Editor
KOMPAS.com — Isra Mi’raj merupakan salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Islam.
Peristiwa ini dikenal sebagai perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW dalam satu malam, yang menjadi titik penting bagi umat Islam karena berkaitan erat dengan turunnya perintah shalat lima waktu.
Lantas, apa itu Isra Mi’raj, bagaimana penjelasannya dalam Al-Qur’an, seperti apa ringkasan kisahnya, dan apa hikmah yang bisa dipetik umat Islam?
Baca juga: Isra Miraj Nabi Muhammad SAW 2026: Sejarah Peristiwa dan Makna Pensyariatan Sholat
Berikut ulasan lengkapnya, dilansir dari laman Baznas.
Secara sederhana, Isra Mi’raj terdiri dari dua peristiwa yang saling berkaitan:
Isra adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW pada malam hari dari Masjidil Haram (Mekkah) menuju Masjidil Aqsa (Yerusalem).
Mi’raj adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW naik ke langit hingga mencapai Sidratul Muntaha, untuk menerima perintah langsung dari Allah SWT.
Karena itu, Isra Mi’raj tidak hanya dipahami sebagai perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual yang sarat makna tentang keimanan, ketakwaan, dan kedekatan seorang hamba kepada Allah SWT.
Dalam kajian keislaman, istilah Isra dan Mi’raj umumnya dimaknai sebagai berikut:
Isra (secara bahasa) berkaitan dengan perjalanan di malam hari.
Mi’raj bermakna “naik” atau “pendakian”, merujuk pada perjalanan Rasulullah SAW menuju langit.
Dua istilah ini kemudian menjadi satu rangkaian cerita besar yang dikenal umat Islam sebagai peristiwa Isra Mi’raj.
Baca juga: Isra Miraj Menjadi Ujian Terbesar Bagi Keimanan Umat Islam
Dasar utama peristiwa Isra disebutkan dalam Surah Al-Isra ayat 1, yang menjelaskan bahwa Allah SWT memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad SAW) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, untuk diperlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya.
Ayat ini menjadi landasan kuat bahwa Isra Mi’raj bukan sekadar kisah, melainkan peristiwa penting dalam ajaran Islam.
Dalam ringkasan yang umum dikenal, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan Isra Mi’raj dalam satu malam. Dalam sejumlah penjelasan ulama, perjalanan ini disebut terjadi dengan bimbingan Malaikat Jibril.
Bagian Isra menceritakan perjalanan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa. Dalam banyak kisah yang berkembang di tengah umat, Rasulullah SAW disebut melakukan perjalanan ini dengan kendaraan bernama Buraq.
Sebagian ulama menjelaskan peristiwa ini terjadi dalam keadaan Rasulullah SAW terjaga (bukan mimpi). Namun, ada pula pembahasan dalam khazanah keilmuan Islam tentang bagaimana memahami bentuk peristiwa ini. Perbedaan penekanan tersebut menunjukkan pentingnya merujuk pada penjelasan ulama dan sumber-sumber yang kredibel.
Singgah di beberapa tempat (berdasarkan sebagian riwayat)
Dalam sebagian penuturan, Rasulullah SAW bersama Malaikat Jibril disebut singgah di beberapa lokasi dan melaksanakan shalat dua rakaat, di antaranya:
Penting dicatat, detail “singgah di beberapa tempat” ini sering muncul dalam uraian ceramah dan kitab-kitab tertentu. Karena jalur riwayatnya dapat beragam, penyajiannya sebaiknya tetap disertai kehati-hatian: fokus pada inti peristiwa yang disepakati, sambil menyebutkan bahwa rincian tersebut berasal dari sebagian riwayat/penjelasan ulama.
