjid Al-Aqsa ke Langit Ketujuh, Ini Tempat Nabi Muhammad SAW Naik Saat Isra Miraj
Aktual
KPK Targetkan Penahanan Gus Yaqut dan GP Ansor Hormati Proses Hukum
KPK Targetkan Penahanan Gus Yaqut dan GP Ansor Hormati Proses Hukum
Aktual
7 PTKIN Tembus 100 Besar Kampus Nasional Versi Webometrics Awal 2026
7 PTKIN Tembus 100 Besar Kampus Nasional Versi Webometrics Awal 2026
Aktual
Petugas Haji Dilatih 20 Hari, Kemenhaj Tekankan Fisik dan Mental Pelayan Jamaah
Petugas Haji Dilatih 20 Hari, Kemenhaj Tekankan Fisik dan Mental Pelayan Jamaah
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com