Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

MUI Kutuk Serangan Israel-AS ke Iran, Jangan Sentuh Dua Kota Suci

Kompas.com, 3 Maret 2026, 18:53 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cholil Nafis menyampaikan sikap tegas terkait eskalasi konflik antara Israel–Amerika Serikat dan Iran yang saat ini memanas di kawasan Timur Tengah.

MUI mengutuk serangan yang dilakukan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran. Namun, MUI juga mengingatkan agar respons balasan tidak meluas hingga memicu konflik kawasan.

“Ya tentu kita menginginkan dunia itu damai karena masing-masing negara berdaulat maka kita mengutuk penyerangan Israel Amerika kepada Iran itu, kita memahami Iran itu kalau marah karena ya pimpinannya dibunuh, tapi pesan kami jangan sampai melampaui batas umpamanya pada negara tetangganya jangan sampai melahirkan permusuhan,” ujar Cholil Nafis, di Kantor Pusat MUI, Jakarta, Selasa (3/3/2026).

Baca juga: MUI Dukung Prabowo Jadi Juru Damai, Tapi Tetap Pertimbangkan Bangsa

Ia menambahkan, serangan balasan terhadap pangkalan militer pihak penyerang masih bisa dipahami dalam konteks pertahanan. Namun, ia mengingatkan agar konflik tidak berkembang menjadi perang yang lebih luas.

“Jangan sampai ini menjadi konflik baru di kawasan Timur Tengah,” katanya.

Cholil  Nafis juga secara khusus mengingatkan agar eskalasi konflik tidak sampai menyentuh wilayah suci umat Islam.

“Kami pesankan juga hati-hati juga kepada Iran agar tidak sampai mengganggu dua kota suci kami Mekkah dan Madinah,” tegasnya.

Baca juga: MUI Masih Kaji Nisab Zakat 2026 Berbasis Emas 14 Karat Versi Baznas

Menurut dia, jika dua kota suci tersebut terdampak, hal itu berpotensi menimbulkan konflik yang lebih besar dan mengguncang ukhuwah Islamiyah.

“Apalagi berkenaan dengan dua kota suci, kalau itu sampai kena itu akan mengakibatkan banyak konflik dan mungkin menimbulkan goncangan terhadap ukhuwah kita,” ungkapnya.

Selain itu, MUI mendukung langkah Presiden Indonesia apabila mengambil peran sebagai juru damai dalam konflik tersebut.

“Kami dukung karena dalam Islam itu juru damai itu tinggi nilainya, itu adalah kebaikan yang tinggi,” ujar Cholil.

Namun, ia mengingatkan agar upaya diplomasi tetap berada dalam koridor politik luar negeri bebas aktif serta mempertimbangkan keamanan dalam negeri.

Baca juga: AS–Israel Serang Iran, MUI Keluarkan 10 Tausiyah dan Serukan Qunut Nazilah

Terkait dampak konflik, Cholil menilai Indonesia tetap akan terdampak secara ekonomi apabila eskalasi berlanjut, terutama jika jalur strategis seperti Selat Hormuz terganggu.

“Di dalam negeri ya pastilah kalau ekonomi pasti terdampak ketika Selat Hormuz itu ditutup harga minyak naik, pasti di sini kan membutuhkan transportasi,” katanya.

Meski demikian, ia berharap dampak tersebut tidak berkembang menjadi persoalan keamanan di dalam negeri.

“Mari kita sebarkan perdamaian,” harapnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com