Baca juga: Benarkah Isra Miraj Terjadi Tanggal 27 Rajab? Berikut Pendapat Para Ulama
Dalam kisah Isra Mi’raj yang populer, Rasulullah SAW disebut dihadapkan pada pilihan antara minuman yang melambangkan kebaikan dan keburukan. Nabi Muhammad SAW memilih susu, yang kerap dimaknai sebagai simbol fitrah, kesucian, dan jalan kebenaran.
Pesan yang sering ditarik dari bagian ini adalah bahwa Islam membimbing umatnya untuk memilih jalan yang lurus, bersih, dan diridhai Allah SWT.
Setelah sampai di Masjidil Aqsa dan dalam beberapa riwayat disebut melaksanakan sholat bersama para nabi, Rasulullah SAW melanjutkan perjalanan Mi’raj bersama Malaikat Jibril menuju Sidratul Muntaha.
Dalam kisah yang banyak dikenal umat, Rasulullah SAW melewati tujuh lapis langit dan bertemu dengan para nabi terdahulu, antara lain:
Langit pertama: Nabi Adam AS
Langit kedua: Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS
Langit ketiga: Nabi Yusuf AS
Langit keempat: Nabi Idris AS
Langit kelima: Nabi Harun AS
Langit keenam: Nabi Musa AS
Langit ketujuh: Nabi Ibrahim AS
Dalam rangkaian Mi’raj, juga dikenal istilah Baitul Makmur, yang disebut sebagai tempat ibadah para malaikat.
Sekali lagi, detail pertemuan-pertemuan ini umumnya dirujuk dari hadis dan penjelasan ulama. Karena itu, umat Islam dianjurkan membaca kisah Isra Mi’raj dari sumber yang tepercaya agar pemahamannya utuh.
Salah satu inti Isra Mi’raj yang paling utama bagi umat Islam adalah ditetapkannya sholat lima waktu dalam sehari semalam.
Sholat dalam Islam bukan sekadar rutinitas, melainkan ibadah yang menjadi:
Pengikat hubungan seorang hamba dengan Allah SWT, dilakukan secara konsisten di tengah kesibukan.
Pengingat arah hidup, agar manusia tetap berada di jalan kebaikan.
Sumber ketenangan, karena di dalam shalat ada doa, dzikir, dan penghambaan yang menenteramkan hati.
Latihan disiplin dan kejujuran, sebab shalat menuntut ketepatan waktu dan niat yang tulus.
Di sinilah Isra Mi’raj sering dipahami bukan hanya sebagai peristiwa sejarah, melainkan momentum penguatan iman dan pengingat bahwa ibadah adalah fondasi kehidupan seorang muslim.
Selain penetapan sholat lima waktu, Isra Mi’raj juga membawa banyak pelajaran, di antaranya:
1. Menguatkan keyakinan dan ketakwaan
Isra Mi’raj mengajarkan bahwa keimanan tidak hanya dibangun oleh hal-hal yang terlihat, tetapi juga oleh keyakinan kepada kebesaran Allah SWT.
2. Menjaga shalat sebagai prioritas
Karena shalat menjadi “oleh-oleh” paling utama dari Isra Mi’raj, maka ibadah ini seharusnya menjadi prioritas utama, bukan sekadar pelengkap.
3. Mengajak umat memilih kebaikan
Kisah pilihan susu yang melambangkan kesucian mengandung pesan moral: umat Islam didorong untuk memilih jalan yang baik, lurus, dan bermanfaat.
4. Menumbuhkan semangat memperbaiki diri
Peringatan Isra Mi’raj sering menjadi momen evaluasi: sudah sejauh mana shalat kita menjaga akhlak, menahan diri dari keburukan, dan membuat hidup lebih tertata.
Di kalender Hijriah, Isra Mi’raj diperingati setiap 27 Rajab.
Karena kalender Hijriah mengikuti peredaran bulan, tanggal peringatan Isra Mi’raj dalam kalender Masehi berubah setiap tahun.
27 Rajab tahun ini (2026) bertepatan dengan Jumat, 16 Januari 2026 (27 Rajab 1447 H).
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang