KOMPAS.com - Peristiwa Isra dan Mi’raj merupakan salah satu episode paling menentukan dalam sejarah kenabian Muhammad SAW.
Ia bukan sekadar kisah perjalanan spiritual, melainkan ujian keimanan yang memisahkan antara keyakinan yang berakar dan iman yang rapuh.
Di tengah gelombang cemoohan dan keraguan, tampil satu sosok yang justru semakin teguh: Abu Bakar.
Dari peristiwa inilah ia kelak dikenal dengan gelar Ash-Shiddiq, orang yang membenarkan tanpa ragu.
Isra dan Mi’raj sejak awal memang menantang nalar manusia. Bagaimana mungkin perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, bahkan hingga Sidratul Muntaha, ditempuh hanya dalam satu malam?
Bagi kaum Quraisy, kisah ini menjadi celah untuk meruntuhkan kredibilitas Rasulullah SAW. Mereka tidak hanya menertawakan, tetapi juga menyebarkan cerita itu dengan tujuan melemahkan iman para pengikut Nabi.
Namun, dalam pandangan ulama tafsir, Isra dan Mi’raj justru merupakan ayat Allah yang menuntut respons iman, bukan sekadar penalaran logis.
Dalam tafsir Mafâtîhul Ghaib karya Fakhruddin ar-Razi menegaskan bahwa ayat-ayat Allah akan menambah keimanan orang beriman, bukan menimbulkan keraguan.
Ketika kabar Isra Miraj sampai kepada Abu Bakar, orang-orang Quraisy berharap ia akan ragu, bahkan meninggalkan Muhammad.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Abu Bakar tidak terjebak pada perdebatan logika. Ia hanya bertanya satu hal, “Apakah Muhammad benar mengatakan demikian?”
Setelah dijawab “ya”, Abu Bakar pun berkata dengan keyakinan penuh, “Jika ia mengatakannya, maka ia benar.”
Dalam riwayat yang dikutip dari Tafsir wa Khawâthir al-Qur’an karya Syekh Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi, Abu Bakar menegaskan, “Aku telah membenarkannya tentang berita dari langit, maka bagaimana mungkin aku mendustakannya dalam perkara ini?”.
Sikap ini mencerminkan iman yang tidak bersyarat, iman yang berpijak pada kejujuran Rasulullah, bukan pada batas kemampuan akal manusia.
Baca juga: Peringatan Isra Miraj 2026: Jadwal, Makna, dan Pesan Spiritual bagi Umat Islam
Sejak peristiwa itu, Abu Bakar dikenal dengan gelar Ash-Shiddiq, yang berarti orang yang selalu membenarkan kebenaran Rasulullah. Gelar ini bukan pujian kosong, melainkan pengakuan atas konsistensi iman.
Dikutip dari buku 150 Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq karya Ahmad Abdul ‘Al Al-Thahtawi, dijelaskan bahwa gelar tersebut diberikan karena Abu Bakar tidak pernah ragu terhadap apa pun yang disampaikan Rasulullah, baik yang dapat dinalar maupun yang berada di luar jangkauan logika.
Keimanan Abu Bakar bukan iman reaktif, tetapi iman yang telah matang sejak awal dakwah Islam.
Ia adalah orang dewasa pertama yang memeluk Islam dan sejak itu tidak pernah meninggalkan Rasulullah dalam situasi apa pun.
Baca juga: Dari Masjid Al-Aqsa ke Langit Ketujuh, Ini Tempat Nabi Muhammad SAW Naik Saat Isra Miraj
Ketinggian iman Abu Bakar ditegaskan langsung oleh Rasulullah SAW. Dalam hadis yang diriwayatkan Umar bin Khattab, Rasulullah bersabda:
“Seandainya keimanan Abu Bakar ditimbang dengan keimanan penduduk bumi, maka keimanan Abu Bakar akan lebih berat.” Riwayat ini dikutip Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam Ad-Durr al-Mantsur fi Tafsir bil Ma’tsur.
Hadis ini tidak dimaksudkan merendahkan sahabat lain, melainkan menegaskan bahwa iman Abu Bakar mencapai tingkat keyakinan total, tanpa syarat dan tanpa keraguan.
Baca juga: Isra Miraj Nabi Muhammad SAW 2026: Sejarah Peristiwa dan Makna Pensyariatan Sholat
Kisah Abu Bakar dalam peristiwa Isra dan Mi’raj bukan sekadar cerita sejarah. Ia menjadi cermin bagi umat Islam hari ini, bahwa iman sejati tidak selalu menuntut penjelasan rasional atas segala hal. Ada wilayah keyakinan yang berdiri di atas kepercayaan penuh kepada kebenaran risalah.
Sebagaimana ditulis dalam buku Abu Bakar Ash-Shiddiq RA karya Abdul Syukur Al-Azizi, Abu Bakar mengajarkan bahwa iman bukan soal seberapa banyak kita bertanya, tetapi seberapa kuat kita mempercayai kebenaran ketika kebenaran itu datang dari sumber yang terpercaya.
Dari peristiwa itulah, Abu Bakar tidak hanya menjadi sahabat terdekat Rasulullah, tetapi juga simbol kejujuran iman yang tak tergoyahkan oleh logika, tekanan sosial, maupun ejekan zaman.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang