Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Isra Mi’raj hingga Ash-Shiddiq: Kisah Iman Tanpa Keraguan Abu Bakar

Kompas.com, 12 Januari 2026, 12:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Peristiwa Isra dan Mi’raj merupakan salah satu episode paling menentukan dalam sejarah kenabian Muhammad SAW.

Ia bukan sekadar kisah perjalanan spiritual, melainkan ujian keimanan yang memisahkan antara keyakinan yang berakar dan iman yang rapuh.

Di tengah gelombang cemoohan dan keraguan, tampil satu sosok yang justru semakin teguh: Abu Bakar.

Dari peristiwa inilah ia kelak dikenal dengan gelar Ash-Shiddiq, orang yang membenarkan tanpa ragu.

Isra dan Mi’raj sebagai Ujian Keimanan

Isra dan Mi’raj sejak awal memang menantang nalar manusia. Bagaimana mungkin perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, bahkan hingga Sidratul Muntaha, ditempuh hanya dalam satu malam?

Bagi kaum Quraisy, kisah ini menjadi celah untuk meruntuhkan kredibilitas Rasulullah SAW. Mereka tidak hanya menertawakan, tetapi juga menyebarkan cerita itu dengan tujuan melemahkan iman para pengikut Nabi.

Namun, dalam pandangan ulama tafsir, Isra dan Mi’raj justru merupakan ayat Allah yang menuntut respons iman, bukan sekadar penalaran logis.

Dalam tafsir Mafâtîhul Ghaib karya Fakhruddin ar-Razi menegaskan bahwa ayat-ayat Allah akan menambah keimanan orang beriman, bukan menimbulkan keraguan.

Abu Bakar: Iman yang Tidak Tawar-menawar

Ketika kabar Isra Miraj sampai kepada Abu Bakar, orang-orang Quraisy berharap ia akan ragu, bahkan meninggalkan Muhammad.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Abu Bakar tidak terjebak pada perdebatan logika. Ia hanya bertanya satu hal, “Apakah Muhammad benar mengatakan demikian?”

Setelah dijawab “ya”, Abu Bakar pun berkata dengan keyakinan penuh, “Jika ia mengatakannya, maka ia benar.”

Dalam riwayat yang dikutip dari Tafsir wa Khawâthir al-Qur’an karya Syekh Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi, Abu Bakar menegaskan, “Aku telah membenarkannya tentang berita dari langit, maka bagaimana mungkin aku mendustakannya dalam perkara ini?”.

Sikap ini mencerminkan iman yang tidak bersyarat, iman yang berpijak pada kejujuran Rasulullah, bukan pada batas kemampuan akal manusia.

Baca juga: Peringatan Isra Miraj 2026: Jadwal, Makna, dan Pesan Spiritual bagi Umat Islam

Makna Gelar Ash-Shiddiq

Sejak peristiwa itu, Abu Bakar dikenal dengan gelar Ash-Shiddiq, yang berarti orang yang selalu membenarkan kebenaran Rasulullah. Gelar ini bukan pujian kosong, melainkan pengakuan atas konsistensi iman.

Dikutip dari buku 150 Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq karya Ahmad Abdul ‘Al Al-Thahtawi, dijelaskan bahwa gelar tersebut diberikan karena Abu Bakar tidak pernah ragu terhadap apa pun yang disampaikan Rasulullah, baik yang dapat dinalar maupun yang berada di luar jangkauan logika.

Keimanan Abu Bakar bukan iman reaktif, tetapi iman yang telah matang sejak awal dakwah Islam.

Ia adalah orang dewasa pertama yang memeluk Islam dan sejak itu tidak pernah meninggalkan Rasulullah dalam situasi apa pun.

Baca juga: Dari Masjid Al-Aqsa ke Langit Ketujuh, Ini Tempat Nabi Muhammad SAW Naik Saat Isra Miraj

Keimanan yang Melebihi Timbangan Manusia

Ketinggian iman Abu Bakar ditegaskan langsung oleh Rasulullah SAW. Dalam hadis yang diriwayatkan Umar bin Khattab, Rasulullah bersabda:

“Seandainya keimanan Abu Bakar ditimbang dengan keimanan penduduk bumi, maka keimanan Abu Bakar akan lebih berat.” Riwayat ini dikutip Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam Ad-Durr al-Mantsur fi Tafsir bil Ma’tsur.

Hadis ini tidak dimaksudkan merendahkan sahabat lain, melainkan menegaskan bahwa iman Abu Bakar mencapai tingkat keyakinan total, tanpa syarat dan tanpa keraguan.

Baca juga: Isra Miraj Nabi Muhammad SAW 2026: Sejarah Peristiwa dan Makna Pensyariatan Sholat

Pelajaran Iman bagi Umat

Kisah Abu Bakar dalam peristiwa Isra dan Mi’raj bukan sekadar cerita sejarah. Ia menjadi cermin bagi umat Islam hari ini, bahwa iman sejati tidak selalu menuntut penjelasan rasional atas segala hal. Ada wilayah keyakinan yang berdiri di atas kepercayaan penuh kepada kebenaran risalah.

Sebagaimana ditulis dalam buku Abu Bakar Ash-Shiddiq RA karya Abdul Syukur Al-Azizi, Abu Bakar mengajarkan bahwa iman bukan soal seberapa banyak kita bertanya, tetapi seberapa kuat kita mempercayai kebenaran ketika kebenaran itu datang dari sumber yang terpercaya.

Dari peristiwa itulah, Abu Bakar tidak hanya menjadi sahabat terdekat Rasulullah, tetapi juga simbol kejujuran iman yang tak tergoyahkan oleh logika, tekanan sosial, maupun ejekan zaman.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com